Anjuran Berjamaah Saat Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan

Senin, 11 Mei 2020 - 17:17 WIB
Qiyamul lail (salat malam) merupakan amalan utama di bulan Ramadhan selain puasa dan tadarus Al-Quran. Foto/Ist
Qiyamul lail (salat malam) merupakan amalan utama di bulan Ramadhan selain puasa dan tadarus Al-Qur'an. Keutamaan salat di malam-malam bulan Ramadhan ini diganjar pahala besar.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dia berkata: Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan menunaikan qiyam Ramadhan tanpa memerintahkan dengan kuat (bukan wajib). Kemudian beliau bersabda:

( ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه )

"Barangsiapa yang menunaikan salat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (Baca Juga: Selain Puasa, Inilah Amalan Utama di Bulan Ramadhan)

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan pelaksanaannya tetap seperti itu (yakni meninggalkan berjamaah dalam Tarawih). Kemudian tradisi berjamaah itu terus berlangsung pada zaman khalifah Abu Bakar radhiallahu ’anhu dan Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu.

Anjuran Berjamaah

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid (Ulama Saudi Arabia) mengatakan, qiyam Ramadhan secara berjama'ah lebih utama daripada (salat) seorang diri. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri melaksanakannya dan menjelaskan keutamaannya dengan sabdanya. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Abu Dzar radhiallahu’anhu, dia berkata: "Kami melaksanakan puasa bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam di bulan Ramadhan . Beliau tidak salat bersama kita sedikitpun dalam bulan itu hingga tinggal tujuh (hari), lalu beliau menunaikan qiyam bersama kami sampai habis sepertiga malam. Ketika tinggal enam (hari), beliau tidak shalat bersama kami. Ketika tinggal lima (hari), baliau shalat bersama kami sampai habis pertengahan malan. Kemudian saya bertanya: "Wahai Rasulullah ! bagaimana kalau engkau tambah untuk kami qiyam (semua) malam ini. Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya jika seseorang salat bersama imam sampai selesai, maka dihitung baginya qiyam semalam (penuh).” Maka ketika (tinggal hari) keempat, beliau tidak salat (bersama kami). Dan ketika (tinggal hari) ketiga, beliau kumpulkan keluarga, istri-istrinya dan orang-orang. Dan beliau berdiri (salat) bersama kami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah (sahur). Saya bertanya: “Apa falah itu?” dia menjawab: "Sahur". Kemudian beliau tidak salat (lagi) bersama kami sisa bulan ( Ramadhan ). (Hadis Sahih, dikeluarkan oleh Ashabus Sunan, pemilik kitab-kitab sunan).

Penyebab tidak kontiniunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (salat qiyam) secra berjamaah di bulan Ramadhan , di antaranya: Beliau khawatir salat malam itu akan diwajibkan kepada umatnya di bulan Ramadhan. Sehingga mereka tidak sanggup menunaikannya sebagaimana dalam hadis Aisyah RA dalam dua kitab shahih (Sahih Bukhari dan Muslim) dan di selainnya.

Kekhawatiran ini telah lanyap bersamaan dengan wafatnya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam setelah Allah sempurnakan syariat (Islam).Dengan demikian, maka ma'lul (tindakan karena adanya sebab) tidak berlaku lagi, yaitu meninggalkan jamaah dalam qiyam Ramadan, dan hukum yang berlaku adalah dianjurkannya berjamaah (dalam qiyam Ramadhan ). Oleh karena itu, umat Islam menghidupkan lagi sebagaimana dalam shahih Bukhari dan lainnya.

Dianjurkannya Berjamaah Bagi Perempuan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!