Kisah Khalifah Al-Mahdi Membangun Konspirasi Penggulingan Putra Mahkota Isa Bin Musa
Rabu, 18 Mei 2022 - 17:42 WIB
Dia mendatangi Isa sambil membawa surat dari khalifah yang isinya membujuk agar Isa bersedia datang ke Baghdad. Tapi lagi-lagi Isa bersikeras menolak. Tapi kali ini dia bersedia menulis surat balasan kepada khalifah yang isinya dia tidak bersedia datang karena satu dan lain alasan.
Mendapat surat tanggapan dari Isa bin Musa, Al-Mahdi tampaknya geram. Dia lalu memerintahkan pada komandan pasukan bernama Muhammad bin Farrukh Abu Hurayrah, untuk membawa paksa Isa bin Musa.
Tidak main-main, Muhammad bin Farrukh membawa serta bersamanya ribuan pasukan bersenjata lengkap, layaknya sebuah ekspedisi perang. Sesampainya di pemukiman Isa bin Musa, mereka membunyikan genderang, sebagai tanda ancaman bahwa mereka akan menyerang.
Mendengar suara gaduh ini, Isa bin Musa ketakutan, dan para pengawalnya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Muhammad bin Farrukh segera masuk ke rumah Isa bin Musa dan memerintahkannya berkemas untuk menghadap khalifah. Namun dia masih beralasan, bahwa saat itu dia sedang sakit. Tapi alasan ini tidak diterima oleh Muhammad bin Farrukh. Dia lalu membawa paksa Isa bin Musa ke Baghdad.
Isa bin Musa tiba di Baghdad bersama Muhammad bin Farrukh Abu Hurayrah pada awal tahun 160 H. Di sinilah drama penggulingan putra mahkota ini di mulai. Mulanya, dia diterima baik oleh Al-Mahdi layaknya sahabat dan keluarga. Demikian juga dengan keluarga dan pejabat-pejabat Al-Mahdi mereka memperlakukan Isa bin Musa layaknya seorang putra mahkota.
Selama beberapa hari, dia bisa keluar masuk melalui pintu khusus yang membuatnya leluasan bertemu dengan khalifah. Intinya, tidak ada satupun masalah yang sebelum ini dikhawatirkannya akan terjadi.
Kemudian suatu hari, Isa bin Musa menghadiri sebuah acara yang di dalamnya ada sejumlah kompok atau partai pendukung kaum Abbasiyah. Tiba-tiba para ketua kelompok di tempat itu menyerang dan menghinanya dengan kebencian yang amat dalam.
Baca juga: Muhammad bin Ali, Arsitek Dinasti Abbasiyah yang Kampanyekan Ahlul Bait
Al-Mahdi yang mengetahui hal ini, sebenarnya tidak menyetujui perbuatan mereka. Tapi dia diam saja, dan tidak menghalangi perbuatan mereka pada Isa bin Musa. Hal ini membuat kelompok-kelompok tersebut kian berani mengintensifkan serangannya pada Isa bin Musa. Kondisi ini dibiarkan terjadi selama beberapa hari. Hingga akhirnya, tokoh-tokoh senior Bani Abbas menyarankan agar mereka yang bertikai membawa masalah ini ke hadapan khalifah. Maka digelarlah pertemuan.
Dalam pertemuan tersebut, para pimpinan kelompok terus menunjukkan permusuhannya pada Isa bin Musa dan menolak untuk mengakuinya sebagai putra mahkota. Melihat situasi ini, Al-Mahdi menilai bahwa mereka harus diberikan jalan keluar.
Lalu dia mengusulkan, untuk mengganti Isa bin Musa dari posisi putra mahkota dan menawarkan putranya yang bernama Musa sebagai putra mahkota. Usulan khalifah ini ternyata langsung disetujui oleh majelis tersebut, kecuali Isa bin Musa yang baru menyadari tentang drama yang berlangsung ini. Tapi dia sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Al-Mahdi kemudian meminta pendapat Isa bin Musa mengenai kesepakatan ini. Isa lagi-lagi terpojok. Dia tidak bisa memilih. Dalam situasi ini, dia hanya bisa memberikan usulan sederhana, bahwa di belakangnya, ada sejumlah orang dan kelompok yang sudah mengangkat sumpah setia padanya. Dia meminta agar khalifah memberi solusi untuk mengatasi kekecewaan mereka.
Al-Mahdi lalu mengirimkan sejumlah ulama dan ahli hukum untuk memutuskan masalah ini. Setelah memikirkan beberapa waktu, akhirnya mereka menyetujui keinginan Isa bin Musa. Al-Mahdi pun akhinya memutuskan untuk membeli sumpah dari Isa bin Musa seharga 10.000.000 Dirham, ditambah sebuah pemukiman untuknya di wilayah Zab dan Kaskar. Dan harga ini pun disetujui oleh Isa bin Musa.
Baca juga: Perkembangan Penafsiran Ilmiah Al-Qur'an, Bermula pada Masa Dinasti Abbasiyah
Demikianlah, proses penggulingan putra mahkota ini berlangsung demikian tertib dan alamiah. Beberapa hari kemudian, Al-Mahdi menggelar acara khusus untuk serah terima posisi putra mahkota ini. Dia ingin agar semua orang mendengar keputusan penting ini. Karena ini menyangkut legitimasi kepemimpinan setelah dirinya. Maka dipanggil lah semua tokoh terkemuka di masanya, termasuk pejabat dan para jenderal Abbasiyah.
