4 Perkara yang Membuat Sengsara, Nomor Terakhir Terjadi karena Barang Haram
Kamis, 07 April 2022 - 10:54 WIB
Imam Nawai al-Bantani dalam kitabnya Maraqi al-Ubudiyah menjelaskan bahwa kedudukan ilmu ibarat pohon. Buahnya adalah ibadah. Tak boleh ibadah dikerjakan tanpa landasan ilmu. Dan orang yang sudah berilmu, harusnya rajin ibadah. Bukan malah sebaliknya: mencari-cari dalil untuk membenarkan kesalahan atau kemalasan dalam beragama.
2. Hati yang tidak khusyuk
Tentang khusyuk, di dalam Al-Qur'an, lafaznya disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda.
Meskipun mayoritas lafaz khusyuk dalam Al-Qur'an ditujukan kepada manusia, namun, ada juga sebagian ayat yang menyatakan bahwa khusyuk berlaku juga untuk benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi. Khusyuk merupakan ciri utama orang beriman yang memperoleh kemenangan.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya.” (QS. Al-Mu`minūn: 1—2)
Di dalam kata khusyuk, terkandung banyak makna, di antaranya: adh-dharra’ah (mengiba), al-inkhifaadh (merendah), adz-dzull (tunduk), dan as-sukuun (tenang).
Dari empat hal ini, dapat disimpulkan bahwa khusyuk adalah kondisi hati yang tertuju kepada Allah, merasakan kehadiran-Nya, sehingga membuat seorang hamba ingin mengadu dengan penuh rasa tunduk, merendah, dan memelas kasih-Nya. Dengan begitu ia akan merasa tenang karena berhadapan dengan Zat Maha Kuasa yang akan selalu memberi perlindungan dan rasa aman.
Kedudukan khusyuk dalam ibadah seperti kedudukan ruh dalam tubuh. Maka ibadah yang dilakukan tanpa rasa khusyuk, ibarat jasad tak bernyawa.
Tetapi makna khusyuk bisa diperluas. Bukan hanya dalam ibadah yang sifatnya ritual. Orang yang memiliki sifat khusyuk, akan tenang dalam menghadapi kehidupan, tidak khawatir atau merasa cemas. Mustahil, hidup susah dan sengsara. Orang yang khusyuk terhindar dari maksiat, karena khusyuk meredam gejolak hawa nafsu. Maka kita berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk: selalu cemas, khawatir, dan bergejolak.
Menurut Ibnu al-Qayyim, khusyuknya orang beriman ada di hati: berkonsentrasi memikirkan keagungan Allah. Sedangkan khusyuknya orang munafik hanya badannya yang tunduk, tapi hatinya tidak.
Baca juga: Perintah Memaafkan Kesalahan Sesama dalam Al-Qur'an
2. Hati yang tidak khusyuk
Tentang khusyuk, di dalam Al-Qur'an, lafaznya disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda.
Meskipun mayoritas lafaz khusyuk dalam Al-Qur'an ditujukan kepada manusia, namun, ada juga sebagian ayat yang menyatakan bahwa khusyuk berlaku juga untuk benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi. Khusyuk merupakan ciri utama orang beriman yang memperoleh kemenangan.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya.” (QS. Al-Mu`minūn: 1—2)
Di dalam kata khusyuk, terkandung banyak makna, di antaranya: adh-dharra’ah (mengiba), al-inkhifaadh (merendah), adz-dzull (tunduk), dan as-sukuun (tenang).
Dari empat hal ini, dapat disimpulkan bahwa khusyuk adalah kondisi hati yang tertuju kepada Allah, merasakan kehadiran-Nya, sehingga membuat seorang hamba ingin mengadu dengan penuh rasa tunduk, merendah, dan memelas kasih-Nya. Dengan begitu ia akan merasa tenang karena berhadapan dengan Zat Maha Kuasa yang akan selalu memberi perlindungan dan rasa aman.
Kedudukan khusyuk dalam ibadah seperti kedudukan ruh dalam tubuh. Maka ibadah yang dilakukan tanpa rasa khusyuk, ibarat jasad tak bernyawa.
Tetapi makna khusyuk bisa diperluas. Bukan hanya dalam ibadah yang sifatnya ritual. Orang yang memiliki sifat khusyuk, akan tenang dalam menghadapi kehidupan, tidak khawatir atau merasa cemas. Mustahil, hidup susah dan sengsara. Orang yang khusyuk terhindar dari maksiat, karena khusyuk meredam gejolak hawa nafsu. Maka kita berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk: selalu cemas, khawatir, dan bergejolak.
Menurut Ibnu al-Qayyim, khusyuknya orang beriman ada di hati: berkonsentrasi memikirkan keagungan Allah. Sedangkan khusyuknya orang munafik hanya badannya yang tunduk, tapi hatinya tidak.
Baca juga: Perintah Memaafkan Kesalahan Sesama dalam Al-Qur'an
Lihat Juga :