Kesultanan Demak Ternyata Bukan Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Ini Fakta Sebenarnya

Kamis, 04 Agustus 2022 - 18:53 WIB
Dalam sejarahnya, Prabu Kertanegara mendepak Arya Wiraraja dari jabatan demung. Ia dinohaken (dijauhkan) menjadi adipati di Madura. Kejadian ini diperkirakan terjadi sebelum tahun 1269 M, karena pada tahun ini, Arya Wiraraja mendirikan Kerajaan Sumenep.

Tindakan ini dirasa tidak adil, mengingat Arya Wiraraja adalah keponakan Prabu Kertanegara. Ada dugaan bahwa tindakan ini diambil oleh Prabu Kertanegara lantaran Arya Wiraraja beragama Islam, sedangkan Kerajaan Singasari berbasiskan Tantrayana (agama Siwa-Buddha).

Bagi Prabu Kertanegara, agama sangatlah penting karena ia punya ambisi untuk menyatukan Nusantara dalam satu naungan agama, yaitu agama Tantrayana sekte Tantra-Bhairawa, yang ajarannya sejak semula selalu berselisih dengan pemeluk Islam. Sekte ini mempunyai ritual yang aneh, yakni mempersembahkan manusia sebagai korban di ksetra-ksetra.

Bahwa Prabu Kertanegara ingin menyatukan Nusantara dalam naungan ajaran Tantra-Bhairawa dibuktikan dengan dikirimnya arca dan prasasti pada tahun 1286 ke Kerajaan Dharmasraya di Melayu yang kala itu dipimpin oleh Sri Maharaja Srimat Tribhuanaraja Mauliwarmadewa.

Baca juga: Syekh Subakir Meruqyah Gunung Tidar: Makhluk Ghaib Ngungsi ke Pantai Selatan



Di dalam prasasti itu, Prabu Kertanegara menyebut dirinya sebagai Dewa Sri Wiswarupa Amoghapasa Lokeswara. Dalam Nagarakertagama, ditegaskan bahwa pengiriman arca dan prasasti itu dimaksudkan agar raja dan rakyat Melayu takut akan kesaktian Prabu Kertanegara.

Ketika Prabu Kertanegara menurunkan jabatan Patih Amangkubumi Pu Raganata Sang Ramapati, Tumenggung Wirakreti, dan pujangga Santasmrti menjadi weddha (pejabat tua) karena mereka menolak program penyatuan Nusantara.

Kedudukan mereka digantikan oleh pejabat-pejabat muda (yuwa) yang bukan hanya berambisi menyatukan Nusantara, melainkan juga berambisi memperkuat pengaruh sekte Tantra-Bhairawa.

Baca juga: Syekh Syamsuddin al-Wasil: Pembimbing Rohani Prabu Jayabaya, Penyebar Islam Pertama di Kediri

Arya Wiraraja menolak hal tersebut. Hal ini berkaitan dengan posisinya sebagai Muslim yang punya kewajiban moral mencegah penyebaran sekte agama Tantrayana yang biadab itu.

Sultan Al-Gabah

Mengenai kebiadaban Tantra-Bhairawa, dicatat dalam Kitab Musarar Babon Saka ing Rum bahwa Sultan al-Gabah dari Rum (yang ditafsirkan oleh Agus Sunyoto sebagai Persia) mengirim 20.000 muslim ke Jawa, tetapi hampir seluruhnya tewas dimangsa oleh para pengikut Tantra-Bhairawa yang memiliki ritual minum darah dan memakan daging manusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!