Spirit Iqra untuk Kemajuan Peradaban

Selasa, 19 Mei 2020 - 10:02 WIB
Abdul Muti. Foto/Istimewa
Abdul Mu’ti

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

Di antara sumbangan besar Islam terhadap peradaban manusia adalah ilmu pengetahuan. Sejak wahyu pertama kali diturunkan, perintah pertama yang diterima oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah perintah membaca. Iqra. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, Tuhan yang telah menciptakan, Tuhan yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu itu adalah Tuhan yang Mahamulia, yang telah mengajarkan manusia dengan pena dan mengajarkan kepada manusia apa yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Surah Al-Alaq 1-5 yang diterima Rasulullah itu dalam urutan musaf Alquran sekarang ini ada pada urutan 96. Namun, ini adalah wahyu yang pertama kali diturunkan. Tentu ada misi di balik diturunkannya Surah Al-Alaq itu sebagai wahyu yang pertama. Misi tersebut adalah membangun masyarakat ilmu, membangun masyarakat belajar. (Baca: Bolak-Balik Melakukan Dosa, Ini Penawarnya)

Masyarakat pra-Islam atau sebelum Muhammad diutus menjadi rasul adalah masyarakat jahiliah, atau sering diterjemahkan sebagai masyarakat bodoh. Namun, pengertiannya tidak sekadar bodoh sebagai orang buta aksara, tapi juga orang-orang yang berperilaku seperti orang bodoh.

Karena itu, membangun masyarakat ilmu itu ada tiga pengertian. Pertama, masyarakat yang mampu dan gemar membaca. Kedua, masyarakat yang senantiasa membangun tradisi ilmiah, tradisi di mana manusia selalu berpikir terbuka, manusia yang senantiasa berusaha meningkatkan ilmu pengetahuannya. Dan ketiga, masyarakat yang berlaku sesuai prinsip-prinsip ilmu.

Tahun ini Ramadan, kita laksanakan di tengah Covid-19 sebagai wabah yang cukup mengkhawatikan dunia. Maka ketika kita mengamalkan perintah iqra, membaca, maka kita tentunya membaca realitas ini sebagai bagian ikhtiar kita untuk belajar meningkatkan ilmu, melakukan pengkajian ilmiah, dan menemukan obat yang mujarab yang bisa membantu masyarakat bertahan bahkan sembuh dari virus yang mematikan ini. (Baca juga: Bikin Binasa Kehidupan, Gara-Gara Menuruti Hawa Nafsu)

Karena itu maka spirit iqra ini harus menjadi bagian dari karakter orang-orang yang beriman, dan spirit iqra ini harus melahirkan masyarakat ilmu, masyarakat pembelajar, masyarakat yang senantiasa meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemajuan peridaan. Semoga Ramadan ini menjadi momentum untuk kita menjadi umat pembelajar, yang senantiasa membaca, senantiasa mengkaji, untuk kebaikan pribadi dan kebaikan umat, serta kebaikan seluruh semesta.
(ysw)
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
cover top ayah
وَذَرِ الَّذِيۡنَ اتَّخَذُوۡا دِيۡنَهُمۡ لَعِبًا وَّلَهۡوًا وَّغَرَّتۡهُمُ الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَا‌ ۚ وَ ذَكِّرۡ بِهٖۤ اَنۡ تُبۡسَلَ نَفۡسٌ ۢ بِمَا كَسَبَتۡ‌ۖ لَـيۡسَ لَهَا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَلِىٌّ وَّلَا شَفِيۡعٌ‌ ۚ وَاِنۡ تَعۡدِلۡ كُلَّ عَدۡلٍ لَّا يُؤۡخَذۡ مِنۡهَا‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ اُبۡسِلُوۡا بِمَا كَسَبُوۡا‌ ۚ لَهُمۡ شَرَابٌ مِّنۡ حَمِيۡمٍ وَّعَذَابٌ اَ لِيۡمٌۢ بِمَا كَانُوۡا يَكۡفُرُوۡنَ
Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur'an agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Dan jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena kekafiran mereka dahulu.

(QS. Al-An'am Ayat 70)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More