Belajarlah dari Sejarah Fir'aun dan Namrud
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 19:28 WIB
Ilustrasi dialog Firaun yang pura-pura bodoh ketika Nabi Musa alahissalam mengajak kepada kebenaran. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Sebuah opini atau pendapat yang disampaikan, baik secara lisan atau tulisan, tidak selalu harus dimaknai sebagai serangan kepada orang-orang tertentu. Apalagi jika tafsiran itu terbangun di atas asumsi-asumsi politis.
Yang pasti, Al-Qur'an penuh dengan cerita masa lalu alias sejarah . Sejarah itu penting. Karena dengan sejarah manusia belajar untuk berubah dan menjadi lebih baik di masa kini dan mendatang. (Baca Juga: Ketika Kekuasaan Mengalami Kepanikan, Al-Qur'an Juga Mengisahkannya )
Salah satu sejarah yang sering terulang dalam Al-Qur'an adalah sejarah kekuasaan di masa lalu. Ada kekuasaan yang berkarakter ketakwaan. Yaitu kekuasaan yang terbangun di atas nilai-nilai kebenaran (Al-Haq), kejujuran (Al-Amanah), dan keadilan (Al-'Adl).
Tapi tidak sedikit pula kekuasaan yang terbangun di atas karakter 'fujuur' (penyelewengan dan dosa). Kekuasaan ini penuh dengan ketidak jujuran dan kebohongan, ketidak adilan (kezaliman), bahkan kekejaman dan kebiadaban.
Dalam sejarah, Allah Yang Maha Rahman selalu menghadirkan dari kalangan hamba-hambaNya sendiri untuk mengoreksi kekuasaan 'fujuur' (korup) itu. Nabi Musa 'alahissalam diutus kepada Fir'aun . Nabi Ibrahim kepada Namrud, dan seterusnya.
Dalam usaha mengoreksi kekuasaan itulah tidak jarang terjadi resistensi keras dari kekuasaan korup itu. Bahkan sering terjadi pembungkaman dan bahkan eliminir. Tidak jarang pula resistensi itu berwujud kekerasan dan kezaliman.
Tapi ada satu fakta sejarah yang perlu diingat. Bahwa opresi atau kezaliman dan kekejaman penguasa kepada rakyatnya bukan karena mereka kuat dan hebat. Sebaliknya, justru kezaliman dan kekejaman kekuasaan itu adalah indikasi kepanikan, ketakutan, kelemahan, bahkan awal dari kejatuhan.
Kapan dan kenapa Fir'aun tenggelam di laut Merah (red sea)? Kapan dan kenapa Namrud terbunuh oleh seekor nyamuk? Kapan dan kenapa Tsamud binasa? Kenapa dan bagaimana para penguasa zalim dalam sejarah hidup manusia mengalami kehancurannya?
Al-Qur'an memberikan jawaban yang pasti. Bahwa kebinasaan dan kehancuran kekuasaan zalim dan keji itu terjadi di saat rintihan dan suara rakyat kecil tidak lagi terhiraukan. Di saat mereka yang lemah dan terzalimi mengadukan nasib mereka ke penguasa langit dan bumi.
Di saat-saat seperti itulah tabir samawi akan terbuka. Lalu, antara doa-doa dan rintihan mereka dan Allah tiada lagi yang membatasi. Allah akan membuka pintu-pintu 'nushroh' samawi yang wujudnya kadang di luar jangkauan logika manusia. (Baca Juga: Membangun Ummat Terbaik di Amerika )
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Sebuah opini atau pendapat yang disampaikan, baik secara lisan atau tulisan, tidak selalu harus dimaknai sebagai serangan kepada orang-orang tertentu. Apalagi jika tafsiran itu terbangun di atas asumsi-asumsi politis.
Yang pasti, Al-Qur'an penuh dengan cerita masa lalu alias sejarah . Sejarah itu penting. Karena dengan sejarah manusia belajar untuk berubah dan menjadi lebih baik di masa kini dan mendatang. (Baca Juga: Ketika Kekuasaan Mengalami Kepanikan, Al-Qur'an Juga Mengisahkannya )
Salah satu sejarah yang sering terulang dalam Al-Qur'an adalah sejarah kekuasaan di masa lalu. Ada kekuasaan yang berkarakter ketakwaan. Yaitu kekuasaan yang terbangun di atas nilai-nilai kebenaran (Al-Haq), kejujuran (Al-Amanah), dan keadilan (Al-'Adl).
Tapi tidak sedikit pula kekuasaan yang terbangun di atas karakter 'fujuur' (penyelewengan dan dosa). Kekuasaan ini penuh dengan ketidak jujuran dan kebohongan, ketidak adilan (kezaliman), bahkan kekejaman dan kebiadaban.
Dalam sejarah, Allah Yang Maha Rahman selalu menghadirkan dari kalangan hamba-hambaNya sendiri untuk mengoreksi kekuasaan 'fujuur' (korup) itu. Nabi Musa 'alahissalam diutus kepada Fir'aun . Nabi Ibrahim kepada Namrud, dan seterusnya.
Dalam usaha mengoreksi kekuasaan itulah tidak jarang terjadi resistensi keras dari kekuasaan korup itu. Bahkan sering terjadi pembungkaman dan bahkan eliminir. Tidak jarang pula resistensi itu berwujud kekerasan dan kezaliman.
Tapi ada satu fakta sejarah yang perlu diingat. Bahwa opresi atau kezaliman dan kekejaman penguasa kepada rakyatnya bukan karena mereka kuat dan hebat. Sebaliknya, justru kezaliman dan kekejaman kekuasaan itu adalah indikasi kepanikan, ketakutan, kelemahan, bahkan awal dari kejatuhan.
Kapan dan kenapa Fir'aun tenggelam di laut Merah (red sea)? Kapan dan kenapa Namrud terbunuh oleh seekor nyamuk? Kapan dan kenapa Tsamud binasa? Kenapa dan bagaimana para penguasa zalim dalam sejarah hidup manusia mengalami kehancurannya?
Al-Qur'an memberikan jawaban yang pasti. Bahwa kebinasaan dan kehancuran kekuasaan zalim dan keji itu terjadi di saat rintihan dan suara rakyat kecil tidak lagi terhiraukan. Di saat mereka yang lemah dan terzalimi mengadukan nasib mereka ke penguasa langit dan bumi.
Di saat-saat seperti itulah tabir samawi akan terbuka. Lalu, antara doa-doa dan rintihan mereka dan Allah tiada lagi yang membatasi. Allah akan membuka pintu-pintu 'nushroh' samawi yang wujudnya kadang di luar jangkauan logika manusia. (Baca Juga: Membangun Ummat Terbaik di Amerika )
Lihat Juga :