Makna Khair al-Ummah Menurut Prof Haedar Nashir

Senin, 22 Februari 2021 - 18:35 WIB
Bila Muhammadiyah ingin mendapat predikat khair al-ummah, maka organisasi ini, kata Haedar, tidak boleh berisi orang-orang awam. Haedar menerangkan bahwa orang awam berarti kering hati, dangkal pikiran, dan miskin wacana keilmuan. Naif dalam lisan dan perbuatan, dan tidak menghadirkan uswah al-hasanah bagi lingkungan setempat juga masuk sebagai kategori orang awam.

“Lebih dari itu, kita di Muhammadiyah memiliki tujuan menjadi khair al-ummah. Bagaimana mau terbaik kalau kita tidak terbaik, menjadi manusia terbaik, dan organisasi terbaik? Hadis Nabi mengungkapkan manusia terbaik adalah memberi manfaat. Manfaat itu lahir dari sikap, tindakan, perkataan yang memberi rahmat. Warga muhammadiyah harus menebar hikmah bukan menebar masalah,” tegas Haedar.

Umat tengahan merupakan bagian dari khair al-ummah yang menjadi pilihan Muhammadiyah di antara kutub ekstrem yang terus saling bertubrukan paham. Berdasarkan prinsip wasathiyyah, Haedar mengajak warga Muhammadiyah agar jangan sampai berapologi dengan perbedaan pemikiran. Bila perlu Muhammadiyah akan seboros-borosnya belanja pemikiran, sekalipun pemikiran tersebut berasal dari orang yang tidak percaya terhadap Tuhan.

“Jangan apologi terhadap pemikiran orang lain. Bila perlu kita belanja pemikiran seboros-borosnya dari berbagai sumber, bahkan dari orang ateis sekalipun, agar kita tahu apa yang membuat mereka jadi ateis, dan bagaimana cara kita beradu argumen dengan mereka. Belanja pemikiran itu akan memudahkan kita memilih mana pemikiran yang terbaik,” terang Haedar.

Baca juga: Anis Matta Apresiasi Dialog Kapolri dengan Ketum PP Muhammadiyah


Seandainya Muhammadiyah anti terhadap perbedaan pemikiran, maka akan menjadi perkumpulan dengan cara pandang miopik, yaitu rabun dalam memandang kehidupan. Dunia miopik yang terkurung dalam kerangkeng sempit menyebabkan kehidupan penuh dengan saling curiga, rasa benci, dan berseteru dengan sikap menang sendiri. Terang saja Haedar menentang hal tersebut karena tidak sesuai dengan prinsip khair al-ummah dan ummatan wasathan.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!