Abu Dzar Al-Ghifari (6): Menyusul Anak, Istri, Meninggal di Pengasingan

Rabu, 20 Oktober 2021 - 21:55 WIB
Abu Dzar Al-Ghifari meninggal di pengasihan, tempat ia dibuang di era Khalifah Utsman bin Affar. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Abu Dzar Al-Ghifari meninggal di tempat pengasingan dalam kondisi sangat menderita. Anak dan istrinya meninggal terlebih dahulu karena keracunan. Sahabat Nabi SAW , pejuang antikorupsi, ini mengadu kepada Allah SWT. "Wahai Pemeliharaku, aku bersumpah dengan keberadaan-Mu, dan Engkau tahu bahwa aku mengatakan kebenaran sehingga aku tidak pernah takut akan kematian dan selalu berharap untuk bertemu dengan-Mu."

Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein

Buku The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra) mengisahkan penderitaan sahabat agung Nabi SAW itu. Abu Dzar tinggal di Rabzah, tempat pengasingannya, bersama Istri dan kedua anaknya. Dzar, anak lelakinya, meninggal terlebih dahulu karena sakit. Tidak lama kemudian, istrinya pun meninggal karena memakan rumput beracun.

Abu Dzar pun sama-sama sakit karena sebab yang sama. Rabzah merupakan tempat yang terisolir dari peradaban, tidak ada siapapun di sana terkecuali Abu Dzar dan keluarganya.

Unta yang dulu mengantar Abu Dzar ke Rabzah telah disembelih dan dagingnya diawetkan untuk kebutuhan makan di hari-hari berikutnya. Di Rabzah tidak ada sumber makanan lainnya selain tinggal beberapa potong daging unta tersebut. Sehingga Abu Dzar dan keluarganya terpaksa makan rerumputan di sekitar sana, dan ternyata itu beracun.

Setelah kematian anak lelaki dan istrinya, Abu Dzar merasa lebih kesepian. Dia hanya memiliki anak perempuan bersamanya. Ketika orang-orang mengetahui tentang penyakit Abu Dzar, beberapa orang datang menemuinya.

Menurut pernyataan putri Abu Dzar mereka mengatakan kepadanya, “wahai Abu Dzar, apa yang engkau derita dan apa keluhanmu?”

Abu Dzar menjawab, “aku memiliki keluhan terhadap dosa-dosaku.”

Mereka berkata, “jika engkau suka, kami bisa memanggil dokter”.

Dia berkata, “Allah adalah penyembuh mutlak, penyakit dan juga obatnya ada dalam kuasa-Nya, aku tidak memerlukan dokter.”

Dia telah yakin bahwa kematian akan segera menghampirinya.

Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!