Abu Dzar Al-Ghifari (6): Menyusul Anak, Istri, Meninggal di Pengasingan
Rabu, 20 Oktober 2021 - 21:55 WIB
Menolak Utsman
Berita tentang sakitnya Abu Dzar sampai juga ke Khalifah Utsman bin Affan . Kemudian Utsman mengirim utusannya untuk menemui Abu Dzar, atas perintah Utsman utusan tersebut menawarkan untuk mengabulkan apapun keinginan Abu Dzar. Namun Abu Dzar menolaknya, dia lebih memilih untuk tinggal di Rabzah sampai akhir hayatnya.
Saat Abu Dzar sudah dalam kondisi sakaratul maut, anak perempuannya berkisah:
Kami melewati hari-hari kami dengan penderitaan yang tak terkira di padang gurun. Suatu hari kami tidak dapat makan apa pun. Kami terus mencari-cari di sekitar hutan tapi tidak dapat menemukan apapun.
Ayah yang sedang sakit berkata kepadaku, "Anakku, kenapa engkau begitu khawatir hari ini?"
Aku berkata, "Ayah! Aku sangat lapar dan lemah. Engkau juga dalam keaadaan sangat lapar. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan tapi tidak dapat menemukan apapun sehingga aku merasa tidak enak kepadamu."
Abu Dzar berkata, "Jangan khawatir. Allah adalah penentu besar urusan kita."
Aku berkata, "Ayah! Ini benar tapi tidak ada yang terlihat untuk memenuhi kebutuhan kita."
Dia berkata, "Anakku, pegang aku di bahu dan bawalah aku ke arah itu. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di sana."
Aku memegang tangannya dan mulai berjalan ke arah yang dimintanya. Dalam perjalanan ayahku memintaku untuk membuatnya duduk di tanah. Aku mendudukkannya di atas pasir yang panas. Dia mengumpulkan beberapa pasir dan berbaring dengan kepalanya di atasnya.
Begitu dia berbaring di tanah, matanya mulai berputar dan dia mengalami penderitaan menjelang kematian. Melihat ini aku mulai menangis dengan suara serak.
Kemudian sambil memegang kendali atas dirinya sendiri dia berkata, "Kenapa kamu menangis, anakku?"
Berita tentang sakitnya Abu Dzar sampai juga ke Khalifah Utsman bin Affan . Kemudian Utsman mengirim utusannya untuk menemui Abu Dzar, atas perintah Utsman utusan tersebut menawarkan untuk mengabulkan apapun keinginan Abu Dzar. Namun Abu Dzar menolaknya, dia lebih memilih untuk tinggal di Rabzah sampai akhir hayatnya.
Saat Abu Dzar sudah dalam kondisi sakaratul maut, anak perempuannya berkisah:
Kami melewati hari-hari kami dengan penderitaan yang tak terkira di padang gurun. Suatu hari kami tidak dapat makan apa pun. Kami terus mencari-cari di sekitar hutan tapi tidak dapat menemukan apapun.
Ayah yang sedang sakit berkata kepadaku, "Anakku, kenapa engkau begitu khawatir hari ini?"
Aku berkata, "Ayah! Aku sangat lapar dan lemah. Engkau juga dalam keaadaan sangat lapar. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan tapi tidak dapat menemukan apapun sehingga aku merasa tidak enak kepadamu."
Abu Dzar berkata, "Jangan khawatir. Allah adalah penentu besar urusan kita."
Aku berkata, "Ayah! Ini benar tapi tidak ada yang terlihat untuk memenuhi kebutuhan kita."
Dia berkata, "Anakku, pegang aku di bahu dan bawalah aku ke arah itu. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di sana."
Aku memegang tangannya dan mulai berjalan ke arah yang dimintanya. Dalam perjalanan ayahku memintaku untuk membuatnya duduk di tanah. Aku mendudukkannya di atas pasir yang panas. Dia mengumpulkan beberapa pasir dan berbaring dengan kepalanya di atasnya.
Begitu dia berbaring di tanah, matanya mulai berputar dan dia mengalami penderitaan menjelang kematian. Melihat ini aku mulai menangis dengan suara serak.
Kemudian sambil memegang kendali atas dirinya sendiri dia berkata, "Kenapa kamu menangis, anakku?"
Lihat Juga :