2 Perempuan Beriman yang Bisa Jadi Contoh di Masa Kini

Sabtu, 14 Agustus 2021 - 05:00 WIB
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: “Allah yang Maha Tinggi berfirman bahwasanya Dia membuat pemisalan bagi orang-orang yang membenarkan Allah dan mentauhidkan-Nya, dengan istri Fir’aun yang beriman kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan membenarkan Rasulullah Musa alaihissalam. Sementara wanita ini di bawah penguasaan suami yang kafir, satu dari sekian musuh Allah subhanahu wa ta’ala. Namun kekafiran suaminya itu tidak memudharatkannya, karena ia tetap beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sementara, termasuk ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluk-Nya adalah seseorang tidaklah dibebani dosa orang lain (tapi masing-masing membawa dosanya sendiri), dan setiap jiwa mendapatkan apa yang ia usahakan.” (Kitab Jami’ul Bayan fi Tawilil Quran/ Tafsir Ath-Thabari).

Baca juga: Panduan Berteman untuk Seorang Muslim

Pada diri Asiyah dan Maryam, ada permisalan yang indah bagi para istri yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah Subhanahu wata’ala yang dan hari akhir. Keduanya dijadikan contoh untuk mendorong kaum mukminin dan mukminat agar berpegang teguh dengan ketaatan dan kokoh di atas agama. (Al-Jami’ li Ahkamil Quran/ Tafsir Al-Qurthubi)

Seorang istri yang shalihah, ia akan bersabar dengan kekurangan yang ada pada suaminya dan sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah di hadapan suaminya atau mengeluhkan suaminya kepada orang lain, apalagi mengghibah suami, menceritakan aib/ cacat dan kekurangan sang suami.

Bagaimana pun kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ia tetap bersyukur di sela-sela kekurangan dan kesempitan tersebut, karena Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan lelaki muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir sebagai pendamping hidupnya.

Baca juga: Kosmetik Lokal Makin Digandrungi di Tengah Pandemi

Istri yang shalihah akan menjaga dirinya dari perbuatan keji dan segala hal yang mengarah ke sana. Sehingga ia tidak keluar rumah kecuali karena darurat, dengan izin suaminya. Kalaupun keluar rumah, ia memperhatikan adab-adab syar‘i. Dia menjaga diri dari bercampur baur apalagi khalwat (bersepi-sepi/ berdua-duaan) dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

Ia tidak berbicara dengan lelaki ajnabi (non mahram) kecuali karena terpaksa dengan tidak melembut-lembutkan suara. Dan ia tidak melepas pandangannya dengan melihat apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia ingat bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memuji Maryam yang sangat menjaga kesucian diri, sehingga ketika dikabarkan oleh Jibril alaihissalam bahwa dia akan mengandung seorang anak yang kelak menjadi rasul pilihan Allah subhanahu wa ta’ala, Maryam berkata dengan heran:

“Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina.” (QS Maryam: 20).

Baca juga: Inggris Nyatakan akan Kerahkan Pasukan ke Afghanistan Jika Al-Qaeda Kembali Muncul
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!