Al-Fatihah Ayat 5: Rahasia Kalimat Iyyaka Diulang 2 Kali
Minggu, 16 Januari 2022 - 20:56 WIB
Baik juga diketahui bahwa dengan memakai "iyyaka" itu berarti menghadapkan pembicaraan kepada Allah, dengan maksud mengingat Allah, seakan-akan kita berada di hadapan-Nya, dan kepada-Nya diarahkan pembicaraan dengan khusyuk dan tawadu'. Seakan-akan kita berkata:
"Ya Allah, Dzat yang wajibul wujud, Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, Yang menjaga dan memelihara seluruh alam, Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda, Yang berkuasa di hari pembalasan, Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami minta pertolongan, karena hanya Engkau yang berhak disembah, dan hanya Engkau yang dapat menolong kami".
Dengan cara seperti itu orang akan lebih khusyuk menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran yang disembahnya itu. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah melalui sabdanya:
"Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya." (HR Al-Bukhari dan Muslim dari 'Umar bin al-Khatthab)
Karena Surat al-Fatihah mengandung ayat munajat (berbicara) dengan Allah menurut cara yang telah diterangkan, maka hal itu merupakan rahasia diwajibkan membacanya pada tiap-tiap rakaat dalam sholat.
Adapun kalimat "Na'budu" pada ayat ini didahulukan menyebutkannya daripada "Nasta'inu", karena menyembah Allah adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan-nya. Tetapi pertolongan dari Allah kepada hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka Allah mengajar hamba-Nya agar menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya.
Melihat kata-kata Na'budu dan Nasta'inu (kami menyembah, kami meminta tolong), bukan a'budu dan asta'inu (saya menyembah dan saya minta tolong) adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia, tidak selayaknya manusia mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah. Seakan-akan penunaian kewajiban beribadah dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna, kecuali kalau dikerjakan bersama-sama.
Baca Juga: Tafsir Al-Fatihah Ayat 4: Peringatan Tentang Hari Pembalasan
"Ya Allah, Dzat yang wajibul wujud, Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, Yang menjaga dan memelihara seluruh alam, Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda, Yang berkuasa di hari pembalasan, Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami minta pertolongan, karena hanya Engkau yang berhak disembah, dan hanya Engkau yang dapat menolong kami".
Dengan cara seperti itu orang akan lebih khusyuk menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran yang disembahnya itu. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah melalui sabdanya:
"Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya." (HR Al-Bukhari dan Muslim dari 'Umar bin al-Khatthab)
Karena Surat al-Fatihah mengandung ayat munajat (berbicara) dengan Allah menurut cara yang telah diterangkan, maka hal itu merupakan rahasia diwajibkan membacanya pada tiap-tiap rakaat dalam sholat.
Adapun kalimat "Na'budu" pada ayat ini didahulukan menyebutkannya daripada "Nasta'inu", karena menyembah Allah adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan-nya. Tetapi pertolongan dari Allah kepada hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka Allah mengajar hamba-Nya agar menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya.
Melihat kata-kata Na'budu dan Nasta'inu (kami menyembah, kami meminta tolong), bukan a'budu dan asta'inu (saya menyembah dan saya minta tolong) adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia, tidak selayaknya manusia mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah. Seakan-akan penunaian kewajiban beribadah dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna, kecuali kalau dikerjakan bersama-sama.
Baca Juga: Tafsir Al-Fatihah Ayat 4: Peringatan Tentang Hari Pembalasan
(rhs)
Lihat Juga :