Kisah Jimat Sulaiman dan Jin Mencumbui Semua Istri Sang Nabi

Senin, 18 Oktober 2021 - 05:15 WIB
Sebagian ulama berpendapat kisah yang menyebutkan bahwa ‘kesaktian’ Nabi Sulaiman as bersumber dari cincin yang ia pakai, tidak bisa dipertanggungjawabkan. (Ilusttrasi :Ist)
Para ulama tafsir berbeda-beda dalam menafsirkan Al-Quran Surat Shad ayat 34. Paling menonjol dan mengundang perbedaan adalah perihal kisah jimat Nabi Sulaiman as . Dalam kisah itu disebutkan bahwa setelah jin sukses mencuri jimat Nabi Sulaiman, maka jin menggagahi semua istri sang nabi selama 40 hari.

Baca juga: Belajar dari Kisah Nabi Sulaiman, Diuji dengan Anak yang Kurang Sempurna

Kisah ini disebutkan dalam beberapa literatur tafsir, tatkala memasuki pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan fitnah (ujian) yang Allah SWT sebutkan dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ


Artinya: “Sungguh Kami telah menguji Sulaiman dan kami letakkan sebuah jasad di atas singgasananya. Kemudian dia bertaubat”. [ QS Shad/38:34 ]

Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam kitabnya An-Nafahat Al-Makkiyah menafsirkan ayat ini sbb:

"(Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman) Kami telah mencobanya dengan suatu ujian, yaitu kerajaannya dirampas oleh orang lain. Demikian itu, karena ia pernah menikahi seorang perempuan yang ia sukai, hanya perempuan itu termasuk orang yang menyembah berhala, tanpa sepengetahuan Nabi Sulaiman.

Dan tersebutlah bahwa kebesarannya itu terletak pada cincinnya kemudian pada suatu hari ketika ia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi, ia melepaskan cincinnya itu. Lalu ia menitipkannya kepada salah seorang dari istrinya yang bernama Aminah, sebagaimana biasanya.

Setelah ia pergi tiba-tiba datanglah makhluk jin yang menyerupai Nabi Sulaiman, kemudian jin itu mengambil cincin itu dari Aminah dan langsung memakainya (dan Kami dudukkan pada singgasananya sesosok jasad) yaitu jin tersebut, yang bernama Shakhr atau jin lainnya, kemudian jin itu menduduki singgasana Nabi Sulaiman.

Ketika itu juga ia dikelilingi burung-burung dan lain-lainnya. Lalu muncullah Nabi Sulaiman dalam bentuk yang tidak seperti biasanya, yakni tanpa pakaian kebesaran, ia melihat bahwa di singgasananya telah duduk seseorang.

Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada di situ, "Aku adalah Sulaiman."

Akan tetapi orang-orang mengingkarinya (kemudian ia kembali) yakni kembali dapat merebut kebesarannya setelah selang beberapa hari; yaitu setelah ia berhasil merebut cincin kebesarannya, lalu memakainya dan duduk di atas singgasananya kembali.

Tafsir sejenis, redaksinya cukup panjang, intinya: “Konon Nabi Sulaiman as menikahi seorang wanita yang sangat beliau cintai, namanya Jaradah. Hanya saja ia menyembah berhala di rumah Nabi Sulaiman, tanpa sepengetahuan beliau.

Dikisahkan bahwa kekuatan Nabi Sulaiman, baik yang berkenaan dengan kerajaan maupun kenabian beliau, terletak pada cincin yang ia pakai.

Pada suatu hari ketika hendak memasuki kamar kecil, beliau menitipkan cincinnya kepada salah seorang istrinya, Aminah. Sebelum beliau menyelesaikan hajatnya, datanglah setan yang menyamar dalam bentuk Nabi Sulaiman dan mengambil cincin tersebut lalu menduduki singgasana Nabi Sulaiman. Akibatnya, Nabi Sulaiman kehilangan kekuatannya, dan berubah bentuk, kemudian terusir dari kerajaannya.

