Biara Khalid bin Walid dan Kisah Pengepungan Panjang Damsyik

Sabtu, 03 Oktober 2020 - 09:12 WIB
Keindahan yang begitu memesona dan kenikmatan yang begitu melimpah pernah dilihat oleh orang-orang yang pernah menemani Khalid bin Walid ke Irak. Ketika itu mereka sudah melihat pesona dan segala godaan yang luar biasa. (Baca juga: Surah Paling Romantis Ini Bisa Jadi Syafaat ke Surga )


Haekal mengatakan, saat melihat pesona Irak, kala itu, Khalid berkata: "Tidakkah kalian lihat makanan ini yang setinggi gunung? Demi Allah, kalau hanya untuk mencari makan, dan bukan karena kewajiban kita berjuang demi Allah dan mengajak orang kepada ajaran Allah, pasti kita gempur desa ini sehingga hanya tinggal kita yang berkuasa di sini; dan orang-orang yang enggan berjuang seperti yang kalian lakukan ini, akan kita biarkan dalam kelaparan dan kekurangan." (Baca juga: Surah Al-Ikhlas: 4 Ayat yang Bisa Menjadi Penyebab Seseorang Masuk Surga )


Menurut Haekal, kalau kata-kata ini layak untuk Irak satu kali, maka apa yang ada di Damsyik dan daerah subur sekitarnya itu lebih layak seribu kali. Apa yang mereka lihat di sini bukan makanan yang setinggi gunung, tetapi yang di luar dugaan kebanyakan mereka, makanan yang tak pernah terbayangkan dalam khayal, tak pernah terlihat mata, tak terdengar telinga dan tak pernah terlintas dalam pikiran.

Pasukan Muslimin melihat rumah-rumah dan istana-istana di daerah subur itu sudah-kosong dan sunyi. Yang terdengar hanya nyanyian burung-burung di taman-taman yang beraneka warna. (Baca juga: Kisah Imam Abu Dawud 'Membeli' Surga dengan 1 Dirham )

Para penghuni rumah dan istana itu sudah meninggalkan tempat-tempat mereka untuk berlindung di pagar-pagar tembok kota yang kekar. Tentang kekukuhan dan kekekaran pagar-pagar tembok Damsyik itu memang sudah menjadi peribahasa. Dibangun dari batu-batu besar yang kuat, dengan ketinggian lebih dari enam meter dan tebal lebih dari tiga meter.

Benteng-bentengnya pun dengan puncak-puncak yang tinggi dan kotak-kotak pengintai yang tak sedikit jumlahnya, tempat berlindung para pemanah dan para pemakai manjaniq.

Baca juga: Partai Ummat, Pertobatan Amien Rais di Masa Tua?


Heraklius memang sudah makin memperkukuh tempat itu sesudah ada serangan pihak Persia ke sana, dengan harapan dapat menangkis setiap serangan kepada kerajaannya. Tembok-tembok itu dilengkapi dengan pintu-pintu yang kuat dan tangguh dan dapat ditutup rapat sehingga tak mungkin orang dapat masuk atau keluar.

Di sekeliling tembok dipasang pula parit-parit dengan lebar lebih dari tiga meter, dialirkan ke dalamnya air Sungai Barada. Dengan demikian seluruh Damsyik itu sudah merupakan sebuah benteng dengan menara-menara di setiap penjuru. Tak mungkin ada penyerang yang dapat menerobos kecuali sesudah diadakan pengepungan lama yang akan membuat penghuninya menjadi lemah, kehilangan semangat dan memaksa mereka menyerah.

Pengepungan

Abu Ubaidah sudah memperkirakan untuk menyerbu kota yang kukuh ini memerlukan pengepungan yang cukup lama. Maka diperintahkannya pasukannya membuka dan menempati gereja-gereja dan rumah-rumah daerah subur sekitar Damsyik itu. Diperkirakannya juga bahwa Heraklius sudah mengirim pasukan dari Hims atau Palestina untuk mengepung kekuatannya yang di sekitar Damsyik di antara benteng-benteng kota dengan kekuatan pasukan Romawi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!