Karomah Seorang Ibu yang Digambarkan dalam Al-Qur'an
Rabu, 22 Desember 2021 - 09:28 WIB
Seorang ibu sejati hanya punya satu niat yang tulus, yaitu ingin membahagiakan anak-anaknya. Karena itu Allah memberikan karomah secara khusus kepara para ibu. Foto ilustrasi/ist
Islam sangat memuliakan sosok ibu , karena sejatinya seorang ibu hanya punya satu niat yang tulus, yaitu ingin membahagiakan anak-anaknya. Karena itu Allah memberikan karomah secara khusus kepara para ibu. Allah memberikan kemuliaan kepada ibu, melebihi kemuliaan yang diberikan kepada ayah.
Ingat hadis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam , dalam Kitab Sahih Muslim, diriwayatkan oleh Abu Hurairah, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, siapa yang paling berhak untuk aku berbakti? Rasulullah SAW berkata; Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu, lalu orang-orang yang terdekat denganmu.” (HR Muslim)
Baca juga: Karomah Habib al-Ajami, Kisah Seorang Ibu yang Rindukan Anaknya
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memposisikan derajat seorang ibu melebihi ayah. Karena itu Rasulullah mengingatkan pentingnya kepatuhan anak terhadap orang tua perempuan. Ibu sejati hanya punya satu tujuan yang tidak pernah berhenti untuk diperjuangkan, yaitu mengantarkan anak meraih mimpi-mimpinya.
Ibu adalah karomah bagi anak-anaknya. Bukti karomah itu ialah bahwa ibu selalu bisa memberikan apa saja yang terbaik untuk anaknya. Ibu selalu ada untuk anaknya dan bisa menghadirkan keajaiban di saat anak-anaknya dalam bahaya. Ustad Muchyidin Zainudin menjelaskan dalam tausiyahnya bahwa kehadiran kita di dunia ini, tidak dapat kita pungkiri, adalah dengan sebuah pengorbanan yang sangat besar dari ibu kita.
Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan sosok ibu ini:
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." (QS Lukman : 14)
Banyak kisah-kisah ketulusan, kasih sayang dan sikap heroik ibu terhadap anaknya. Yang pertama, adalah peristiwa saat Nabi Isa 'Alaihisallam berbicara saat masih bayi. Sungguh adalah sebuah peristiwa yang sangat besar saat Allah menciptakan Nabi Isa tanpa seorang ayah, untuk menunjukkan kebesaran Allah Ta'ala.
Ingat hadis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam , dalam Kitab Sahih Muslim, diriwayatkan oleh Abu Hurairah, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, siapa yang paling berhak untuk aku berbakti? Rasulullah SAW berkata; Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu, lalu orang-orang yang terdekat denganmu.” (HR Muslim)
Baca juga: Karomah Habib al-Ajami, Kisah Seorang Ibu yang Rindukan Anaknya
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memposisikan derajat seorang ibu melebihi ayah. Karena itu Rasulullah mengingatkan pentingnya kepatuhan anak terhadap orang tua perempuan. Ibu sejati hanya punya satu tujuan yang tidak pernah berhenti untuk diperjuangkan, yaitu mengantarkan anak meraih mimpi-mimpinya.
Ibu adalah karomah bagi anak-anaknya. Bukti karomah itu ialah bahwa ibu selalu bisa memberikan apa saja yang terbaik untuk anaknya. Ibu selalu ada untuk anaknya dan bisa menghadirkan keajaiban di saat anak-anaknya dalam bahaya. Ustad Muchyidin Zainudin menjelaskan dalam tausiyahnya bahwa kehadiran kita di dunia ini, tidak dapat kita pungkiri, adalah dengan sebuah pengorbanan yang sangat besar dari ibu kita.
Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan sosok ibu ini:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." (QS Lukman : 14)
Banyak kisah-kisah ketulusan, kasih sayang dan sikap heroik ibu terhadap anaknya. Yang pertama, adalah peristiwa saat Nabi Isa 'Alaihisallam berbicara saat masih bayi. Sungguh adalah sebuah peristiwa yang sangat besar saat Allah menciptakan Nabi Isa tanpa seorang ayah, untuk menunjukkan kebesaran Allah Ta'ala.
Lihat Juga :