Ath-Thabari menyebutkan bahwa nama setan (jin) tersebut adalah Sakhr, demikianlah menurut Ibnu Abbas dan Qatadah. Menurut pendapat lain nama setan itu adalah Asif, kata Mujahid. Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Asruwa, yang juga kata Mujahid. sedangkan menurut As-Saddi, nama setan itu adalah Habyaq.

Si iblis berkuasa dan ‘menggagahi’ para istri Nabi Sulaiman, sampaipun pada masa haidh mereka. Hingga akhirnya Nabi Sulaiman menemukan cincinnya kembali, dalam perut seekor ikan yang dia dapatkan dari seorang nelayan tempat beliau bekerja, dst”.[Lihat Tafsîr ath-Thabarî (XX/88-92), Tafsîr Ibn Abî Hâtim (X/3241-3243), Tafsîr al-Baghawî (VII/90-94), ad-Durr al-Mantsûr karya as-Suyûthî (XII/570-583) dan yang lainnya].

Baca juga: Surat Shaad: Doa Nabi Sulaiman untuk Mempercepat Rezeki



Berbagai Versi


Kisah ini memang banyak versinya. Sa'id ibnu Abu Arubah, misalnya, telah meriwayatkan dari Qatadah yang telah menceritakan bahwa Sulaiman diperintahkan untuk membangun Baitul Maqdis. Maka dikatakan kepadanya, "Bangunlah ia, tetapi jangan sampai terdengar suara besi beradu."

Nabi Sulaiman as berusaha untuk melakukannya, tetapi tidak mampu (karena harus tanpa suara).

Kemudian dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya ada yang mampu melakukannya. Dia adalah setan yang bertempat tinggal di laut, dikenal dengan nama Sakhr, jin yang jahat."

Maka Sulaiman mencarinya, dan tersebutlah bahwa di tepi laut tersebut terdapat sebuah mata air yang biasa didatangi oleh jin Sakhr untuk minum darinya seminggu-sekali. Lalu Nabi Sulaiman mengeringkan airnya dan menggantinya dengan khamr.

Dan pada hari minumnya, jin Sakhr datang. Ternyata ia menjumpainya telah menjadi khamr, maka ia berkata, "Sesungguhnya airmu ini adalah minuman yang baik, hanya saja engkau akan membuat orang yang penyabar menjadi mabuk dan membuat orang yang bodoh makin bertambah bodoh."

Setelah minum Sakhr pulang, dan kembali lagi kepadanya setelah merasa kehausan yang sangat. Ia berkata, "Sesungguhnya engkau adalah minuman yang baik, tetapi engkau dapat menjadikan orang yang penyabar mabuk dan menambahkan kebodohan kepada orang yang bodoh." Lalu Sakhr meminumnya lagi hingga pengaruh khamr menguasai akalnya.

Kemudian diperlihatkan kepadanya cincin Sulaiman, atau cincin itu ditempelkan di antara kedua tulang belikatnya, hingga Sakhr lumpuh dan tunduk.

Disebutkan bahwa letak kesaktian Nabi Sulaiman berada pada cincinnya. Lalu Sakhr dibawa menghadap kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Sulaiman berkata, "Sesungguhnya kami telah diperintahkan untuk membangun rumah ini (Baitul Maqdis), dan dikatakan kepada kami bahwa dalam membangunnya tidak boleh ada suara besi."

Maka Sakhr mendatangkan telur burung hudhud, lalu meletakkannya di dalam sebuah kotak kaca yang tertutup rapat. Ketika induk burung hudhud itu datang, ia hanya bisa berputar di sekitar peti kaca tersebut; ia dapat melihat telurnya, tetapi tidak dapat mendekatinya. Maka burung hudhud itu pergi dan datang lagi dengan membawa intan, lalu ia mengeratkan intan itu pada kotak kaca dan pecahlah kacanya hingga ia bisa mengerami telurnya. Maka Nabi Sulaiman mengambil intan dan menjadikannya sebagai alat untuk memotong batu-batuan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!