Ayah Syekh Siti Jenar Ternyata Guru Ngaji Putra dan Putri Prabu Siliwangi
Jum'at, 21 Januari 2022 - 09:11 WIB
Keamanan Malaka yang terjamin oleh Kesultanan Malaka ternyata tidak bertahan cukup lama. Hal ini terbukti ketika terjadi kemelut pemindahan kekuasaan di dalam Kesultanan Malaka pada akhir tahun 1424 M, atau pada masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Maka, saat itu pula, Syekh Datuk Shaleh beserta sang istri memutuskan untuk pindah ke Cirebon karena merasa sudah tidak aman lagi bertempat tinggal di Malaka.
Baca juga: Sunan Kudus: Sang Eksekutor Syekh Siti Jenar dan Kebo Kenanga
Setelah melakukan perjalanan laut selama beberapa minggu, akhirnya tibalah Syekh Datuk Shaleh beserta sang istri di Cirebon pada awal tahun 1425 M. Ketika itu, Syekh Siti Jenar masih berada di dalam kandungan ibunya usia tiga bulan.
Di Cirebon inilah, Syekh Datuk Shaleh beserta sang istri memulai hidup baru. Mereka berdagang sembari menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Cirebon yang saat itu mayoritas mereka masih beragama Hindu dan Budha.
Mengutip sebuah literatur tanpa disebut sumber dan penulisnya, Sartono bercerita, ketika Syekh Datuk Shaleh datang (pindah) ke Cirebon, ia disambut saudaranya yang sudah lama tinggal di Cirebon, yakni Syekh Datuk Kahfi, putra Syekh Datuk Ahmad.
Sesampainya di Cirebon, Syekh Datuk Shaleh beserta sang istri tinggal di pesantren Giri Amparan Jati. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Datuk Kahfi.
Menurut Sartono, selama bertempat tinggal di pesantren Giri Amparan Jati itulah, Syekh Datuk Shaleh banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para santri yang berasal dari daerah Cirebon dan sekitarnya, termasuk putra dan putri Prabu Siliwangi.
Baca juga: Karomah Sunan Gunung Jati, Sembuhkan Tumor Tanpa Operasi hingga Kuasai 99 Bahasa
Baca juga: Sunan Kudus: Sang Eksekutor Syekh Siti Jenar dan Kebo Kenanga
Setelah melakukan perjalanan laut selama beberapa minggu, akhirnya tibalah Syekh Datuk Shaleh beserta sang istri di Cirebon pada awal tahun 1425 M. Ketika itu, Syekh Siti Jenar masih berada di dalam kandungan ibunya usia tiga bulan.
Di Cirebon inilah, Syekh Datuk Shaleh beserta sang istri memulai hidup baru. Mereka berdagang sembari menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Cirebon yang saat itu mayoritas mereka masih beragama Hindu dan Budha.
Mengutip sebuah literatur tanpa disebut sumber dan penulisnya, Sartono bercerita, ketika Syekh Datuk Shaleh datang (pindah) ke Cirebon, ia disambut saudaranya yang sudah lama tinggal di Cirebon, yakni Syekh Datuk Kahfi, putra Syekh Datuk Ahmad.
Sesampainya di Cirebon, Syekh Datuk Shaleh beserta sang istri tinggal di pesantren Giri Amparan Jati. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Datuk Kahfi.
Menurut Sartono, selama bertempat tinggal di pesantren Giri Amparan Jati itulah, Syekh Datuk Shaleh banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para santri yang berasal dari daerah Cirebon dan sekitarnya, termasuk putra dan putri Prabu Siliwangi.
Baca juga: Karomah Sunan Gunung Jati, Sembuhkan Tumor Tanpa Operasi hingga Kuasai 99 Bahasa
(mhy)
Lihat Juga :