Selain Nabi Isa, Nabi Yehezkiel Juga Bisa Menghidupkan Orang Mati
Senin, 27 Desember 2021 - 05:15 WIB
Siapa Yehezkiel?
Identitas Yehezkiel di dalam Islam masih menjadi perdebatan. Aysha Hidayatullah, seorang professor Studi Islam dari Universitas San Fransico, Amerika Serikat, dalam buku Encyclopedia of Islam, mengatakan bahwa Yehezkiel adalah salah seorang nabi di dalam Islam, dan di dalam Islam dia disebut dengan nama Zulkifli.
Nama Zulkifli disebutkan sebanyak dua kali di dalam al-Quran yakni dalam surat Sad ayat 48 dan surat Anl-Anbiya ayat 85:
“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” ( QS Sad : 48)
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” ( QS Al-Anbiya : 85)
Hanya saja, menurut Ath-Thabari, yang dimaksud Zulkifli dalam ayat di atas adalah seorang nabi, tapi dia merupakan orang yang berbeda dengan Yehezkiel.
Menurut al-Tabari, Zulkifli adalah putra dari Nabi Ayyub. Waktu itu dikisahkan, menjelang kematiannya saat dia berusia 93 tahun, Ayyub menunjuk Hawmal, putranya, untuk menjadi pewarisnya. Namun, setelah Ayyub meninggal, Allah SWT menunjuk putra Ayyub lainnya yang bernama Bishr untuk menjadi seorang nabi, dialah yang kemudian disebut dengan nama Zulkifli oleh Allah SWT.
Zulkifli kemudian diperintahkan oleh-Nya untuk mendakwahkan tentang Ketauhidan. Zulkifli tinggal sepanjang hidupnya di Suriah, dan dia meninggal pada usia 75. Sebelum meninggal, Zulkfli menunjuk putranya, Abdan, untuk menjadi pewarisnya.
Dalam kitab yang sama ath-Thabari mengatakan bahwa Yehezkiel adalah seorang nabi dari keturunan bangsa Israel. Kisah tentang Yehezkiel merupakan salah satu kisah yang disebutkan di dalam al-Quran, namun siapa nama tokohnya tidak disebutkan.
Menurut ath-Thabari, semua ulama terdahulu – sahabat Nabi dan beberapa generasi setelahnya – sepakat bahwa Yehezkiel adalah salah satu wali di antara wali-wali lainnya yang bertanggung jawab terhadap bangsa Israel. Nama lengkapnya adalah Yehezkiel bin Buzi, dan dia adalah orang yang biasa disebut Ibnu al-Ajuz (anak dari seorang wanita tua).
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak:
“Yehezkiel bin Buzi dinamai Ibnu al-Ajuz karena ibunya meminta kepada Allah SWT seorang anak laki-laki meskipun dia sudah tua dan mandul. Kemudian Allah memberikannya kepadanya. Untuk alasan itulah dia disebut ‘putra wanita tua.’ Dialah yang mendoakan orang-orang, yang disebutkan Allah dalam kitab suci kepada Muhammad SAW, sebagaimana itu telah sampai kepada kita: ‘Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati.’”
Baca juga: Nabi Isa Terima Wahyu Pertama Kali pada Usia 13 Tahun
Identitas Yehezkiel di dalam Islam masih menjadi perdebatan. Aysha Hidayatullah, seorang professor Studi Islam dari Universitas San Fransico, Amerika Serikat, dalam buku Encyclopedia of Islam, mengatakan bahwa Yehezkiel adalah salah seorang nabi di dalam Islam, dan di dalam Islam dia disebut dengan nama Zulkifli.
Nama Zulkifli disebutkan sebanyak dua kali di dalam al-Quran yakni dalam surat Sad ayat 48 dan surat Anl-Anbiya ayat 85:
وَاذۡكُرۡ اِسۡمٰعِيۡلَ وَ الۡيَسَعَ وَذَا الۡكِفۡلِؕ وَكُلٌّ مِّنَ الۡاَخۡيَارِؕ
“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” ( QS Sad : 48)
وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِدۡرِيۡسَ وَذَا الۡكِفۡلِؕ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيۡنَ
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” ( QS Al-Anbiya : 85)
Hanya saja, menurut Ath-Thabari, yang dimaksud Zulkifli dalam ayat di atas adalah seorang nabi, tapi dia merupakan orang yang berbeda dengan Yehezkiel.
Menurut al-Tabari, Zulkifli adalah putra dari Nabi Ayyub. Waktu itu dikisahkan, menjelang kematiannya saat dia berusia 93 tahun, Ayyub menunjuk Hawmal, putranya, untuk menjadi pewarisnya. Namun, setelah Ayyub meninggal, Allah SWT menunjuk putra Ayyub lainnya yang bernama Bishr untuk menjadi seorang nabi, dialah yang kemudian disebut dengan nama Zulkifli oleh Allah SWT.
Zulkifli kemudian diperintahkan oleh-Nya untuk mendakwahkan tentang Ketauhidan. Zulkifli tinggal sepanjang hidupnya di Suriah, dan dia meninggal pada usia 75. Sebelum meninggal, Zulkfli menunjuk putranya, Abdan, untuk menjadi pewarisnya.
Dalam kitab yang sama ath-Thabari mengatakan bahwa Yehezkiel adalah seorang nabi dari keturunan bangsa Israel. Kisah tentang Yehezkiel merupakan salah satu kisah yang disebutkan di dalam al-Quran, namun siapa nama tokohnya tidak disebutkan.
Menurut ath-Thabari, semua ulama terdahulu – sahabat Nabi dan beberapa generasi setelahnya – sepakat bahwa Yehezkiel adalah salah satu wali di antara wali-wali lainnya yang bertanggung jawab terhadap bangsa Israel. Nama lengkapnya adalah Yehezkiel bin Buzi, dan dia adalah orang yang biasa disebut Ibnu al-Ajuz (anak dari seorang wanita tua).
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak:
“Yehezkiel bin Buzi dinamai Ibnu al-Ajuz karena ibunya meminta kepada Allah SWT seorang anak laki-laki meskipun dia sudah tua dan mandul. Kemudian Allah memberikannya kepadanya. Untuk alasan itulah dia disebut ‘putra wanita tua.’ Dialah yang mendoakan orang-orang, yang disebutkan Allah dalam kitab suci kepada Muhammad SAW, sebagaimana itu telah sampai kepada kita: ‘Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati.’”
Baca juga: Nabi Isa Terima Wahyu Pertama Kali pada Usia 13 Tahun
(mhy)
Lihat Juga :