Kisah Hikmah : Istri Nabi Musa Alaihisalam yang Pemalu
Senin, 21 Februari 2022 - 15:31 WIB
Pernikahan Nabi Musa dan Shafura
Berjalanlah Shafura dan Musa ke rumah Yatsra. Jarak antara mata air dan rumahnya sekitar tiga mil. Jarak tersebut sangat cukup membuat wanita dan pria terfitnah satu sama lain jika jalan berdua. Namun baik Shafura dan Nabi Musa adalah orang “pilihan”. Mereka memiliki keimanan dan kesalehan yang kuat. Shafura adalah wanita ‘iffah yang menjaga dirinya. Pun dengan Musa, calon utusan-Nya. Shafura berjalan terlebih dahulu agar Musa berjalan jauh di belakangnya.
Baca juga: Bagaimana Hukum Mengghibah Orang yang Sudah Terkenal Keburukannya?
Namun kemudian Nabi Musa takut terfitnah jika melihat wanita di hadapannya. Sang nabi lantas berkata, “Berjalanlah di belakangku. Kalau aku menjauh dari jalan yang seharusnya, lemparkanlah kerikil kepadaku agar aku mengetahui jalan yang benar dan bisa mengambil arah dengannya.” Riwayat lain menyebutkan, Nabi Musa berkata kepada Shafura, “Berjalanlah di belakangku. Aku ini laki-laki Ibrani, tidak boleh menatap bagian belakang perempuan. Tunjukkan kepadaku jalan, ke kanan atau ke kiri.”
Demikianlah keduanya berjalan tanpa berduaan dan jauh dari fitnah, hingga tiba di tempat tujuan. Di sana, sang ayah, Yatsra sudah siap menyambut pria yang dielu-elukan putrinya. Sambutan hangat diterima Nabi Musa meski statusnya sebagai pria asing yang tak diketahui asal muasalnya. Nabi Musa pun kemudian mengenalkan diri dan mengisahkan ringkas apa yang ia alami. Nabiyullah menceritakan kisahnya di Mesir dan alasannya berhijrah hingga singgah di Negeri Madyan.
Betapa bahagianya Nabi Musa ketika Yatsra berkata, “Janganlah engkau takut, karena engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Makanan lezat pun kemudian dihidangkan kepada Musa. Namun Nabi Musa menolaknya karena ia tak mengharapkan imbalan apapun dari bantuannya memberi minum ternak. Padahal saat itu, Nabi Musa amat sangat lapar. Beliau pergi dari Mesir tanpa bekal apapun. Selama perjalanan jalan kaki hingga Madyan (wilayah di antara Yordania dan Palestina), sang nabi hanya makan sayur dan dedaunan.
Kelelahannya jelas nampak dari penampilan sang nabi Bani Israil tersebut. Yatsra pun makin kagum dengan sosok pemuda di hadapannya. Ia pun berkata kepada Musa bahwa hidangan tersebut bukanlah upah, melainkan jamuan untuk memuliakan tamu. Nabi Musa pun akhirnya bersedia menyantap jamuan yang dihidangkan.
Setelah bercakap-cakap, ayah Shafura pun kemudian berkata kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bersedia bekerja kepadaku selama delapan tahun. Apabila engkau menyempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak ingin memberatimu. Dan engkau, insya Allah, akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al Qashash: 27)
Masya Allah, kisah Shafura dan Nabi Musa begitu indah. Nabi Musa menerima tawaran itu dan menikahi Shafura. Selama 10 tahun, Nabi Musa pun tinggal di Negeri Madyan. Keduanya hidup bahagia dan dikaruniai keturunan.
Hikmah Kisah : Pakaian Malu Istri Nabi Musa
Berjalanlah Shafura dan Musa ke rumah Yatsra. Jarak antara mata air dan rumahnya sekitar tiga mil. Jarak tersebut sangat cukup membuat wanita dan pria terfitnah satu sama lain jika jalan berdua. Namun baik Shafura dan Nabi Musa adalah orang “pilihan”. Mereka memiliki keimanan dan kesalehan yang kuat. Shafura adalah wanita ‘iffah yang menjaga dirinya. Pun dengan Musa, calon utusan-Nya. Shafura berjalan terlebih dahulu agar Musa berjalan jauh di belakangnya.
Baca juga: Bagaimana Hukum Mengghibah Orang yang Sudah Terkenal Keburukannya?
Namun kemudian Nabi Musa takut terfitnah jika melihat wanita di hadapannya. Sang nabi lantas berkata, “Berjalanlah di belakangku. Kalau aku menjauh dari jalan yang seharusnya, lemparkanlah kerikil kepadaku agar aku mengetahui jalan yang benar dan bisa mengambil arah dengannya.” Riwayat lain menyebutkan, Nabi Musa berkata kepada Shafura, “Berjalanlah di belakangku. Aku ini laki-laki Ibrani, tidak boleh menatap bagian belakang perempuan. Tunjukkan kepadaku jalan, ke kanan atau ke kiri.”
Demikianlah keduanya berjalan tanpa berduaan dan jauh dari fitnah, hingga tiba di tempat tujuan. Di sana, sang ayah, Yatsra sudah siap menyambut pria yang dielu-elukan putrinya. Sambutan hangat diterima Nabi Musa meski statusnya sebagai pria asing yang tak diketahui asal muasalnya. Nabi Musa pun kemudian mengenalkan diri dan mengisahkan ringkas apa yang ia alami. Nabiyullah menceritakan kisahnya di Mesir dan alasannya berhijrah hingga singgah di Negeri Madyan.
Betapa bahagianya Nabi Musa ketika Yatsra berkata, “Janganlah engkau takut, karena engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Makanan lezat pun kemudian dihidangkan kepada Musa. Namun Nabi Musa menolaknya karena ia tak mengharapkan imbalan apapun dari bantuannya memberi minum ternak. Padahal saat itu, Nabi Musa amat sangat lapar. Beliau pergi dari Mesir tanpa bekal apapun. Selama perjalanan jalan kaki hingga Madyan (wilayah di antara Yordania dan Palestina), sang nabi hanya makan sayur dan dedaunan.
Kelelahannya jelas nampak dari penampilan sang nabi Bani Israil tersebut. Yatsra pun makin kagum dengan sosok pemuda di hadapannya. Ia pun berkata kepada Musa bahwa hidangan tersebut bukanlah upah, melainkan jamuan untuk memuliakan tamu. Nabi Musa pun akhirnya bersedia menyantap jamuan yang dihidangkan.
Setelah bercakap-cakap, ayah Shafura pun kemudian berkata kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bersedia bekerja kepadaku selama delapan tahun. Apabila engkau menyempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak ingin memberatimu. Dan engkau, insya Allah, akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al Qashash: 27)
Masya Allah, kisah Shafura dan Nabi Musa begitu indah. Nabi Musa menerima tawaran itu dan menikahi Shafura. Selama 10 tahun, Nabi Musa pun tinggal di Negeri Madyan. Keduanya hidup bahagia dan dikaruniai keturunan.
Hikmah Kisah : Pakaian Malu Istri Nabi Musa
Lihat Juga :