Kisah Khalifah Abu al-Abbas: Orang yang Gemar Menumpahkan Darah

Rabu, 30 Maret 2022 - 16:00 WIB
Imam al Suyuthi meriwayatkan isi khutbah khalifah pertama Abbasiyah ini, sebagai berikut:

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Islam sebagai pilihan bagi diri-Nya. Dia agungkan, muliakan, dan pilihkan bagi kita. Dia kukuhkan kita dengannya dan menjadikan kita sebagai pemeluknya. Allah telah menjadikan kita sebagai gua, benteng, dan penyangga, serta tiangnya.”

Berikutnya disebutkannya kemuliaan nasab keluarga-keluarga mereka hingga dia berkata;

“Setelah Allah memanggil Nabi-Nya, para sahabatnya memegang khalifah. Namun, setelah itu Bani Harb dan Bani Marwan menunggangi kekuasaan dengan cara kejam dan zalim. Allah membiarkan kekuasaan itu di tangan mereka untuk beberapa waktu hingga akhirnya mereka membuat Allah murka. Allah lalu membalas kejahatan mereka dengan perantara tangan kami. Allah kembalikan hak kami, agar lewat tangan kamilah Dia selamatkan orang-orang yang dipinggirkan dan dilemahkan di muka bumi. Allah menutup khalifah ini dengan kami sebagaimana Dia membukanya. Tidak ada taufik bagi kami sebagai Ahlul Bait, kecuali dari Allah.”

“Warga Kufah sekalian, kalian adalah pelabuhan cinta kami dan rumah idaman kasih kami. Karena itu, janganlah kalian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan itu, jangan pula kalian tergoda dengan tindakan para pembangkang."

"Sesungguhnya, kalian adalah orang paling bahagia dengan adanya kami di antara kalian. Kalian adalah orang paling mulia di mata kami dan kami telah memberi jaminan pembagian harta seratus persen. Karena itu, bersiap-siaplah, sebab aku adalah as-Saffahul Mubih (si penumpah darah yang membolehkan) dan ats-Tsairul Mubir (si pembalas dendam yang mewujudkan tekadnya).”

Dari sinilah dia kemudian dikenal dengan julukan “As-Saffah” (orang yang menumpahkan darah).”

Baca juga: Nenek Moyang Dinasti Abbasiyah: Abdullah Berjuluk Juru Bicara Al-Qur'an

Setelah menyampaikan pidato dan janji politiknya di hadapan masyarakat Kufah, Abu al Abbas segera beristirahat di istana gubernur Kufah. Kemudian saudaranya, Abu Ja’far, ditunjuk untuk mewakilinya mengambil sumpah dari masyarakat hingga larut malam.

Segera setelah selesai dilantik, Abu al Abbas As-Saffah langsung menunjuk anggota keluarganya menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Dia lalu memilih beberapa jenderal yang ditugaskan untuk menaklukkan dan menguasai sejumlah wilayah, mulai dari Mesir, Irak, Suriah, Hijaz, dan semua wilayah kekuasaan Bani Umayyah. Adapun Abu Muslim al Khurasani, ditetapkan sebagai gubernur Khurasan, sekaligus penasehat utama Abu al Abbas As Shaffah.

Pemberontakan

Imam Suyuthi mengutip Adz-Dzahabi berkata, “Dengan munculnya Daulah Abbasiyah, kaum Muslimin terpecah-belah dan banyak yang berontak. Pemberontakan menyebar dari Tahar, Thibnah, Sudan, dan kerajaan-kerajaan kecil di Andalusia. Negeri-negeri itu kemudian memisahkan diri dari khilafah.”

Terkait dengan sejumlah pemberontakan ini, As-Saffah dan para jenderalnya merespon dengan cara kekerasan yang sama dengan yang mereka lakukan pada anak keturunan Umayyah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!