Kisah Teladan Umar bin Khattab, Sang Musuh Koruptor yang Anti-Nepotisme
Selasa, 29 Desember 2020 - 05:00 WIB
Tetapi, menurut Al Hamid Al Husaini, bersamaan dengan datangnya berbagai sukses, kaum muslimin mulai dihadapkan kepada kehidupan baru yang penuh dengan tantangan-tantangan. Dengan adanya wilayah Islam yang bertambah luas, dengan banyaknya daerah-daerah subur yang kini menjadi daerah kaum muslimin, serta dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh bekas-bekas penguasa lama (Byzantium dan Persia), kaum muslimin Arab mulai berkenalan dengan kenikmatan hidup keduniawian. (Baca juga: Perebutan Kursi Khalifah: Kisah Rekonsiliasi Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shiddiq )
Hanya mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana indah, kota-kota gemerlapan, ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan.
Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yang hendak mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi jauh lebih berat, yaitu tantangan nafsu setan, yang tiap saat menggelitik dari kiri-kanan, muka belakang.
Tantangan berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggulangi oleh Khalifah Umar bin Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan para sahabat Rasulullah s.a.w. yang tetap patuh pada teladan beliau, Khalifah Umar r.a. berhasil menekan dan membatasi sekecil-kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara tokoh kaum muslimin.
Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan keras, cepat pula diambil terhadap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari semua kaum muslimin yang jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri, keluarga dan golongannya, pasti melawan dan memusuhinya. (Baca juga: Debat Sengit Kaum Muhajirin dan Anshar Jelang Pemilihan Khalifah, Abu Bakar Dibai'at )
Ani-Nepotisme
Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk mengetahui kehidupan rakyat, terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang hendak diberikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang ditangisi oleh anak-anaknya yang kelaparan.
Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang dikumpulkannya lebih dulu. Ia minta supaya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam melaksanakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang melakukan pelanggaran, maka hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran itu dilakukan oleh orang lain.
Dengan kekhalifahannya itu, Umar bin Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang sangat mendalam di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga rakyat hanya makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega melihatnya makan roti tanpa disertai apa-apa. (Baca juga: Rumah Tangga Miskin Pasangan Ali Bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah )
Ketika itu ia mengatakan: "Kalau rakyat hanya bisa makan roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu juga."
Hanya mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana indah, kota-kota gemerlapan, ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan.
Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yang hendak mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi jauh lebih berat, yaitu tantangan nafsu setan, yang tiap saat menggelitik dari kiri-kanan, muka belakang.
Tantangan berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggulangi oleh Khalifah Umar bin Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan para sahabat Rasulullah s.a.w. yang tetap patuh pada teladan beliau, Khalifah Umar r.a. berhasil menekan dan membatasi sekecil-kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara tokoh kaum muslimin.
Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan keras, cepat pula diambil terhadap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari semua kaum muslimin yang jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri, keluarga dan golongannya, pasti melawan dan memusuhinya. (Baca juga: Debat Sengit Kaum Muhajirin dan Anshar Jelang Pemilihan Khalifah, Abu Bakar Dibai'at )
Ani-Nepotisme
Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk mengetahui kehidupan rakyat, terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang hendak diberikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang ditangisi oleh anak-anaknya yang kelaparan.
Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang dikumpulkannya lebih dulu. Ia minta supaya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam melaksanakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang melakukan pelanggaran, maka hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran itu dilakukan oleh orang lain.
Dengan kekhalifahannya itu, Umar bin Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang sangat mendalam di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga rakyat hanya makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega melihatnya makan roti tanpa disertai apa-apa. (Baca juga: Rumah Tangga Miskin Pasangan Ali Bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah )
Ketika itu ia mengatakan: "Kalau rakyat hanya bisa makan roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu juga."
(mhy)
Lihat Juga :