Kisah Sufi Awad Afifi: Sungai, Angin, dan Gurun Pasir

Senin, 06 Desember 2021 - 16:55 WIB
"Sayangnya engkau tidak bisa," kata bisikan itu. "Bagian esensimu terbawa pergi dan membentuk sungai lagi. Engkau disebut sungai hari ini sebab engkau tidak tahu bagian mana dari dirimu yang merupakan essensi."

Baca juga: Kisah Sufi Dzun Nun: Ketika Air Berubah

Mendengar hal itu, sesuatu gema muncul dalam benak sungai itu. Samar-samar, ia ingat suatu keadaan di mana dirinya --atau sebagian dirinya?-- berada dalam pelukan angin. Ia juga ingat --atau tidakkah?-- bahwa hal itulah yang nyata, bukan yang seharusnya, terjadi.

Lalu, sungai itu melepaskan uap-uapnya ke dalam lengan angin yang menyambut, yang dengan lembut dan ringan mengangkatnya dan menerbangkannya.

Setelah sampai di puncak gunung nun jauh di sana, angin menjatuhkannya perlahan kembali ke tanah.

Sungai itu merekam kuat di dalam benaknya semua rinci pengalaman itu, sebab sebelumnya ia telah ragu. Ia merenungkannya, "Ya, sekarang aku telah mengenal jati diriku sebenarnya."

Sungai itu mendapat pelajaran. Namun, itu berbisik: "Kami tahu, sebab kami melihatnya terjadi hari demi hari; dan sebab kami, pasir, membentang dari tepi sungai gunung."

Dan itulah sebabnya dikatakan bahwa jalan yang ditempuh oleh Sungai Kehidupan dalam pengembaraannya terpatri di atas pasir.

Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.

Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Orang yang Waktunya Keliru
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!