Kesultanan Demak Ternyata Bukan Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Ini Fakta Sebenarnya

Kamis, 04 Agustus 2022 - 18:53 WIB
Masjid Agung Demak, peninggalan Wali Songo. Kesultanan Demak bukan kerajaan Islam tertua di Jawa? Foto/Ilustras: INews
Buku-buku sejarah di sekolah selalu mengajarkan bahwa kerajaan Islam pertama di Jawa adalah Kesultanan Demak . Namun sejarawan KH Ng Agus Sunyoto (21 Agustus 1959 – 27 April 2021) menyebut sejatinya kerajaan Islam pertama di tanah Jawa adalah Kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Kerajaan ini dipimpin Raja Arya Wiraraja yang bernama asli Banyak Wide. Dia beragama Islam. Di dalam Babad Pararaton, disebutkan bahwa ketika menjadi Adipati Sumenep (1269 M), ia berusia 37 tahun. Sehingga, diperkirakan ia lahir pada tahun 1232 M, dan wafat pada tahun 1316 M.

Baca juga: Samudra Pasai, Kerajaan Islam Pertama yang Pernah Memukul Mundur Pasukan Majapahit

Menurut Agus Sunyoto dalam buku berjudul "Atlas Wali Songo", sebelum menjadi Raja Lamajang Tigang Juru, Arya Wiraraja mendirikan Kerajaan Sumenep.

"Kisahnya dimulai dari prasasti Mula Malurung yang bertahun 1255 M," jelas salah satu tokoh Nahdlatul 'Ulama ini. Prasasti ini dibuat oleh Sri Kertanegara atas perintah ayahnya, Maharaja Tumapel (Singasari), Sri Prabu Seminingrat Jayawisynuwardhana.

Di dalam prasasti itu, disebutkan bahwa Kerajaan Lamajang (nama lama Lumajang) merupakan Juru, bagian dari Kerajaan Tumapel, yang dirajai oleh Nararya Kirana, putri dari Sri Prabu Seminingrat Jayawisynuwarddhana.

Saudara ipar Sri Prabu Seminingrat Jayawisynuwarddhana, Nararya Kulup Kuda, diangkat sebagai raja di Madura. Sedangkan putra Sri Prabu Seminingrat Jayawisynuwarddhana, yaitu Nararya Murddhaja, yang bergelar Kertanegara, diangkat menjadi Raja Daha.

Ketika Kertanegara dinobatkan menjadi Raja Singasari pada tahun 1268 M, ia bercita-cita mempersatukan Nusantara. Putra Nararya Kirana sekaligus pewaris takhta Kerajaan Lamajang, yaitu Arya Wiraraja, mengabdi sebagai demung (Kepala Rumah Tangga Raja) di Kerajaan Singasari, suatu jabatan yang sangat dekat dengan raja.

Baca juga: Syekh Subakir Taklukkan Keangkeran Tanah Jawa dengan Tanam Tumbal Keselamatan di Gunung Tidar

Keturunan Arya Wiraraja—keluarga Pinatih di Bali, keluarga bupati-bupati Surabaya, dan keluarga sultan-sultan Cirebon-- meyakini bahwa Arya Wiraraja adalah seorang muslim.

Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan makamnya di situs Biting, Kutorenon, Sukadana, Lumajang. Makamnya berupa makam kuno dengan tanda-tanda bahwa ahli kubur beragama Islam.

Oleh karenanya, para keturunan Arya Wiraraja kini menziarahi makam buyutnya itu sebagaimana menziarahi makam tokoh-tokoh muslim. Namun, hal ini memerlukan penelitian kembali yang lebih mendalam untuk menemukan bukti-bukti kuat, baik arkeologis maupun filologis yang dapat memverifikasi argumen ini.

Baca juga: Kisah Fatimah binti Maimun, Pendakwah Islam di Jawa Timur sebelum Wali Songo
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!