Hukum Tidur Setelah Sholat Subuh Menurut Perspektif Islam
Senin, 10 Mei 2021 - 03:35 WIB
Rasulullah menekankan pentingnya tidur bagi kesehatan. Namun, beliau mengajarkan pola tidur yang sehat berikut waktu yang dilarang. Foto/dok SINDOnews
Tidur bukan sekadar melepas lelah, tetapi kebutuhan yang harus dipenuhi setiap manusia. Tanpa tidur, seseorang tidak akan mampu menjalankan aktivitas kesehariannya. Bagaimana hukum tidur setelah sholat Subuh?
Al-Qur'an beberapa kali menyebutkan tentang tidur. Salah satunya firman Allah berikut:
وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan". (QS Ar-Rum: 23)
Baca Juga: Wajib Diketahui, Tiga Waktu yang Dilarang untuk Tidur
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menekankan kepada umatnya tentang pentingnya tidur bagi kesehatan. Namun, beliau memberi tuntunan pola tidur yang sehat berikut waktu yang dilarang.
Menurut Al-Habib Quraisy Baharun yang menukil Jalaluddin as-Suyuthi dalam Kitab Ar-Rahmah fi at-Thib wa Al-Hikmah, porsi tidur yang ideal bagi manusia dalam sehari semalam adalah kisaran 6 sampai 8 jam, dengan menyertakan tidur Qailulah (tidur sebentar) di siang hari.
Dalam perspketif Islam, ada beberapa waktu tertentu yang dilarang untuk tidur. Di antaranya, tidur setelah Subuh, tidur setelah waktu Ashar, dan tidur sebelum waktu Isya.
Pertanyaannya, mengapa tidur setelah Subuh dilarang? Habib Quraisy menjelaskan, tidur setelah sholat Subuh sampai terbitnya matahari akan menjadikan orang yang melakukannya terhalangi mendapatkan berkahnya rezeki dan umur.
Sebab waktu-waktu tersebut merupakan waktu diturunkannya keberkahan rezeki pada manusia. Hal ini seperti dijelaskan oleh Habib Zain bin Smith:
Al-Qur'an beberapa kali menyebutkan tentang tidur. Salah satunya firman Allah berikut:
وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan". (QS Ar-Rum: 23)
Baca Juga: Wajib Diketahui, Tiga Waktu yang Dilarang untuk Tidur
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menekankan kepada umatnya tentang pentingnya tidur bagi kesehatan. Namun, beliau memberi tuntunan pola tidur yang sehat berikut waktu yang dilarang.
Menurut Al-Habib Quraisy Baharun yang menukil Jalaluddin as-Suyuthi dalam Kitab Ar-Rahmah fi at-Thib wa Al-Hikmah, porsi tidur yang ideal bagi manusia dalam sehari semalam adalah kisaran 6 sampai 8 jam, dengan menyertakan tidur Qailulah (tidur sebentar) di siang hari.
Dalam perspketif Islam, ada beberapa waktu tertentu yang dilarang untuk tidur. Di antaranya, tidur setelah Subuh, tidur setelah waktu Ashar, dan tidur sebelum waktu Isya.
Pertanyaannya, mengapa tidur setelah Subuh dilarang? Habib Quraisy menjelaskan, tidur setelah sholat Subuh sampai terbitnya matahari akan menjadikan orang yang melakukannya terhalangi mendapatkan berkahnya rezeki dan umur.
Sebab waktu-waktu tersebut merupakan waktu diturunkannya keberkahan rezeki pada manusia. Hal ini seperti dijelaskan oleh Habib Zain bin Smith:
Lihat Juga :