Menikah, Resep Ibnu Sina kepada Pemuda yang Sakit

loading...
Menikah, Resep Ibnu Sina kepada Pemuda yang Sakit
Ibnu Sina. Foto/Ilustrasi/Ist
PADA suatu hari seorang pemuda,keponakan seorang pejabat tinggi di Qabus, mengalami kondisi fisik yang sangat lemah. Sudah cukup lama ia berbaring sakit, tapi tak kunjung sembuh sebab tidak ada dokter yang bisa mendiagnosis sakitnya secara tepat.

Baca juga: Tradisi Alkimia Masuk ke Barat Melalui Sumber-Sumber Arab

Dari hari ke hari sakitnya makin memburuk karena ia sudah tak mau makan dan juga tidak mau berbicara dengan siapa pun. Lalu didatangkanlah Ibnu Sina untuk memeriksa sang pemuda itu.

Mula-mula Ibnu Sina memeriksa denyut nadi sang pemuda itu dan meminta sang pejabat mendatangkan seseorang yang dapat menyebutkan nama-nama jalan dan lapangan rumput di kota Gurgan (400 km dari Teheran Iran). Kota ini terletak di dekat Laut Kaspia.

Saat orang tersebut menyebut nama jalan tertentu, denyut nadi sang pemuda bedetak lebih kencang dan rona wajahnya berubah sangat cepat. Mengetahui hal ini Ibnu Sina kemudian meminta sang pejabat untuk mendatangkan seseorang yang dapat bercerita lebih banyak tentang keluarga-keluarga yang tinggal di jalan tertentu.

Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali

Orang itu berhasil didatangkan dan Ibnu Sina memintanya untuk menyebutkan dengan suara keras nama-nama orang dalam keluarga itu. Dia lakukan hal itu sesuai perintah. Ketika dia menyebut nama seseorang dari anggota keluarga itu, angka denyut nadinya meninggi.

Mengamati hal itu, Ibnu Sina kemudian meminta sang pejabat mendatangkan seseorang yang mengenal dengan baik orang-orang dari anggota keluarga tersebut. Sang pejabat berhasil mendatangkan orang yang dimaksudkan oleh Ibnu Sina, yakni seseorang yang benar-benar kenal dengan orang-orang beserta nama-namanya dari anggota keluarga yang dimaksud.

Ketika Ibnu Sina meminta orang itu menyebutkan nama-nama penghuni rumah keluarga itu dan sampai pada penyebutan nama gadis tertentu angka denyut nadi (tekanan darah) sang pemuda sangat tinggi.

Selanjutnya Ibnu Sina menghampiri sang pejabat secara tertutup dan memberitahukan bahwa pemuda itu sedang kasmaran atau jatuh cinta kepada seorang gadis dari keluarga itu dan menyarankan supaya ia segera dinikahkan dengan gadis idamannya.

Terbukti dengan direstuinya untuk segera menikah dengan sang gadis pujaannya, pemuda tersebut sembuh dari sakitnya.

Baca juga: Imam Al-Ghazali dari Persia, Sang Pembela Islam

Dari situlah Ibnu berhasil mendiagnosis pemuda itu sakit bukan karena ada gangguan penyakit yang bersifat fisik tetapi lebih karena gangguan yang berifat kejiwaan. Dalam ilmu kedoteran hal ini disebut psikosomatis, yakni suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran mempengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya gangguan fisik. Kasus tersebut menunjukkan kebenaran teori Ibnu Sina bahwa sakit tak melulu disebabkan oleh fisik yang lemah, tapi bisa juga karena kejiwaan yang bermasalah.

Kisah tersebut diuraikan dalam buku Saints and Saviours of Islam karya Dr. Hamid Naseem Rafiabadi (Sarup & Sons; New Delhi, 1st Edition, 2005: 281-282).

Teori ini tidak sulit bagi Ibnu Sina karena beliau bukan saja seorang dokter tetapi juga rohaniawan. Beliau hafal Al-Qur’an di usia 10 tahun.

Teori baru tersebut memberikan perimbangan terhadap teori lama yang diabadikan dalam sebuah pepatah bahasa Arab yang berbunyi:

العقل السليم في الجسم السليم

Artinya: “Jiwa yang sehat terdapat dalam badan yang sehat.”

Baca juga: Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi

Dengan temuan teori baru dari Ibnu Sina tersebut, maka pepatah lama di atas sebetulnya dapat dimodifikasi dengan membaliknya menjadi:

الجسم السليم في العقل السليم

Artinya: “Badan yang sehat terdapat dalam jiwa yang sehat.”

Siapa Ibnu Sina?
Nama lengkap beliau adalah Abu ʿAli al-Ḥusayn ibn ʿAbd Allah ibn Sina. Beliau lahir di Bukhara Uzbekistan pada tahun 980 M. Di dunia Barat beliau dikenal dengan nama yang sudah terpengaruh bahasa Latin, yakni Avicenna.

