Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pentingnya Hari Lahir dalam Islam
Senin, 08 November 2021 - 08:36 WIB
Laman Tafsiralquran menandaskan di sinilah alasan mengenang dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, wafatnya dan hari-hari bersejarah lainnya menjadi penting.
Baca juga: Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW untuk Menjaga Ukhuwah Wathaniyah
Tradisi Perayaan
Pada hakikatnya, orang pertama yang mentradisikan perayaan hari lahir adalah Nabi Muhammad SAW sendiri dengan mengkhususkan hari lahir beliau dengan ibadah khusus pula, yaitu puasa di hari Senin. Itulah makna perayaan.
Ibn al-Haj (w. 737 H) dalam al-Madkhal ila Tanmiyah al-A’mal menarik istinbath dari riwayat tersebut dengan menyebutkan, “…tetapi, Nabi Muhammad SAW memberi isyarat akan keutamaan bulan ini (Rabiul Awal) dengan sabda beliau SAW ketika ditanya perihal puasa hari Senin yang beliau lakukan. “Pada hari itulah aku dilahirkan,” begitu jawaban yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Dengan demikian, pemuliaan terhadap hari Senin merupakan pemuliaan juga terhadap bulan di mana beliau dilahirkan.”
Masih dalam al-Madkhal, Ibn al-Haj melanjutkan, “Maka sudah seharusnya kita memuliakan hari dan bulan tersebut dengan sebenar-benarnya. Keutamaan yang terdapat pada waktu dan tempat tertentu itu ditunjukkan dengan ibadah-ibadah yang dikhususkan di dalamnya.
Suatu masa dan tempat tidak menjadi mulia dengan sendirinya. Tetapi ia menjadi mulia karena ada makna spesial di dalamnya. Maka lihatlah pengistimewaan yang Allah lakukan pada hari Senin dan bulan Rabiul Awal tersebut.”
“Tidakkah Anda tahu, bahwa puasa pada hari Senin mengandung keutamaan yang agung? Pada hari itulah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Sudah semestinya bagi seorang Muslim untuk memuliakan, dan mengagungkan bulan ini (Rabiul Awal) dengan sebenar pemuliaan. Caranya dengan ber-ittiba’, mengikuti Nabi Muhammad, seperti halnya mengkhususkan waktu-waktu yang utama dengan memperbanyak amal kebaikan,” demikian Ibn al-Haj.
Baca juga: Libur Maulid Nabi Muhammad Digeser, Wapres: Untuk Hindari Hari Kejepit
Menyangkal Klaim Syubhat
Baca juga: Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW untuk Menjaga Ukhuwah Wathaniyah
Tradisi Perayaan
Pada hakikatnya, orang pertama yang mentradisikan perayaan hari lahir adalah Nabi Muhammad SAW sendiri dengan mengkhususkan hari lahir beliau dengan ibadah khusus pula, yaitu puasa di hari Senin. Itulah makna perayaan.
Ibn al-Haj (w. 737 H) dalam al-Madkhal ila Tanmiyah al-A’mal menarik istinbath dari riwayat tersebut dengan menyebutkan, “…tetapi, Nabi Muhammad SAW memberi isyarat akan keutamaan bulan ini (Rabiul Awal) dengan sabda beliau SAW ketika ditanya perihal puasa hari Senin yang beliau lakukan. “Pada hari itulah aku dilahirkan,” begitu jawaban yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Dengan demikian, pemuliaan terhadap hari Senin merupakan pemuliaan juga terhadap bulan di mana beliau dilahirkan.”
Masih dalam al-Madkhal, Ibn al-Haj melanjutkan, “Maka sudah seharusnya kita memuliakan hari dan bulan tersebut dengan sebenar-benarnya. Keutamaan yang terdapat pada waktu dan tempat tertentu itu ditunjukkan dengan ibadah-ibadah yang dikhususkan di dalamnya.
Suatu masa dan tempat tidak menjadi mulia dengan sendirinya. Tetapi ia menjadi mulia karena ada makna spesial di dalamnya. Maka lihatlah pengistimewaan yang Allah lakukan pada hari Senin dan bulan Rabiul Awal tersebut.”
“Tidakkah Anda tahu, bahwa puasa pada hari Senin mengandung keutamaan yang agung? Pada hari itulah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Sudah semestinya bagi seorang Muslim untuk memuliakan, dan mengagungkan bulan ini (Rabiul Awal) dengan sebenar pemuliaan. Caranya dengan ber-ittiba’, mengikuti Nabi Muhammad, seperti halnya mengkhususkan waktu-waktu yang utama dengan memperbanyak amal kebaikan,” demikian Ibn al-Haj.
Baca juga: Libur Maulid Nabi Muhammad Digeser, Wapres: Untuk Hindari Hari Kejepit
Menyangkal Klaim Syubhat
Lihat Juga :