Tauhid Seorang Muslim: Kemerdekaan dan Makna Syahadat

Jum'at, 05 Februari 2021 - 19:54 WIB
Walaupun demikian, manusia tidak mungkin mengatakan: "tidak ada tuhan", karena mengatakan: "tidak ada tuhan", samalah dengan mengatakan "tidak ada kebenaran".

Sedangkan mengatakan "tidak ada kebenaran" sama dengan mengatakan "semuanya salah". Kalau semuanya salah, maka kalimat "semuanya salah" itu pun salah pula. Jadi, kalimat "tidak ada tuhan" itu menafikkan dirinya sendiri.

Dari rangkaian logika ini terbukti bahwa kita tak mungkin mengatakan "tidak ada tuhan", walaupun di dalam kenyataannya, sebagaimana diuraikan dalam alinea di atas, bahwa tuhan-tuhan yang dipentingkan manusia itu sangat relatif nilainya, dan sangat tergantung kepada posisi manusia yang bersangkutan terhadapnya. Itulah kiranya alasan mengapa al-Qur'an tidak punya istilah yang artinya identik (sama benar) dengan "atheist" atau "atheisme" (paham yang menafikkan adanya tuhan).

Kalimat "tidak ada tuhan" ini tidak mungkin berdiri sendiri. Kalimat itu tidak logis atau tidak dapat diterima akal atau nonsense alias tidak bermakna.

Kalimat itu hanya bisa bermakna jika ia tidak diakhiri dengan titik. Jika kalimat "tidak ada tuhan" ini diakhiri dengan koma dan ditambah menjadi "tidak ada tuhan, kecuali X", maka X menjadi satu-satunya Tuhan yang berbeda sifat dan posisinya terhadap tuhan-tuhan lainnya. Ia mau tak mau mestilah mutlak, tidak lagi relatif seperti tuhan-tuhan yang lain itu.

Karena mutlak, maka Ia mestilah unique. Kalau Ia unique, maka mestilah pula Ia berbeda dengan segala yang mungkin terpikirkan dan terbayangkan oleh manusia, walau apapun yang dinamakan X ini.

Di dalam ajaran Islam X inilah yang dinamakan Allah. Perkataan Allah di dalam bahasa 'Arab sudah ada sebelum lahirnya Muhammad SAW . Allah dalam bahasa Arab merupakan satu-satunya kata benda (isim atau noun) yang tak punya jama'. Sedangkan kata ilahun punya "ilaahaini" (dua ilah) dan "alihatun" (tiga atau lebih ilah).

Maka ucapan "Laa ilaaha illa Allah" yang berarti "Tiada tuhan kecuali Allah" merupakan deklarasi kemerdekaan yang paling tinggi (The ultimate declaration of independence), tapi masih mungkin dicapai oleh setiap manusia.

Deklarasi inilah yang membebaskan setiap manusia, yang mampu menghayatinya dengan istiqamah (consistent), dari segala macam bentuk perbudakan dan penjajahan, termasuk penjajahan hawa nafsunya sendiri.

Manusia yang menghayati deklarasi ini dengan istiqamah adalah manusia yang paling sempurna nilai kemanusiaannya. Dalam istilah Islam manusia seperti ini dinamai "insan kamil" atau insan sempurna.

Seorang yang telah mampu mencapai tingkat tauhid yang istiqamah, maka seluruh irama hidupnya diatur oleh kehendak Allah SWT. Rasa lapar baginya merupakan cara Allah berkomunikasi dengan dia. Rasa lapar, yang tiada lain dari pada salah satu instinct, di dalam al-Qur'an dipakai istilah "wahyu", walaupun mestinya tidak sama dengan tingkat wahyu yang diterima para nabi dan rasul, Lihat (Q. 16:68).

Maka rasa lapar ini diartikan manusia yang bertauhid sebagai signal (wahyu) dari Allah agar ia makan demi mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berbakti (mengabdi) kepada Allah. Oleh karena itu, makan baginya bukan sekadar mengatasi rasa lapar, tetapi demi memenuhi perintah Allah, maka pasti akan dimulainya dengan membaca basmallah.

Rasulullah telah menyatakan, bahwa orang yang makan dengan cara ini dinilai telah melakukan 'ibadah. Demikian pula dengan aktivitas lain. Misalnya, jika ia belajar bukanlah karena ingin mendapat gelar sarjana. Ia belajar karena mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya yang telah mewajibkan setiap Muslim dan Muslimat untuk belajar. Maka jiwa tawhid akan merupakan motivator utama baginya untuk bekerja keras dalam menyelesaikan studinya itu, karena belajar itu dirasakannya sama dengan 'ibadah lain yang akan mendapat ganjaran dari Allah SWT di dunia dan di akhirat nanti.

Dengan demikian, maka seorang yang istiqaamah dalam tawhidnya merasakan seluruh hidup dan kegiatan hidupnya tiada lain melainkan 'ibadah yang kontinyu kepada Allah SWT. Manusia seperti ini pasti akan mempunyai sikap dan akhlaq yang lain dari manusia biasa. Ia punya rasa tanggungjawab yang sangat tinggi, jujur, amanah, kreatif, dan berani mengambil resiko, optimis terhadap masa depan, disamping tawakkal 'ala Allah dalam melakukan setiap tugas yang berupa tantangan bagi kemampuan dirinya. (Bersambung)
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!