Aktualisasi Akhlak Muslim, Jujur dalam Perkataan dan Perbuatan
Minggu, 10 Januari 2021 - 01:01 WIB
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ
“Jujurlah jika kamu berbicara,” itu yang pertama disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jujurlah kamu ketika berbicara, biasakan jujur. Walaupun kadang-kadang kita terperosok dalam kebohongan karena satu dan lain hal. Dan kita ingat, kita sadar dan kita istighfar minta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena bohong itu juga tingkatan, ada bohong yang parah, ada sampai kepada bentuk kezaliman. Ada bohong-bohong ringan yang kadang-kadang itu lepas dari lisan kita begitu saja tanpa kita pikir. Walaupun Nabi menyuruh kita untuk pikir-pikir dulu sebelum berbicara. Nabi mengatakan:
مَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيصْمُتْ
“Hendaklah dia berkata baik atau dia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
(Baca juga: Pemimpin Hizbullah: Tombol Nuklir di Tangan ‘Bodoh Gila’ Trump )
Nabi perintahkan kita untuk memperhatikan setiap ucapan.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Demikian Allah mengabarkannya di dalam Al-Qur’an. Tapi boleh kita hitung satu hari saja, kata-kata yang kita keluarkan berapa persen yang sebelum kita ucapkan kita pikirkan dulu matang-matang. Pertama benar, jauh dari kebohongan. Yang kedua bermanfaat, jauh dari hal yang sia-sia. Mungkin hanya berapa persen dari ucapan kita yang betul-betul kita pikirkan. Sehingga kata-kata yang keluar itu benar-benar baik, yaitu betul dan bermanfaat.
Wallahu A'lam
اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ
“Jujurlah jika kamu berbicara,” itu yang pertama disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jujurlah kamu ketika berbicara, biasakan jujur. Walaupun kadang-kadang kita terperosok dalam kebohongan karena satu dan lain hal. Dan kita ingat, kita sadar dan kita istighfar minta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena bohong itu juga tingkatan, ada bohong yang parah, ada sampai kepada bentuk kezaliman. Ada bohong-bohong ringan yang kadang-kadang itu lepas dari lisan kita begitu saja tanpa kita pikir. Walaupun Nabi menyuruh kita untuk pikir-pikir dulu sebelum berbicara. Nabi mengatakan:
مَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيصْمُتْ
“Hendaklah dia berkata baik atau dia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
(Baca juga: Pemimpin Hizbullah: Tombol Nuklir di Tangan ‘Bodoh Gila’ Trump )
Nabi perintahkan kita untuk memperhatikan setiap ucapan.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Demikian Allah mengabarkannya di dalam Al-Qur’an. Tapi boleh kita hitung satu hari saja, kata-kata yang kita keluarkan berapa persen yang sebelum kita ucapkan kita pikirkan dulu matang-matang. Pertama benar, jauh dari kebohongan. Yang kedua bermanfaat, jauh dari hal yang sia-sia. Mungkin hanya berapa persen dari ucapan kita yang betul-betul kita pikirkan. Sehingga kata-kata yang keluar itu benar-benar baik, yaitu betul dan bermanfaat.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :