Kisah Wanita yang Memakai Sepasang Kaki dari Kayu
Senin, 22 Juni 2020 - 10:28 WIB
Baca juga: Agar Kerja Menjadi Ibadah, Ingat Allah Maha Pemberi Rezeki
Penampilan Palsu
Nabi menjelaskan kepada kita bagaimana awal kerusakan yang menyeret mereka kepada kebinasaan. Orang-orang kaya membelanjakan harta dalam jumlah yang besar demi penampilan, pakaian, perhiasan, makanan, dan lain sebagainya, juga dalam urusan biaya pernikahan yang mereka perlombakan.
Baca juga: Cinta Kepada Allah, Ibrahim: Wahai Izrail, Ambillah Nyawaku (1)
Orang-orang miskin meniru gaya orang-orang kaya. Istri orang miskin memaksa suaminya membeli pakaian dan perhiasan seperti yang dibeli oleh orang kaya untuk istrinya.
Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor, Guru Besar Universitas Islam Yordania, dalam Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan Sunnah mengingatkan kita mengetahui sejauh mana akibat yang menimpa masyarakat karena sikap yang demikian.
"Seorang suami miskin memikul beban berat yang dia tidak kuasa memikulnya, yang menjadikannya bekerja siang malam demi menjamin ambisi istri," tuturnya.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Bisa saja dia tidak mampu melakukannya, maka dia menjual rumahnya atau tanahnya yang menjadi sumber penghasilannya. Hal itu bisa mendorongnya untuk berutang, atau menahan malu akibat meminta-minta. "Bisa jadi dia berutang dengan riba. Utangnya menumpuk, maka dia tidak mampu melunasinya. Dan masih banyak lagi musibah
yang kita saksikan di masyarakat saat ini," lanjutnya.
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Jika penyakit ini telah menyebar di masyarakat, maka kaum laki-laki dan wanita sibuk mencari bentuk-bentuk penampilan palsu yang menyedot biaya besar dan waktu yang tidak sedikit. Tidak perlu contoh panjang lebar dalam bidang ini. Kehidupan hari ini telah diramaikan oleh banyaknya model dan penampilan pakaian yang bermacam-macam banyaknya yang menarik perhatian.
Penampilan Palsu
Nabi menjelaskan kepada kita bagaimana awal kerusakan yang menyeret mereka kepada kebinasaan. Orang-orang kaya membelanjakan harta dalam jumlah yang besar demi penampilan, pakaian, perhiasan, makanan, dan lain sebagainya, juga dalam urusan biaya pernikahan yang mereka perlombakan.
Baca juga: Cinta Kepada Allah, Ibrahim: Wahai Izrail, Ambillah Nyawaku (1)
Orang-orang miskin meniru gaya orang-orang kaya. Istri orang miskin memaksa suaminya membeli pakaian dan perhiasan seperti yang dibeli oleh orang kaya untuk istrinya.
Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor, Guru Besar Universitas Islam Yordania, dalam Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan Sunnah mengingatkan kita mengetahui sejauh mana akibat yang menimpa masyarakat karena sikap yang demikian.
"Seorang suami miskin memikul beban berat yang dia tidak kuasa memikulnya, yang menjadikannya bekerja siang malam demi menjamin ambisi istri," tuturnya.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Bisa saja dia tidak mampu melakukannya, maka dia menjual rumahnya atau tanahnya yang menjadi sumber penghasilannya. Hal itu bisa mendorongnya untuk berutang, atau menahan malu akibat meminta-minta. "Bisa jadi dia berutang dengan riba. Utangnya menumpuk, maka dia tidak mampu melunasinya. Dan masih banyak lagi musibah
yang kita saksikan di masyarakat saat ini," lanjutnya.
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Jika penyakit ini telah menyebar di masyarakat, maka kaum laki-laki dan wanita sibuk mencari bentuk-bentuk penampilan palsu yang menyedot biaya besar dan waktu yang tidak sedikit. Tidak perlu contoh panjang lebar dalam bidang ini. Kehidupan hari ini telah diramaikan oleh banyaknya model dan penampilan pakaian yang bermacam-macam banyaknya yang menarik perhatian.
Lihat Juga :