Makna Khair al-Ummah Menurut Prof Haedar Nashir
Senin, 22 Februari 2021 - 18:35 WIB
Ketua PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir/Foto/Ilustrasi/muhammadiyah.or.id
KH Ahmad Dahlan memaknai QS Ali Imran ayat 104 sebagai perintah untuk membentuk sebuah perkumpulan yang terorganisir dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar . Bila perkumpulan tersebut dilandasi keimanan kepada Allah dan sukses menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, maka janji Allah sebagaimana dalam QS Ali Imran ayat 110 akan memberinya status sebagai khair al-ummah (umat terbaik).
Baca juga: Nadjamuddin Ramly Meninggal, Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir Berdukacita
Dalam Sabda Nabi tersirat bahwa khair al-ummah berarti sekelompok manusia yang paling banyak menebar manfaat bagi manusia (khair al-nas anfa’uhum li al-nas).
Sementara dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 2, Muhammadiyah menempatkan khair al-ummah atau masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagai tujuan utama. Dengan kata lain, tujuan didirikannya Muhammadiyah adalah menebar manfaat bagi semesta.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir menerangkan QS Al-Baqarah ayat 143 menguatkan bahwa predikat khair al-ummah mengharuskan umat Islam untuk mengambil peran ummatan wasathan dan syuhada ‘ala al-nas.
Konsep “wasath” dan “syuhada” dalam ayat ini juga sesungguhnya memiliki filosofi yang mendalam. Artinya, ucap Haedar sebagaimana dikutip laman resmi Muhammadiyah, muhammadiyah.or.id., orang harus tahu peta konstalasi dan realitas empirik sehingga umat Islam harus melek ilmu pengetahuan dan tidak menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.
“Artinya, Muhammadiyah tidak boleh menjadi sekumpulan orang awam," ujar Haedar Nashir dalam sambutannya di acara Musyawarah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara pada Ahad (21/02).
Baca juga: Din Syamsuddin Dukung Langkah Hukum Tim Advokat Muhammadiyah Terhadap GAR ITB
Kyai Dahlan telah tepat memberi warna dengan pemikiran yang maju, selalu reform, dan menempatkan Islam selalu mampu selaras waktu dan tempat.
"Artinya, KHA Dahlan memiliki visi yang visioner, maka organisasi ini harus diisi orang orang cerdas dan terpilih,” jelasnya.
Baca juga: Nadjamuddin Ramly Meninggal, Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir Berdukacita
Dalam Sabda Nabi tersirat bahwa khair al-ummah berarti sekelompok manusia yang paling banyak menebar manfaat bagi manusia (khair al-nas anfa’uhum li al-nas).
Sementara dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 2, Muhammadiyah menempatkan khair al-ummah atau masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagai tujuan utama. Dengan kata lain, tujuan didirikannya Muhammadiyah adalah menebar manfaat bagi semesta.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir menerangkan QS Al-Baqarah ayat 143 menguatkan bahwa predikat khair al-ummah mengharuskan umat Islam untuk mengambil peran ummatan wasathan dan syuhada ‘ala al-nas.
Konsep “wasath” dan “syuhada” dalam ayat ini juga sesungguhnya memiliki filosofi yang mendalam. Artinya, ucap Haedar sebagaimana dikutip laman resmi Muhammadiyah, muhammadiyah.or.id., orang harus tahu peta konstalasi dan realitas empirik sehingga umat Islam harus melek ilmu pengetahuan dan tidak menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.
“Artinya, Muhammadiyah tidak boleh menjadi sekumpulan orang awam," ujar Haedar Nashir dalam sambutannya di acara Musyawarah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara pada Ahad (21/02).
Baca juga: Din Syamsuddin Dukung Langkah Hukum Tim Advokat Muhammadiyah Terhadap GAR ITB
Kyai Dahlan telah tepat memberi warna dengan pemikiran yang maju, selalu reform, dan menempatkan Islam selalu mampu selaras waktu dan tempat.
"Artinya, KHA Dahlan memiliki visi yang visioner, maka organisasi ini harus diisi orang orang cerdas dan terpilih,” jelasnya.
Lihat Juga :