Menelusuri Masjid Tertua di Malang, Dibangun Pengikut Pangeran Diponegoro pada Abad XVIII

Sabtu, 09 April 2022 - 11:18 WIB
Menurutnya, saat islam mulai dikenalkan oleh pengikut Pangeran Diponegoro, agama Hindu-lah yang mendominasi masyarakat yang dianutnya. Maklum pengaruh Kerajaan Singasari yang runtuh di abad 13 masih sangat terasa.

"Kerajaan Singasari itu di sini dibangun abad 12, punahnya abad 13, dan ini masuk abad 18. Jadi artinya sudah sekitar lima ratusan tahun kemudian," kata dia.

Pelan-pelan tapi pasti agama baru itu disebut Moensif menyebar meluas ke beberapa daerah di sekitar Singosari kala itu. KH. Moensif menyebut, faktor mudahnya tersebar dan diterima masyarakat karena agama Islam tidak mengenal kasta - kasta sebagaimana di agama Hindu. Hal ini yang memicu masyarakat utamanya golongan sudra atau rakyat bawah, tertarik belajar agama baru saat menerima informasi tersebut.

"Di luar dugaan kyai Hamimuddin, karena rupanya setelah itu orang berbondong-bondong, sebab musababnya agama Hindu mengenal empat kasta dari brahmana yang tertinggi sampai sudra yang terendah," ungkap tokoh ulama berusia 87 tahun ini.

Selama mendakwahkan agama Islam ini KH. Hamimmuddin mengajarkan cara-cara beribadah salat, ngaji, bersujud. Dari cara ibadah melalui salat di rukuk dan sujud inilah muncul kata Bungkuk, yang berasal dari kata kerja serapan bahasa Jawa, yang berarti posisi tubuh agak ditekukkan ke depan. Maka ketika orang-orang yang masih beragama Hindu melihat cara peribadahan islam yang mudah dan tidak membeda-bedakan kasta menjadikan ketertarikan.

"Kiai Hamimuddin mengajar, di sana ngajar ngaji, ngajar salat, di sana wong bungkuk bungkuk. Iya nggak tahu aktivitas apa, tahunya gini wong bungkuk - bungkuk (rukuk - rukuk, rukun salat), yang rupanya sampai sekarang dilestarikan wilayah ini namanya wilayah Bungkuk," terangnya..

Istilah bungkuk pun kian populer digunakan masyarakat dan terdengar dari mulut ke mulut. Agama Islam menyebar dengan cepat karena ketiadaan kasta layaknya di agama Hindu. Masyarakat Singosari saat itu menyebutnya bungkuk, agar mudah mengistilahkan ajaran agama baru yang dibawa oleh KH. Hamim

Mereka disebut KH. Moensif lantas melabeli daerah tempat KH. Hamimmuddin mengajarkan agama Islam sebagai istilah bungkuk. Dari situ awal muka bungkuk dikenal dan kian mendatangkan banyak santri-santri dari berbagai kalangan yang tinggal di Singosari.

"Merasa santri makin lama makin banyak mulailah dibangun gedung masjid yang lebih luas, Kalau awalnya berupa gubuk saja, dari bambu, dari daun-daun, kemudian sudah nggak bisa nampung lagi. Dipikirlah sebuah bangunan yang lebih semi permanen, sudah ada bata, ada kayu, ada genteng, karena sudah dimulai genteng itu maka harus ada penyangga kuda-kuda dan ada tiang itu zamannya kiai Hamimuddin, ketika santri sudah mulai makin lama makin banyak," paparnya.

Empat tiang itu dibangun era KH. Hamimuddin di sekitar abad 18, tiang yang merupakan cikal bakal Masjid Bungkuk tetap dipertahankan hingga kini. Namun seiring waktu akhirnya KH. Hamimuddin yang memiliki 7 orang anak menyerahkan pengelolaan pondok pesantren dan masjidnya kepada menantunya KH. Thohir dari anak pertamanya bernama Siti Murtasiah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!