Wisata ke Borobudur Haram? Begini Pendapat Para Ulama Berbagai Mazhab
Kamis, 16 September 2021 - 11:46 WIB
Wisata ke Candi Borobudur adalah masalah muamalah. (Foto: hijab converse)
Hukum wisata ke Candi Borobudur atau situs-situs tua yang tak terkait dengan peninggalan Islam belakangan menjadi perbincangan hangat. Hal ini menyusul viralnya video yang berisi pernyataan seorang pemuka agama yang mengharamkan wisata ke Candi Borobudur.
Pernyataan Ustaz Sofyan Chalid ini adalah dalam video unggahan tahun 2018. Namun belakangan diramaikan kembali. Jauh sebelum itu, yakni tahun Juni 2016, Buya Yahya juga mengeluarkan pernyataan senada ketika ditanya seorang santrinya. Pernyataan Buya Yahya ini bisa di kanal YouTuber Al-Bahjah TV.
Baca juga: Sandiaga Uno Tanggapi Video Viral yang Haramkan Berwisata ke Candi Borobudur
Viralnya kembali masalah hukum wisata ke situs kuno macam Candi Borobudur ini mengundang reaksi berbagai pihak. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengingatkan bahwa Candi Borobudur adalah bagian dari sejarah Nusantara serta menjadi destinasi wisata super prioritas yang perlu dijaga kelestariannya. Juga menjadi pembuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya.
"Sebagai negara demokrasi, kita ya mengacu kepada arahan atau panutan sesuai dengan bimbingan masing-masing dan di sini tentunya Kementerian Agama dan MUI yang memiliki otoritas," kata Sandiaga.
Sandiaga pun tak ingin mengusik kepercayaan pihak lain. Ia pun percaya, bahwa Islam merupakan agama yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan.
"Saya memegang keyakinan bahwa kita menganut Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang sangat toleransi terhadap umat beragama lain," tuturnya.
Baca juga: Santri Tutup Telinga, Musik Haram? Begini Pendapat Imam Al-Gazali
Sekendang sepenarian, Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar berpendapat berwisata itu mubah atau diperbolehkan. "Tidak ada larangan dalam Al-Quran," tuturnya.
Dia mengingatkan agar masyarakat memahami Al-Quran secara komprehensif dari berbagai sudut pandang, tidak sepotong-potong.
Borobudur adalah peninggalan agama lain yang hendaknya dipahami sebagai sebuah sejarah. "Ini masalah muamalah, bukan akidah," katanya. “Muamalah ya muamalah, tidak perlu dikait-kaitkan dengan akidah,” tegasnya.
Pernyataan Ustaz Sofyan Chalid ini adalah dalam video unggahan tahun 2018. Namun belakangan diramaikan kembali. Jauh sebelum itu, yakni tahun Juni 2016, Buya Yahya juga mengeluarkan pernyataan senada ketika ditanya seorang santrinya. Pernyataan Buya Yahya ini bisa di kanal YouTuber Al-Bahjah TV.
Baca juga: Sandiaga Uno Tanggapi Video Viral yang Haramkan Berwisata ke Candi Borobudur
Viralnya kembali masalah hukum wisata ke situs kuno macam Candi Borobudur ini mengundang reaksi berbagai pihak. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengingatkan bahwa Candi Borobudur adalah bagian dari sejarah Nusantara serta menjadi destinasi wisata super prioritas yang perlu dijaga kelestariannya. Juga menjadi pembuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya.
"Sebagai negara demokrasi, kita ya mengacu kepada arahan atau panutan sesuai dengan bimbingan masing-masing dan di sini tentunya Kementerian Agama dan MUI yang memiliki otoritas," kata Sandiaga.
Sandiaga pun tak ingin mengusik kepercayaan pihak lain. Ia pun percaya, bahwa Islam merupakan agama yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan.
"Saya memegang keyakinan bahwa kita menganut Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang sangat toleransi terhadap umat beragama lain," tuturnya.
Baca juga: Santri Tutup Telinga, Musik Haram? Begini Pendapat Imam Al-Gazali
Sekendang sepenarian, Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar berpendapat berwisata itu mubah atau diperbolehkan. "Tidak ada larangan dalam Al-Quran," tuturnya.
Dia mengingatkan agar masyarakat memahami Al-Quran secara komprehensif dari berbagai sudut pandang, tidak sepotong-potong.
Borobudur adalah peninggalan agama lain yang hendaknya dipahami sebagai sebuah sejarah. "Ini masalah muamalah, bukan akidah," katanya. “Muamalah ya muamalah, tidak perlu dikait-kaitkan dengan akidah,” tegasnya.
Lihat Juga :