Cara Mengenali Rumah Tangga Samawa, Ini 7 Ciri-Cirinya Menurut Ajaran Islam

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:46 WIB
Tanda-tanda rumah tangga yang Samawa atau sakinah, mawaddah dan rahmah (penuh ketentraman, berkasih sayang dan dirahmati Allah Taala), penting diketahui kaum Muslim. Foto ilustrasi/ist
Ciri-ciri rumah tangga yang Samawa atau sakinah, mawaddah dan rahmah (penuh ketentraman, berkasih sayang dan dirahmati Allah Ta'ala), penting diketahui kaum Muslim. Apa saja ciri-cirinya tersebut?

Saat ini marak terjadi pertikaian dan problematika rumah tangga digembor-gemborkan di ruang publik dan laman jagat maya. Kondisi ini sangat memprihatinkan, terutama kemungkinan jejak digital yang akan terus ada dan bisa memperkeruh kondisi keluarga.

Dalam Islam, banyak contoh yang bisa diteladani ketika menyelesaikan konflik rumah tangga tersebut. Bahkan, Islam juga memberikan solusi terbaik bagaimana menciptakan keluarga atau rumah tangga Islami ini, yakni keluarga Samawa (sakinah, mawaddah dan rahmah)

Dalam Kitab Uqudulujain karya Syeikh Nawawi Al-Bantani , ulama besar asal Banten yang berdakwah di Makkah menjelaskan ada beberapa kriteria atau tanda rumah tangga islami ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Dibentuk atas dasar Ibadah

Rumah tangga didirikan dalam rangka ibadah kepada Allah, dari proses pemilihan jodoh, pernikahan (akad nikah, walimah) sampai membina rumah tangga jauh dari unsur kemaksiatan atau yang tidak islami. Sebagaimana tugas kita di muka bumi ini yang hanya untuk mengabdi/beribadah kepada Allah, maka pernikahan pun harus diniatkan dalam rangka hal tersebut.

Baca juga: Cara Islam Mengelola Konflik Rumah Tangga: Teladan Rasulullah, Fatimah, dan Ali bin Abi Thalib

Beberapa contoh yang tidak islami, pemilihan jodoh tidak berdasarkan diennya (agamanya), proses berpacaran, dan tradisi-tradisi budaya yang melanggar syariat.

2. Terjadi internalisasi nilai Islam secara kaffah (Menyeluruh)

Dalam rumah tangga islami segala adab-adab Islam dipelajari dan dipraktikkan sebagai filter bagi penyakit moral di era globalisasi ini. Suami bertanggung jawab terhadap perkembangan pengetahuan keislaman dari istri, dan bersama-sama menyusun program bagi pendidikan anak-anaknya. Saling tolong-menolong dan saling mengingatkan untuk meningkatkan kefahaman dan praktik ibadah. Oleh sebab itu suami dan istri harus memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang Islam.

3. Terdapat qudwah (Keteladanan)

Setiap hendak keluar atau masuk rumah anggota keluarga membiasakan mengucapkan salam dan mencium tangan. Ini merupakan contoh yang akan membekas pada anak-anak sehingga mereka tidak canggung mengucapkan salam ketika telah dewasa. Bagaimana mungkin anak akan mendirikan salat di awal waktu, sementara orang tuanya asyik melihat televisi pada saat azan berkumandang (ini contoh yang buruk).

4. Adanya pembagian tugas sesuai dengan Syariat

Islam memberikan hak dan kewajiban masing-masing bagi anggota keluarga secara tepat dan manusiawi. Sebagaimana Firman Allah:
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!