Asma Binti Yazid, Si Penyuara Hak-hak Perempuan

Kamis, 25 Februari 2021 - 18:38 WIB
Setelah itu Asma 'aktif untuk berbicara hadis Rasulullah yang mulia dan dia bertanya tentang persoalan-persoalan yang membawa dia faham urusan dien. Asma pulalah yang meminta kepada Rasulullah tentang tata cara thaharah (bersuci) bagi wanita yang selesai haidh. Dia memiliki keyakinan yang kuat dan tidak malu untuk meminta sesuatu yang haq. Oleh karena Ibnu Abdil Barr mengatakan, "Dia adalah wanita cerdas dan bagus diennya."

Baca juga: Perhatikan Waktu

Pada suatu ketika, Asma mendatangi Rasulullah dan bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang saya katakan dan semuanya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta'ala mengutusmu untuk laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman kepada Anda dan membai'at Anda. Sementara itu, kami adalah wanita yang terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki yang mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum'at, mengantarkan jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami bisa mendapatkan pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka? "

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah menoleh kepada para sahabat dan bersabda, "Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?" Para sahabat menjawab, "Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!"

Baca juga: Libatkan FBI, American Airlines Tak Membantah Penampakan UFO

Kemudian Rasulullah bersabda: "Kembalilah wahai Asma 'dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah satu di antara mereka kepada suaminya dan mintalah keridhaan suaminya, mengikuti persetujuan suaminya, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki. "

Maka kembalilah Asma 'sambil bertahlil dan bertakbir, merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah.

Dalam dada Asma terdetik keinginan yang kuat untuk ikut andil dalam berjihad, hanya saja kondisi ketika itu tidak memungkinkan untuk merealisasikannya. Akan tetapi setelah tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah sampai perang Yarmuk dia menyertainya dengan gagah berjuang.

Pada perang Yarmuk ini, para wanita muslimah banyak yang ikut andil dengan bagian yang banyak untuk berjihad, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafidh Ibnu Katsir di dalam AI-Bidayah wan Nihayah.

Baca juga: 3 Parpol Ini Diprediksi Usung Anies Baswedan di Pilpres 2024
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!