Buya Yahya: Jangan Salah Kaprah, Inilah Musuh Islam yang Sebenarnya
Senin, 07 Juni 2021 - 10:15 WIB
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Surat Al-Ma'idah ayat 51)
Ayat ini bukan berarti ditafsirkan untuk memerangi kaum kafir karena konteks ayat itu diturunkan dalam situasi peperangan. Dikisahkan pada zaman Nabi, seorang muslim bernama Hatib pernah berkhianat menyampaikan kepada kaum kafir bahwa Nabi Muhammad sedang menyiapkan pasukan perang. Maka Allah menurunkan wahyu agar seorang muslim tidak membongkar rahasia-rahasia Islam.
Dari masa ke masa, orang semacam itu (berkhianat) tetap ada. Orang yang salah memilih kawan dan salah memilih kawan. Dia tidak memahami arti Al-Wala wal-Baro' di atas. Sisi ekstremis berpendapat "semua orang Yahudi dan Nasrani adalah musuhku harus diperangi". Ini adalah keliru.
Kemudian ungkapan "Orang yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad harus kita perangi", ini pandangan yang salah. Mereka yang punya seruan seperti itu berdasar kepada Al-Wala wal-Baro', tetapi salah dalam menafsirkannya. Kita harus lepas dari pemahaman kutub Ekstrem ini.
Bahkan ada yang seruan begini: "Siapa yang tidak membela Islam adalah musuhku." Hanya karena tidak membela atau diam saja langsung dijadikan musuh. Ini bahaya sekali.
Salah Memilih Kawan dan Lawan
Di sisi lain, ada yang salah memilih kawan dan salah memilih lawan. Inilah sebab turunnya ayat di atas. Kalau dengan orang di luar Islam dia bisa mesra, tetapi dengan orang Islam dia bikin masalah.
Orang semacam ini ada di negeri kita ini, ketika ada yang mengganggu orang di luar Islam dia langsung bangkit (membela). Giliran yang diganggu umat Islam, kita tidak tahu dia tidur dimana. Maka itu, loyalitas kita harus kepada Allah dan Rasulullah serta kepada agama Allah.
Kita harus membela kebenaran. Akan tetapi membela kebenaran pun ada rambu-rambunya, bukan menerjang semua orang. Orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi tetangga kita tidak boleh diperangi atau dimusuhi. Mereka memang berbeda agama dengan kita, tetapi mereka tidak mengganggu kita.
Musuh kita sebenarnya adalah mereka yang memusuhi agama kita, yang mengganggu agama kita, yang mengganggu Nabi Muhammad, yang mengganggu Al-Qur'an, yang mengganggu syariat. Tapi, kalau ada tetangga yang bukan muslim namun bersikap baik-baik kepada kita, tidak boleh diganggu. Itulah Al-Wala' wal-Baro' yang sesungguhnya.
Ayat ini bukan berarti ditafsirkan untuk memerangi kaum kafir karena konteks ayat itu diturunkan dalam situasi peperangan. Dikisahkan pada zaman Nabi, seorang muslim bernama Hatib pernah berkhianat menyampaikan kepada kaum kafir bahwa Nabi Muhammad sedang menyiapkan pasukan perang. Maka Allah menurunkan wahyu agar seorang muslim tidak membongkar rahasia-rahasia Islam.
Dari masa ke masa, orang semacam itu (berkhianat) tetap ada. Orang yang salah memilih kawan dan salah memilih kawan. Dia tidak memahami arti Al-Wala wal-Baro' di atas. Sisi ekstremis berpendapat "semua orang Yahudi dan Nasrani adalah musuhku harus diperangi". Ini adalah keliru.
Kemudian ungkapan "Orang yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad harus kita perangi", ini pandangan yang salah. Mereka yang punya seruan seperti itu berdasar kepada Al-Wala wal-Baro', tetapi salah dalam menafsirkannya. Kita harus lepas dari pemahaman kutub Ekstrem ini.
Bahkan ada yang seruan begini: "Siapa yang tidak membela Islam adalah musuhku." Hanya karena tidak membela atau diam saja langsung dijadikan musuh. Ini bahaya sekali.
Salah Memilih Kawan dan Lawan
Di sisi lain, ada yang salah memilih kawan dan salah memilih lawan. Inilah sebab turunnya ayat di atas. Kalau dengan orang di luar Islam dia bisa mesra, tetapi dengan orang Islam dia bikin masalah.
Orang semacam ini ada di negeri kita ini, ketika ada yang mengganggu orang di luar Islam dia langsung bangkit (membela). Giliran yang diganggu umat Islam, kita tidak tahu dia tidur dimana. Maka itu, loyalitas kita harus kepada Allah dan Rasulullah serta kepada agama Allah.
Kita harus membela kebenaran. Akan tetapi membela kebenaran pun ada rambu-rambunya, bukan menerjang semua orang. Orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi tetangga kita tidak boleh diperangi atau dimusuhi. Mereka memang berbeda agama dengan kita, tetapi mereka tidak mengganggu kita.
Musuh kita sebenarnya adalah mereka yang memusuhi agama kita, yang mengganggu agama kita, yang mengganggu Nabi Muhammad, yang mengganggu Al-Qur'an, yang mengganggu syariat. Tapi, kalau ada tetangga yang bukan muslim namun bersikap baik-baik kepada kita, tidak boleh diganggu. Itulah Al-Wala' wal-Baro' yang sesungguhnya.
Lihat Juga :