Perkembangan Penafsiran Ilmiah Al-Qur'an, Bermula pada Masa Dinasti Abbasiyah
Jum'at, 04 Maret 2022 - 16:12 WIB
Corak penafsiran ilmiah ini telah lama dikenal. Benihnya bermula pada masa Dinasti Abbasiyah. (Foto/Ilustrasi Ist)
Al-Qur'an Al-Karim , yang merupakan sumber utama ajaran Islam, berfungsi sebagai "Petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya" ( QS 17 :9) demi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak yang bersifat umum dan global, sehingga penjelasan dan penjabarannya dibebankan kepada Nabi Muhammad SAW . ( QS 16 :44; 4:105, dan sebagainya).
Baca juga: Kapan Hari Akhir Tiba? Begini Jawaban Al-Quran dan Hadist Nabi SAW
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Qur'an , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" menjelaskan Al-Qur'an juga memerintahkan umat manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Al-Qur'an ( QS 39 :18; 47:24), dengan perhatian yang, di samping dapat mengantar mereka kepada keyakinan dan kebenaran Ilahi. Juga untuk menemukan alternatif-alternatif baru melalui pengintegrasian ayat-ayat tersebut dengan perkembangan situasi masyarakat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip pokok ajarannya (Al-Ushul Al-Ammah) atau mengabaikan perincian-perincian yang tidak termasuk dalam wewenang ijtihad. Dengan demikian, akan ditemukan kebenaran-kebenaran penegasan Al-Qur'an, bahwa:
a. Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di seluruh ufuk dan pada diri manusia, sehingga terbukti bahwa ia (Al-Qur'an) adalah benar (baca QS 41 :53).
b. Fungsi diturunkannya Kitab Suci kepada para Nabi (tentunya terutama Al-Qur'an), adalah untuk memberikan jawaban atau jalan keluar bagi perselisihan dan problem-problem yang dihadapi masyarakat (baca QS 2:213).
Perkembangan Penafsiran Ilmiah
Menurut Quraish Shihab, dalam rangka pembuktian tentang kebenaran Al-Qur'an, wahyu Ilahi ini telah mengajukan tantangan kepada siapa pun yang meragukannya untuk menyusun "semisal" Al-Qur'an. Tantangan tersebut datang secara bertahap:
a. Seluruh Al-Qur'an ( QS 17 :88; 52:34).
b. Sepuluh surah saja dari 114 surahnya ( QS 11 :13).
c. Satu surah saja ( QS 10 :38).
Baca juga: Kapan Hari Akhir Tiba? Begini Jawaban Al-Quran dan Hadist Nabi SAW
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Qur'an , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" menjelaskan Al-Qur'an juga memerintahkan umat manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Al-Qur'an ( QS 39 :18; 47:24), dengan perhatian yang, di samping dapat mengantar mereka kepada keyakinan dan kebenaran Ilahi. Juga untuk menemukan alternatif-alternatif baru melalui pengintegrasian ayat-ayat tersebut dengan perkembangan situasi masyarakat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip pokok ajarannya (Al-Ushul Al-Ammah) atau mengabaikan perincian-perincian yang tidak termasuk dalam wewenang ijtihad. Dengan demikian, akan ditemukan kebenaran-kebenaran penegasan Al-Qur'an, bahwa:
a. Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di seluruh ufuk dan pada diri manusia, sehingga terbukti bahwa ia (Al-Qur'an) adalah benar (baca QS 41 :53).
b. Fungsi diturunkannya Kitab Suci kepada para Nabi (tentunya terutama Al-Qur'an), adalah untuk memberikan jawaban atau jalan keluar bagi perselisihan dan problem-problem yang dihadapi masyarakat (baca QS 2:213).
Perkembangan Penafsiran Ilmiah
Menurut Quraish Shihab, dalam rangka pembuktian tentang kebenaran Al-Qur'an, wahyu Ilahi ini telah mengajukan tantangan kepada siapa pun yang meragukannya untuk menyusun "semisal" Al-Qur'an. Tantangan tersebut datang secara bertahap:
a. Seluruh Al-Qur'an ( QS 17 :88; 52:34).
b. Sepuluh surah saja dari 114 surahnya ( QS 11 :13).
c. Satu surah saja ( QS 10 :38).
Lihat Juga :