Sayyidah Juwairiyah, Tawanan Perang yang Bikin Sayyidah Aisyah Cemburu Berat
Rabu, 20 Mei 2020 - 03:12 WIB
Baca juga: Rahasia di Balik Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah
Juwairiyah berkata, ‘Hai Rasulullah, aku memiliki masalah yang telah Anda ketahui. Aku ingin membebaskan diriku. Dan aku datang kepadamu agar kau menolongku’. Rasulullah menanggapi, ‘Atau kau ingin yang lebih baik dari itu?’ ‘Apa itu, Rasulullah?’ tanya Juwairiyah. Rasulullah berkata, ‘Aku menikahimu dan kutunaikan pembebasanmu’. Juwairiyah menjawab, ‘Tentu mau’. Nabi menjawab, ‘Aku telah melakukannya’.”
Aisyah melanjutkan, “Kabar ini pun tersebar di tengah kaum muslimin. Mereka berkata, ‘(tawanan kita ini) ipar-ipar Rasulullah!’. Mereka pun membebaskan semua tawanan Bani Musthaliq. Tawanan yang dibebaskan karena pernikahan Juwairiyah ini berjumlah 100 orang Bani Musthaliq. Aku tidak mengetahui wanita yang paling besar berkahnya terhadap kaumnya dibanding Juwairiyah.”
Baca juga: Ibu Kaum Mukmin, Gus Baha: Kita Berutang Banyak kepada Sayyidah Aisyah )
Keislaman pemimpin Bani Mustahliq, Harits bin Abu Dhirar, terjadi setelah ia bermaksud menebus putrinya. Ia bermaksud menyerahkan unta-untanya kepada Rasulullah SAW sebagai tebusan. Tapi, ia menyembunyikan dua unta terbaiknya di Aqiq.
Saat menemui Rasulullah, seperti diriwayatkan Ibnu Hisyam, Harits ditanya tentang dua untanya yang disimpan di Aqiq. Takjub dengan pemahaman Rasulullah karena tak seorang pun tahu dia menyimpan dua untanya, Harits pun langsung mengikrarkan syahadat. Islamnya Harits juga diikuti Islamnya seluruh Bani Musthaliq yang masih tersisa.
Setelah itu, dilangsungkan pernikahan antara Rasulullah dan Sayyidah Juwairiyah dengan mahar 400 dirham. Setelah menjadi Ummahatul Mukminin, Sayyidah Juwairiyah banyak menghabiskan waktunya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nama Sayyidah Juwairiyah pun diberikan Rasulullah SAW setelah mereka menikah. Sayyidah Juwairiyah dikenal dengan sahabiyah yang ahli salat.
Baca juga: Istri Rasulullah: Sayyidah Zainab, Hanya Tiga Bulan Bersama Nabi
Rasulullah adalah seorang suami yang pandai menanamkan pengaruh kepada manusia. Dan tentu saja terhadap istrinya. Setelah memeluk Islam, Sayyidah Juwairiyah menjadi seorang wanita yang rajin beribadah. Ia banyak mengerjakan puasa sunnah. Saat ia berpuasa sunnah di hari Jumat saja, Nabi perintahkan dia untuk membatalkannya. Di antara kebiasaannya adalah berzikir mulai dari usai salat subuh hingga terbit matahari.
Dari Abu Ayyub dari Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya di hari Jumat. Saat itu Juwairiyah sedang berpuasa. Nabi bertanya, “Apakah kau kemarin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Nabi melanjutkan, “Besok kau akan berpuasa?” “Tidak”, jawab Juwairiyah. “Jika demikian, batalkanlah”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Juwairiyah berkata, ‘Hai Rasulullah, aku memiliki masalah yang telah Anda ketahui. Aku ingin membebaskan diriku. Dan aku datang kepadamu agar kau menolongku’. Rasulullah menanggapi, ‘Atau kau ingin yang lebih baik dari itu?’ ‘Apa itu, Rasulullah?’ tanya Juwairiyah. Rasulullah berkata, ‘Aku menikahimu dan kutunaikan pembebasanmu’. Juwairiyah menjawab, ‘Tentu mau’. Nabi menjawab, ‘Aku telah melakukannya’.”
Aisyah melanjutkan, “Kabar ini pun tersebar di tengah kaum muslimin. Mereka berkata, ‘(tawanan kita ini) ipar-ipar Rasulullah!’. Mereka pun membebaskan semua tawanan Bani Musthaliq. Tawanan yang dibebaskan karena pernikahan Juwairiyah ini berjumlah 100 orang Bani Musthaliq. Aku tidak mengetahui wanita yang paling besar berkahnya terhadap kaumnya dibanding Juwairiyah.”
Baca juga: Ibu Kaum Mukmin, Gus Baha: Kita Berutang Banyak kepada Sayyidah Aisyah )
Keislaman pemimpin Bani Mustahliq, Harits bin Abu Dhirar, terjadi setelah ia bermaksud menebus putrinya. Ia bermaksud menyerahkan unta-untanya kepada Rasulullah SAW sebagai tebusan. Tapi, ia menyembunyikan dua unta terbaiknya di Aqiq.
Saat menemui Rasulullah, seperti diriwayatkan Ibnu Hisyam, Harits ditanya tentang dua untanya yang disimpan di Aqiq. Takjub dengan pemahaman Rasulullah karena tak seorang pun tahu dia menyimpan dua untanya, Harits pun langsung mengikrarkan syahadat. Islamnya Harits juga diikuti Islamnya seluruh Bani Musthaliq yang masih tersisa.
Setelah itu, dilangsungkan pernikahan antara Rasulullah dan Sayyidah Juwairiyah dengan mahar 400 dirham. Setelah menjadi Ummahatul Mukminin, Sayyidah Juwairiyah banyak menghabiskan waktunya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nama Sayyidah Juwairiyah pun diberikan Rasulullah SAW setelah mereka menikah. Sayyidah Juwairiyah dikenal dengan sahabiyah yang ahli salat.
Baca juga: Istri Rasulullah: Sayyidah Zainab, Hanya Tiga Bulan Bersama Nabi
Rasulullah adalah seorang suami yang pandai menanamkan pengaruh kepada manusia. Dan tentu saja terhadap istrinya. Setelah memeluk Islam, Sayyidah Juwairiyah menjadi seorang wanita yang rajin beribadah. Ia banyak mengerjakan puasa sunnah. Saat ia berpuasa sunnah di hari Jumat saja, Nabi perintahkan dia untuk membatalkannya. Di antara kebiasaannya adalah berzikir mulai dari usai salat subuh hingga terbit matahari.
Dari Abu Ayyub dari Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya di hari Jumat. Saat itu Juwairiyah sedang berpuasa. Nabi bertanya, “Apakah kau kemarin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Nabi melanjutkan, “Besok kau akan berpuasa?” “Tidak”, jawab Juwairiyah. “Jika demikian, batalkanlah”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lihat Juga :