Wabah Covid-19: Begini Tips Ibnu Sina Menghadapi Krisis Kesehatan

Kamis, 08 Oktober 2020 - 14:22 WIB
loading...
Wabah Covid-19: Begini Tips Ibnu Sina Menghadapi Krisis Kesehatan
Ibnu Sina. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
SALAH satu teori kesehatan yang sangat terkenal baik di Barat maupun di Timur adalah bahwa sakit tidak melulu disebabkan oleh lemahnya fisik tetapi bisa juga disebabkan oleh kondisi kejiwaan yang lemah. (Baca juga: Waduh, 209 Pendemo Jalani Tes Rapid, 13 Orang Reaktif Corona )

Teori ini dikemukakan oleh seorang ulama terkenal sekaligus seorang ahli di bidang kedokteran kelahiran Bukhara Uzbekistan tahun 980 M. Tokoh itu bernama Abu ʿAli al-Ḥusayn ibn ʿAbdillah ibn Sina atau lebih dikenal dengan Ibnu Sina dengan digelari Bapak Kedokteran.

Di dunia Barat beliau dikenal dengan nama Avicenna. Teori Ibnu Sina tersebut setidaknya memberikan keseimbangan terhadap teori yang telah mapan sebelumnya, yakni bahwa kesehatan jiwa bergantung pada kesehatan badan. (Baca juga: Studi: Jenis Virus Corona yang Menular Lebih Mendominasi )

Dalam bahasa Latin teori ini berbunyi: Mens sana in corpore sano, artinya: “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Dalam bahasa Arab teori itu berbunyi: العقل السليم في الجسم السليم Artinya: “Akal yang sehat terdapat dalan badan yang sehat.”

Di tengah ancaman pandemi virus Corona yang mematikan sebagaimana tengah berlangsung saat ini di seluruh dunia, banyak orang mengalami kecemasan bahkan tidak sedikit yang mengalami kepanikan. (Baca juga: 11.472 Orang Meninggal Akibat Corona, Rata-rata 3,6% )

Dalam kaitan ini Ibnu Sina menganjurkan 3 tips menjaga diri agar tetap sehat jasmani rohani atau segera sembuh dari sakit sebagaimana dikutip oleh Musthofa Husni dalam kitabnya berjudul ‘Isy Allahzah (Athlas lin Nashri wal Intaji wal I’lamiy , 2015, Cet.I, hal. 161) sebagai berikut:

1. الوهم نصف الداء (Kepanikan adalah separuh penyakit) Secara umum panik dipahami sebagai sebuah serangan yang muncul tiba-tiba akibat rasa takut yang luar biasa. Rasa takut itu sendiri bisa muncul karena ada bahaya yang nyata-nyata mengancam atau hanya karena berpikir terlalu buruk dan tidak rasional alias mengkahayal.

Ibnu Sina menasihati agar kita tidak mudah panik dalam situasi apapun baik aman maupun bahaya sebab panik itu sendiri merupakan bagian masalah kejiwaan yang bisa berdampak langsung pada munculnya penyakit fisik seperti serangan jantung, hipertensi dan sebagainya. (Baca juga: Covid-19 Makin Ganas, Sri Mulyani: Tidak Ada Satupun Negara Bisa Bebas )

2. والاطمئنان نصف الدواء (Ketenangan adalah separuh obat). Ibnu Sina menekankan perlunya orang memiliki ketenangan baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Dalam keadaan sehat orang yang memiliki ketenangan jiwa tidak mudah terserang oleh berbagai-penyakit jasmani dan rohani sebab ketenangan itu sendiri merupakan benteng sehingga memiliki imunitas yang kuat.

Ketenangan akan mudah dicapai juga melalui berbagai pendekatan, yakni pendekatan teologis dan pendekatan ilmiah rasional.

Al-Quran mengingatkan pentingnya berdzikir kepada Allah sebab senantiasa mengingat Allah akan menghasilkan ketenangan batin yang kokoh sebagaiamana firman Allah berikut ini:

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’d: 28)

Menurut Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. dalam artikel berjudul "3 Tips Ibnu Sina Saat Menghadapi Krisis Kesehatan" selalu mengingat Allah termasuk dalam wilayah akhlak kepada Allah. Seorang hamba yang saleh senantiasa mengingat Tuhannya dan Tuhan pun akan membalas dengan selalu mengigat sang hamba.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Artinya, “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, seorang hamba yang senantiasa mengigat Allah dalam arti yang sebenarnya tentulah memiliki ketenangan yang luar bisa sebab begitu dekatnya hubungan dia dengan Allah sehingga ia meyakini Allah senantiasa membersamainya baik dalam keadaan sedirian maupun bersama orang lain.

3. والصبر أول خطوات الشفاء (Kesabaran adalah awal dari kesembuhan).

Kesabaran itu ibarat jamu yang rasanya pahit tetapi hasil dari kesabaran adalah manis. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam pepatah Arab yang berbunyi:

الصبر كالدواء المر مذاقه سيء ولكن نتائجه جميلة

Artinya: “Sabar itu seperti obat pahit yang tidak enak rasanya, tetapi hasilnya indah.”

Orang sabar tentu telaten untuk berbuat apa saja yang dibutuhkan. Seorang pasien yang sabar akan sanggup mematuhi aturan-aturan kesehatan yang diberikan dokter.

Berbagai obat yang diberikan ia sanggup meminumnya secara teratur sesuai aturannya. Jika diberikan terapi pun ia juga sanggup menjalaninya dengan telaten tanpa keluh kesah betatapun berat terapi itu.
(mhy)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3668 seconds (11.97#12.26)