Beliau merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10.

Sebagai dokter beliau sangat dihormati baik di Barat maupun di Timur karena kitabnya berjudul Al-Qanun fi al-Thib (selesai ditulis pada tahun 1025M) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Canon of Medicine menjadi buku referensi kedokteran hingga sekarang. Beliau digelari Bapak Kedokteran.

Selain itu, masih banyak lagi sebutan lainnya yang ditujukan padanya, terutama berkaitan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran.

Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri

Sejak kecil, Ibnu Sina sudah menunjukkan kepandaian yang luar biasa. Di usia 5 tahun, ia telah belajar menghafal Alquran. Selain menghafal Alquran, ia juga belajar mengenai ilmu-ilmu agama.

Ilmu kedokteran baru ia pelajari pada usia 16 tahun. Tidak hanya belajar mengenai teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit dan melalui perhitungannya sendiri, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan.

Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 17 tahun. Kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Banyak tabib dan ahli yang hidup pada masa itu tidak berhasil menyembuhkan penyakit sang raja sebelumnya.

Baca juga: Intelektualitas Al-Ghazali Berada di Tingkatan yang Sulit Dilampaui

Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, paling tidak untuk sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas makin bertambah.

Ibnu Sina selain terkenal sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama dan kedokteran, ia juga ahli dalam bidang matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, metafisika dan filosofi.

Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan.

Tak hanya itu, ia juga mendalami masalah-masalah fikih dan menafsirkan ayat-ayat Alquran. Ia banyak menafsirkan ayat-ayat Alquran untuk mendukung pandangan-pandangan filsafatnya.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal. Setelah kematian ayahnya ia mulai berkelana, menyebarkan ilmu dan mencari ilmu yang baru. Tempat pertama yang menjadi tujuannya setelah hari duka itu adalah Jurjan, sebuah kota di Timur Tengah. Di sinilah ia bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan Al-Biruni. Ia kemudian berguru kepada Al-Biruni.

Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (1)

Setelah itu Ibnu Sina melanjutkan lagi perjalanannya untuk menuntut ilmu. Rayy dan Hamadan adalah kota selanjutnya, sebuah kota dimana karyanya yang spektakular Qanun fi Thib mulai ditulis. Di tempat ini pula Ibnu Sina banyak berjasa, terutama pada raja Hamadan.

Seakan tak pernah lelah, ia melanjutkan lagi pengembaraannya, kali ini daerah Iran menjadi tujuannya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya itu, banyak lahir karya-karya besar yang memberikan manfaat besar pada dunia ilmu kedokteran khususnya.

Baca juga: Imam Al-Ghazali (1): Karya-Karyanya Tak Hanya Mendahului Zamannya

Tentu tak berlebihan bila Ibnu Sina mendapat julukan Bapak Kedokteran Dunia. Karena perkembangan dunia kedokteran awal tidak bisa terlepas dari nama besar Ibnu Sina. Ia juga banyak menyumbangkan karya-karya asli dalam dunia kedokteran.

Dalam Qanun fi Thib misalnya, ia menulis ensiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Ia juga adalah orang yang memperkenalkan penyembuhan secara sistematis, dan ini dijadikan rujukan selama tujuh abad lamanya.

Ibnu Sina pula yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Dan dari sana ia berkesimpulan bahwa, setiap bagian tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki kuku saling berhubungan.

Ia adalah orang yang pertama kali merumuskan, bahwa kesehatan fisik dan kesehatan jiwa ada kaitan dan saling mendukung. Lebih khusus lagi, ia mengenalkan dunia kedokteran pada ilmu yang sekarang diberi nama pathology dan farma, yang menjadi bagian penting dari ilmu kedokteran.

Selain The Canon of Medicine, ada satu lagi kitab karya Ibnu Sina yang tak kalah dahsyatnya pula. Asy-Syifa, begitu judul kitab karya Ibnu Sina ini. Sebuah kitab tentang cara-cara pengobatan sekaligus obatnya. Kitab ini di dunia ilmu kedokteran menjadi semacam ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Dalam bahasan latin, kitab ini di kenal dengan nama 'Sanatio'.

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H/1037 M di kota Hamdan, Iran. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia. (Baca juga: Kenapa Imam Al-Ghazali Digelari Hujjatul Islam?)
(mhy)
cover top ayah
اَلۡمُنٰفِقُوۡنَ وَالۡمُنٰفِقٰتُ بَعۡضُهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ‌ۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمُنۡكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمَعۡرُوۡفِ وَيَقۡبِضُوۡنَ اَيۡدِيَهُمۡ‌ؕ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمۡ‌ؕ اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.

(QS. At-Taubah:67)
cover bottom ayah
preload video