Ibnu Sina, Mengapa Filsuf dan Dokter Ini Dituduh Atheis?
Senin, 06 September 2021 - 15:50 WIB
Ibnu Sina yang memilih hidup membujang ini oleh sementara umat Islam dianggap ateis. Ilustrasi/Ist
Ibnu Sina atau Avicenna adalah filsuf dan dokter ternama. Karya tulisnya diakui dunia dan sampai sekarang menjadi referensi penting dunia kedokteran. Ibnu Sina, yang memilih hidup membujang oleh sementara kalangan dituduh ateis. Mengapa?
Baca juga: Wabah Covid-19: Begini Tips Ibnu Sina Menghadapi Krisis Kesehatan
Ibnu Sina dianggap oleh sementara kalangan muslim ateis atau tak mempercayai Tuhan karena menganut aliran Mu’tazilah .
Aliran ini menjadi fondasi bagi lahirnya filsafat Islam dengan tokoh-tokohnya yang dikenal setelahnya seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
Aliran Mu'tazilah ditolak oleh sebagian penganut Sunni karena beranggapan bahwa akal manusia lebih baik dibandingkan tradisi.
Penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan ayat-ayat Al-Quran secara lebih bebas dibanding kebanyakan umat muslim (Robert Wisnovsky, Avicenna's Metaphysics in Contexts, 2003).
Avicenna mengintegrasikan gagasan dan metodologi Aristoteles, neoplatonisme, dan filsafat Yunani lainnya dengan tradisi monoteistik Islam.
Ia mengadopsi teori neoplatonisme, tapi dia membuat membedakan antara Tuhan dan ciptaan untuk menghindari kecenderungan neoplatonis terhadap panteisme.
Dia adalah salah satu filsuf pertama yang menerapkan logika filsafat terhadap teologi Islam, dan tulisannya memicu reaksi keras dari para teolog Islam.
Meski demikian, seperti dicatat New World Encyclopedia, karyanya menjadi buku teks standar di madrasah-madrasah. Sebagai salah satu ilmuwan berpengaruh di abad pertengahan masa kejayaan Islam. Ibnu Sina telah membaca Al-Quran dan sastra sejak umur 10 tahun.
Baca juga: Menikah, Resep Ibnu Sina kepada Pemuda yang Sakit
Biografi Singkat
Baca juga: Wabah Covid-19: Begini Tips Ibnu Sina Menghadapi Krisis Kesehatan
Ibnu Sina dianggap oleh sementara kalangan muslim ateis atau tak mempercayai Tuhan karena menganut aliran Mu’tazilah .
Aliran ini menjadi fondasi bagi lahirnya filsafat Islam dengan tokoh-tokohnya yang dikenal setelahnya seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
Aliran Mu'tazilah ditolak oleh sebagian penganut Sunni karena beranggapan bahwa akal manusia lebih baik dibandingkan tradisi.
Penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan ayat-ayat Al-Quran secara lebih bebas dibanding kebanyakan umat muslim (Robert Wisnovsky, Avicenna's Metaphysics in Contexts, 2003).
Avicenna mengintegrasikan gagasan dan metodologi Aristoteles, neoplatonisme, dan filsafat Yunani lainnya dengan tradisi monoteistik Islam.
Ia mengadopsi teori neoplatonisme, tapi dia membuat membedakan antara Tuhan dan ciptaan untuk menghindari kecenderungan neoplatonis terhadap panteisme.
Dia adalah salah satu filsuf pertama yang menerapkan logika filsafat terhadap teologi Islam, dan tulisannya memicu reaksi keras dari para teolog Islam.
Meski demikian, seperti dicatat New World Encyclopedia, karyanya menjadi buku teks standar di madrasah-madrasah. Sebagai salah satu ilmuwan berpengaruh di abad pertengahan masa kejayaan Islam. Ibnu Sina telah membaca Al-Quran dan sastra sejak umur 10 tahun.
Baca juga: Menikah, Resep Ibnu Sina kepada Pemuda yang Sakit
Biografi Singkat
Lihat Juga :