Kurban di Saat Pandemi Buktikan Ketakwaan dan Keikhlasan
Sabtu, 06 Juni 2020 - 02:03 WIB
Dalam merayakan Idul Adha nanti, umat Islam bisa berbagi kebahagiaan kepada saudara seiman. Foto/Ist
JAKARTA - Idul Adha merupakan even akbar yang dirayakan umat muslim sedunia selain Idul Fitri. Dalam merayakan momen istimewa ini, umat Islam bisa berbagi kebahagiaan kepada saudara seiman. Dan yang paling berkesan dalam merayakan Idul Adha adalah perintah untuk berkurban.
Banyak ulama menerangkan bahwa berkurban di Idul Adha memiliki nilai yang utama, bahkan bila nilai sedekahnya lebih besar dari harga hewan kurban. Berawal dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan putranya Nabi Ismail, dalam membuktikan ketakwaannya kepada Allah Ta'ala, Tuhan semesta alam.(Baca Juga: Nilai-Nilai Ilahiah dan Insaniah Ibadah Kurban)
Seperti yang dikisahkan dalam banyak siroh, Nabi Ibrahim merupakan seorang hamba yang sangat patuh kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala, termasuk ketika diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail, anaknya. Padahal beliau telah menantikan kehadiran buah hati sejak lama. Begitu mendengar bahwa yang memerintahkan adalah Rabbul'alamin, Nabi Ismail tidak menolak dan tidak gentar sedikitpun. Berkat ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim serta anaknya, Allah melepaskan cobaan kepada mereka dan menggantikan Ismail dengan seekor domba yang besar.
Selain memantuhi perintah Allah, berkurban menjadi pembuktian cinta pada pencipta. Jika ditelisik lebih dalam, ada banyak keteladanan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah. Dalam meraih takwa, bukan hanya menyembelih hewan kurban saja tetapi ketakwaan hamba dalam kesabaran demi meraih ridhoNya.
Betapa banyak umat muslim yang enggan kurban terlebih di saat krisis akibat pandemi Covid-19. Poin keikhlasan menjadi landasan perintah berkurban terkait dengan kondisi pandemi saat ini karena masyarakat sedang dalam ekonomi ambruk, nafkah kian sulit dicari, kebutuhan sehari-hari sulit dipenuhi. Namun bila mengambil pelajaran dari ketauhidan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Allah selalu memberikan hikmah bagi yang mematuhi syariatNya.
Bisa jadi, kurban menjadi kunci pembuka untuk lebih mengenal agama Islam dimana kita bisa mengukur skala prioritas dalam hidup. Bukan berarti mengabaikan kebutuhan dunia, tetapi menempatkan prioritas agama harus ada dalam paradigma seorang muslim. Bila ibadah telah dijadikan prioritas tertinggi, maka menunaikan kurban tidak menjadi hal yang memberatkan.
Meski demikian, tidak semua umat muslim rela menyisihkan harta terbaik yang dimilikinya untuk berkurban. Berbagai sebab menjadi alasan sebabnya, entah karena lupa batas akhir berkurban, pengalihan alokasi dana untuk kebutuhan lain, hingga keraguan dan kekhawatiran yang datang. Namun dari semua alasan tersebut, sebenarnya muara ada pada kurangnya kesungguhan dalam menunaikan kurban.
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba’: 39).(Baca Juga: ACT Ajak Dermawan Berbagi Kurban di Pelosok Indonesia dan Dunia)
Banyak ulama menerangkan bahwa berkurban di Idul Adha memiliki nilai yang utama, bahkan bila nilai sedekahnya lebih besar dari harga hewan kurban. Berawal dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan putranya Nabi Ismail, dalam membuktikan ketakwaannya kepada Allah Ta'ala, Tuhan semesta alam.(Baca Juga: Nilai-Nilai Ilahiah dan Insaniah Ibadah Kurban)
Seperti yang dikisahkan dalam banyak siroh, Nabi Ibrahim merupakan seorang hamba yang sangat patuh kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala, termasuk ketika diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail, anaknya. Padahal beliau telah menantikan kehadiran buah hati sejak lama. Begitu mendengar bahwa yang memerintahkan adalah Rabbul'alamin, Nabi Ismail tidak menolak dan tidak gentar sedikitpun. Berkat ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim serta anaknya, Allah melepaskan cobaan kepada mereka dan menggantikan Ismail dengan seekor domba yang besar.
Selain memantuhi perintah Allah, berkurban menjadi pembuktian cinta pada pencipta. Jika ditelisik lebih dalam, ada banyak keteladanan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah. Dalam meraih takwa, bukan hanya menyembelih hewan kurban saja tetapi ketakwaan hamba dalam kesabaran demi meraih ridhoNya.
Betapa banyak umat muslim yang enggan kurban terlebih di saat krisis akibat pandemi Covid-19. Poin keikhlasan menjadi landasan perintah berkurban terkait dengan kondisi pandemi saat ini karena masyarakat sedang dalam ekonomi ambruk, nafkah kian sulit dicari, kebutuhan sehari-hari sulit dipenuhi. Namun bila mengambil pelajaran dari ketauhidan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Allah selalu memberikan hikmah bagi yang mematuhi syariatNya.
Bisa jadi, kurban menjadi kunci pembuka untuk lebih mengenal agama Islam dimana kita bisa mengukur skala prioritas dalam hidup. Bukan berarti mengabaikan kebutuhan dunia, tetapi menempatkan prioritas agama harus ada dalam paradigma seorang muslim. Bila ibadah telah dijadikan prioritas tertinggi, maka menunaikan kurban tidak menjadi hal yang memberatkan.
Meski demikian, tidak semua umat muslim rela menyisihkan harta terbaik yang dimilikinya untuk berkurban. Berbagai sebab menjadi alasan sebabnya, entah karena lupa batas akhir berkurban, pengalihan alokasi dana untuk kebutuhan lain, hingga keraguan dan kekhawatiran yang datang. Namun dari semua alasan tersebut, sebenarnya muara ada pada kurangnya kesungguhan dalam menunaikan kurban.
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba’: 39).(Baca Juga: ACT Ajak Dermawan Berbagi Kurban di Pelosok Indonesia dan Dunia)
Lihat Juga :