Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW untuk Menjaga Ukhuwah Wathaniyah
Kamis, 21 Oktober 2021 - 19:15 WIB
Ketua Bidang Kerukunan Antar-Umat Beragama MUI, Yusnar Yusuf Rangkuti menuturkan tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW. Foto/Ist
JAKARTA - Ketua Bidang Kerukunan Antar-Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Yusnar Yusuf Rangkuti menuturkan kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa suri tauladan kepada seluruh umat di muka bumi. Namun tidak serta merta membuat Nabi mudah dalam menyebarkan kebaikan. Terlebih munculnya perlawanan di Mekkah yang menyebabkan harus melakukan hijrah ke Madinah sebagai negeri yang aman dan damai.
“Sebagaimana Nabi Muhammad masuk ke Madinah, maka Madinah menjadi tanah yang madani, aman, damai, dan sebagainya sampai dengan hari ini. Inilah yang mau dicontoh Indonesia. Dengan masuknya Islam di Indonesia maka akan menumbuhkan kedamaian, kebaikan dan penuh toleransi,” tutur Yusnar di Jakarta, Kamis (21/10/21).
Baca juga: Masjid Quba Peringati Maulid Nabi, Ustad Ayub: Malaikat pun Segan dengan Nabi Muhammad SAW
Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Al Washliyah ini melanjutkan, adanya perbedaan suku dan agama di Indonesia menambah dinamika perkembangan Islam. Sehingga masyarakat memahami dan menjadi tahu bahwa agama-agama lain yang ada di Indonesia juga mengajarkan cinta terhadap perdamaian di mana semua agama mampu berjalan berdampingan.
“Karena Islam menjadi mayoritas di Indonesia tidak serta merta menjadikan aspek sosiologi-antropologinya mengikuti agama yang kita anut (Islam). Tetapi sebagai mayoritas maka sudah selayaknya kita menaungi dan merangkul saudara-saudara kita sebagai simbol perdamaian antar umat beragama,” ujar Yusnar.
Dalam tiga konsep ukhuwah, salah satunya yaituukhuwah wathaniyah(persaudaraan kebangsaan) menjadi hal yang harus didahulukan ketimbangukhuwah Islamiyah. Pada konsepukhuwah wathaniyahini seseorang atau sekelompok masyarakat merasa bersaudara dan membina hubungan baik karena merupakan bagian dari satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.
“Harus kita tumbuhkan terus wathoniyahkita antara kita dengan bangsa yang lain, dengan agama yang lain juga. Kita tunjukkan bahwa Islam itulah yang menjadi pahlawan, Islam di Indonesia ini bisa menjadi motor penggerak apa saja,” ucap anggota Gugus Tugas Pemuka Lintas Agama BNPT ini.
Baca juga: Peringati Maulid Nabi, Ketua Lembaga Dakwah PBNU: Jangan Pernah Berpaling dari Para Kiai
Menurut Yusnar, sejatinya banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjagaukhuwah wathaniyah. Misalnya dengan memberikan bantuan-bantuan sosial secara konkrit, terlebih ketika pandemi COVID-19. Masyarakat yang mampu harus peka untuk menolong orang-orang di sekitarnya tanpa mempedulikan perbedaan suku dan agama.
“Sebagaimana Nabi Muhammad masuk ke Madinah, maka Madinah menjadi tanah yang madani, aman, damai, dan sebagainya sampai dengan hari ini. Inilah yang mau dicontoh Indonesia. Dengan masuknya Islam di Indonesia maka akan menumbuhkan kedamaian, kebaikan dan penuh toleransi,” tutur Yusnar di Jakarta, Kamis (21/10/21).
Baca juga: Masjid Quba Peringati Maulid Nabi, Ustad Ayub: Malaikat pun Segan dengan Nabi Muhammad SAW
Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Al Washliyah ini melanjutkan, adanya perbedaan suku dan agama di Indonesia menambah dinamika perkembangan Islam. Sehingga masyarakat memahami dan menjadi tahu bahwa agama-agama lain yang ada di Indonesia juga mengajarkan cinta terhadap perdamaian di mana semua agama mampu berjalan berdampingan.
“Karena Islam menjadi mayoritas di Indonesia tidak serta merta menjadikan aspek sosiologi-antropologinya mengikuti agama yang kita anut (Islam). Tetapi sebagai mayoritas maka sudah selayaknya kita menaungi dan merangkul saudara-saudara kita sebagai simbol perdamaian antar umat beragama,” ujar Yusnar.
Dalam tiga konsep ukhuwah, salah satunya yaituukhuwah wathaniyah(persaudaraan kebangsaan) menjadi hal yang harus didahulukan ketimbangukhuwah Islamiyah. Pada konsepukhuwah wathaniyahini seseorang atau sekelompok masyarakat merasa bersaudara dan membina hubungan baik karena merupakan bagian dari satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.
“Harus kita tumbuhkan terus wathoniyahkita antara kita dengan bangsa yang lain, dengan agama yang lain juga. Kita tunjukkan bahwa Islam itulah yang menjadi pahlawan, Islam di Indonesia ini bisa menjadi motor penggerak apa saja,” ucap anggota Gugus Tugas Pemuka Lintas Agama BNPT ini.
Baca juga: Peringati Maulid Nabi, Ketua Lembaga Dakwah PBNU: Jangan Pernah Berpaling dari Para Kiai
Menurut Yusnar, sejatinya banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjagaukhuwah wathaniyah. Misalnya dengan memberikan bantuan-bantuan sosial secara konkrit, terlebih ketika pandemi COVID-19. Masyarakat yang mampu harus peka untuk menolong orang-orang di sekitarnya tanpa mempedulikan perbedaan suku dan agama.
Lihat Juga :