Mereka semua dikumpulkan untuk mendengarkan pengunduran diri Isa bin Musa, lalu dilanjutkan dengan penobatan Musa bin Al-Mahdi sebagai putra mahkota. Mereka semua pun secara aklamasi bersumpah setia pada Musa bin Al-Mahdi.
Mendapat surat tanggapan dari Isa bin Musa, Al-Mahdi tampaknya geram. Dia lalu memerintahkan pada komandan pasukan bernama Muhammad bin Farrukh Abu Hurayrah, untuk membawa paksa Isa bin Musa.
Tidak main-main, Muhammad bin Farrukh membawa serta bersamanya ribuan pasukan bersenjata lengkap, layaknya sebuah ekspedisi perang. Sesampainya di pemukiman Isa bin Musa, mereka membunyikan genderang, sebagai tanda ancaman bahwa mereka akan menyerang.
Mendengar suara gaduh ini, Isa bin Musa ketakutan, dan para pengawalnya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Muhammad bin Farrukh segera masuk ke rumah Isa bin Musa dan memerintahkannya berkemas untuk menghadap khalifah. Namun dia masih beralasan, bahwa saat itu dia sedang sakit. Tapi alasan ini tidak diterima oleh Muhammad bin Farrukh. Dia lalu membawa paksa Isa bin Musa ke Baghdad.
Isa bin Musa tiba di Baghdad bersama Muhammad bin Farrukh Abu Hurayrah pada awal tahun 160 H. Di sinilah drama penggulingan putra mahkota ini di mulai. Mulanya, dia diterima baik oleh Al-Mahdi layaknya sahabat dan keluarga. Demikian juga dengan keluarga dan pejabat-pejabat Al-Mahdi mereka memperlakukan Isa bin Musa layaknya seorang putra mahkota.
Selama beberapa hari, dia bisa keluar masuk melalui pintu khusus yang membuatnya leluasan bertemu dengan khalifah. Intinya, tidak ada satupun masalah yang sebelum ini dikhawatirkannya akan terjadi.
Kemudian suatu hari, Isa bin Musa menghadiri sebuah acara yang di dalamnya ada sejumlah kompok atau partai pendukung kaum Abbasiyah. Tiba-tiba para ketua kelompok di tempat itu menyerang dan menghinanya dengan kebencian yang amat dalam.
Baca juga: Muhammad bin Ali, Arsitek Dinasti Abbasiyah yang Kampanyekan Ahlul Bait
Al-Mahdi yang mengetahui hal ini, sebenarnya tidak menyetujui perbuatan mereka. Tapi dia diam saja, dan tidak menghalangi perbuatan mereka pada Isa bin Musa. Hal ini membuat kelompok-kelompok tersebut kian berani mengintensifkan serangannya pada Isa bin Musa. Kondisi ini dibiarkan terjadi selama beberapa hari. Hingga akhirnya, tokoh-tokoh senior Bani Abbas menyarankan agar mereka yang bertikai membawa masalah ini ke hadapan khalifah. Maka digelarlah pertemuan.
Dalam pertemuan tersebut, para pimpinan kelompok terus menunjukkan permusuhannya pada Isa bin Musa dan menolak untuk mengakuinya sebagai putra mahkota. Melihat situasi ini, Al-Mahdi menilai bahwa mereka harus diberikan jalan keluar.
Lalu dia mengusulkan, untuk mengganti Isa bin Musa dari posisi putra mahkota dan menawarkan putranya yang bernama Musa sebagai putra mahkota. Usulan khalifah ini ternyata langsung disetujui oleh majelis tersebut, kecuali Isa bin Musa yang baru menyadari tentang drama yang berlangsung ini. Tapi dia sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Al-Mahdi kemudian meminta pendapat Isa bin Musa mengenai kesepakatan ini. Isa lagi-lagi terpojok. Dia tidak bisa memilih. Dalam situasi ini, dia hanya bisa memberikan usulan sederhana, bahwa di belakangnya, ada sejumlah orang dan kelompok yang sudah mengangkat sumpah setia padanya. Dia meminta agar khalifah memberi solusi untuk mengatasi kekecewaan mereka.
Al-Mahdi lalu mengirimkan sejumlah ulama dan ahli hukum untuk memutuskan masalah ini. Setelah memikirkan beberapa waktu, akhirnya mereka menyetujui keinginan Isa bin Musa. Al-Mahdi pun akhinya memutuskan untuk membeli sumpah dari Isa bin Musa seharga 10.000.000 Dirham, ditambah sebuah pemukiman untuknya di wilayah Zab dan Kaskar. Dan harga ini pun disetujui oleh Isa bin Musa.
Baca juga: Perkembangan Penafsiran Ilmiah Al-Qur'an, Bermula pada Masa Dinasti Abbasiyah
Demikianlah, proses penggulingan putra mahkota ini berlangsung demikian tertib dan alamiah. Beberapa hari kemudian, Al-Mahdi menggelar acara khusus untuk serah terima posisi putra mahkota ini. Dia ingin agar semua orang mendengar keputusan penting ini. Karena ini menyangkut legitimasi kepemimpinan setelah dirinya. Maka dipanggil lah semua tokoh terkemuka di masanya, termasuk pejabat dan para jenderal Abbasiyah.
Mereka semua dikumpulkan untuk mendengarkan pengunduran diri Isa bin Musa, lalu dilanjutkan dengan penobatan Musa bin Al-Mahdi sebagai putra mahkota. Mereka semua pun secara aklamasi bersumpah setia pada Musa bin Al-Mahdi.
(mhy)
Lihat Juga :