Sufi Perempuan yang Menikah dan Ahli Makrifat

Kamis, 17 Desember 2020 - 14:44 WIB
Fathimah adalah sosok perempuan sufi yang menonjol di antara perempuan sufi yang menikah. Keberadaan sufi perempuan ini, menunjukkan bahwa para perempuan sufi tidak semuanya menjalani hidup dengan tidak menikah. Foto ilustrasi/ist
Tidak banyak tokoh sufi perempuan yang begitu populer di dunia. Namun, sosok perempuan sufi ini merupakan sosok yang mempunyai keteguhan hati, independen , percaya diri, dan begitu mendalam dalam mempelajari tradisi-tradisi tasawuf .

Ia adalah Fathimah dari Nisyapur. Fathimah yang lahir pada 233 H adalah seorang sufi perempuan yang hidup satu zaman dengan Dzu Nûn al-Misrî dan Abû Yazîd al-Bustâmî. Ia termasuk salah satu ahli makrifat terbesar pada zamannya, sehingga Abu Yazid al-Busthomi memujinya. Dzun-Nun al-Mishri meminta pendapatnya tentang berbagai permasalahan .

(Baca juga : Ngerinya Perasaan Dendam, Dapat Menghancurkan Pikiran dan Akhlak )


Dalam buku 'Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari', Abu Abdurrahman as Sulami menyebutkan bahwa Fathîmah tumbuh besar dalam keluarga tertua di Khurasan. Ia menghabiskan waktunya dengan beribadah di Makkah. Ia juga mungkin pernah pergi ke Yerusalem dan kembali lagi ke Mekah. Fathimah meninggal pada saat melaksanakan ibadah umrah.

Dikisahkan suatu ketika Fathimah mengirim hadiah kepada Dzun-Nun al-Mishri, tetapi hadiah tersebut dikembalikan oleh Dzun-Nun al-Mishri sambil berkata: “Menerima hadiah dari perempuan adalah tanda kehinaan dan kelemahan ”. Kemudian Fathimah menjawab: “Tidak ada sufi di dunia ini yang lebih hina daripada orang yang meragukan motif sufi lainnya”. Dalam artian, seorang sufi sejati tidak melihat penyebab sekunder, tetapi selalu mengacu pada pemberi yang abadi yaitu Tuhan.

(Baca juga : Ummu Waraqah, Imam Salat Pertama Para Muslimah )

Dalam riwayat lain, diceritakan suatu ketika Dzun-Nun al-Mishri dan Fathimah bersama-sama berada di Yerussalem. Kemudian Dzun-Nun al-Mishri berkata, “Nasihatilah aku”. Kemudian Fathimah berkata kepadanya: “Biasakanlah hidup jujur, dan paksalah dirimu dalam tindakan dan kata-katamu”.

Dalam riwayat yang lain, Dzun-Nun al-Mishri menjelaskan bahwa Fathimah pernah berkata:

“Orang yang beramal demi Tuhan, sementara berkeinginan menyaksikan-Nya adalah seorang makrifat, sedangkan orang yang beramal dengan harapan Tuhan akan memperhatikannya adalah seorang yang beriman tulus”.

(Baca juga : Inilah Waktu-waktu yang Dianjurkan Membaca Shalawat )

Dzun-Nun al-Mishri juga beberapa kali memuji Fathimah, beliau mengatakan, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih utama daripada seorang perempuan yang aku temui di Makkah, yang bernama Fathimah an-Naisaburiya. Dia biasa membicarakan berbagai permasalahan yang berkenaan dengan makna Alquran, dengan cara yang mengagumkan. Dia adalah wali dari sahabat-sahabat Allah swt, dan dia juga guruku”.

Selain Dzun-Nun al-Mishri, tokoh sufi lain yang pernah memberikan komentar terhadap sosok Fathimah adalah Abu Yazid al-Busthomi. Beliau mengatakan:

“Sepanjang hidupku, aku baru menemukan seorang laki-laki dan satu perempuan sejati, perempuan itu adalah Fathimah an-Naisaburiya. Setiap kali aku memberinya pengetahuan tentang salah satu maqam spiritual, dia menerimanya seolah-olah dia telah mengalaminya sendiri”.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!