Mengapa Orang Beriman Menyukai Hidup Sederhana?
Kamis, 02 September 2021 - 16:05 WIB
"Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS al-An'am : 141).
Begitulah, sudah menjadi tabiat manusia , ia akan lebih konsumtif menghamburkan uang, manakala mulai mengeyam kehidupan yang mapan dan kemudahan ekonomi. Seolah-olah kekayaan kurang berarti banyak bila pemilik tidak menggunakannya untuk keperluan yang lebih besar dan kemewahan. Misalnya dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kurang penting baginya.
Baca juga: Waspadai Sifat yang Paling Dibanggakan Iblis Ini
Dalam kitab As-Shahihah (kumpulan hadis shahih), Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :“Jauhilah gaya hidup bermewahan. Sesungguhnya hamba-hamba Allah itu bukan orang-orang yang bermewah-mewahan”.
Larangan kepada manusia agar tidak melakukan pemborosan dan penghamburan atas uang dan harta yang disimpan, pasti mengandung manfaat. Dan manusia pun sadar mengetahui hikmah di balik larangan tersebut. Antara lain hikmahnya adalah dia menjadi manusia yang hidup sederhana. Orang sederhana adalah mereka yang tidak menghambur-hamburkan uang dengan belanja di luar kebutuhannya.
Orang sederhana juga bukan orang-orang yang bakhil kepada keluarganya, sehingga kebutuhan bagi keluarganya pun terpenuhi dan tidak kekurangan. Namun, orang yang sederhana adalah mereka yang membelanjakan hartanya secara adil. Dan sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun tidak kikir.
Jadi, orang selalu hidup sederhana sangat disukai Allah Ta'ala. Karena sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan alasan berkaitan dengan larangan menghambur-hamburkan. Beliau rahimahullah berkata : “Sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang meminta-minta apa yang dimiliki orang lain. Sedangkan pada pemeliharaan harta yang terkandung kemaslahatan bagi dunianya. Adapun kestabilan maslahat duniawinya akan berpengaruh pada kemaslahatan agamanya. Sebab dengannya, seseorang dapat fokus dalam urusan-urusan akhiratnya.
Baca juga: Ternyata Merasa Diri Sendiri Sial Adalah Syirik, Ini Dalilnya
Wallahu 'alam
Begitulah, sudah menjadi tabiat manusia , ia akan lebih konsumtif menghamburkan uang, manakala mulai mengeyam kehidupan yang mapan dan kemudahan ekonomi. Seolah-olah kekayaan kurang berarti banyak bila pemilik tidak menggunakannya untuk keperluan yang lebih besar dan kemewahan. Misalnya dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kurang penting baginya.
Baca juga: Waspadai Sifat yang Paling Dibanggakan Iblis Ini
Dalam kitab As-Shahihah (kumpulan hadis shahih), Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :“Jauhilah gaya hidup bermewahan. Sesungguhnya hamba-hamba Allah itu bukan orang-orang yang bermewah-mewahan”.
Larangan kepada manusia agar tidak melakukan pemborosan dan penghamburan atas uang dan harta yang disimpan, pasti mengandung manfaat. Dan manusia pun sadar mengetahui hikmah di balik larangan tersebut. Antara lain hikmahnya adalah dia menjadi manusia yang hidup sederhana. Orang sederhana adalah mereka yang tidak menghambur-hamburkan uang dengan belanja di luar kebutuhannya.
Orang sederhana juga bukan orang-orang yang bakhil kepada keluarganya, sehingga kebutuhan bagi keluarganya pun terpenuhi dan tidak kekurangan. Namun, orang yang sederhana adalah mereka yang membelanjakan hartanya secara adil. Dan sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun tidak kikir.
Jadi, orang selalu hidup sederhana sangat disukai Allah Ta'ala. Karena sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan alasan berkaitan dengan larangan menghambur-hamburkan. Beliau rahimahullah berkata : “Sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang meminta-minta apa yang dimiliki orang lain. Sedangkan pada pemeliharaan harta yang terkandung kemaslahatan bagi dunianya. Adapun kestabilan maslahat duniawinya akan berpengaruh pada kemaslahatan agamanya. Sebab dengannya, seseorang dapat fokus dalam urusan-urusan akhiratnya.
Baca juga: Ternyata Merasa Diri Sendiri Sial Adalah Syirik, Ini Dalilnya
Wallahu 'alam
(wid)
Lihat Juga :