Rakyat Nusantara Memeluk Islam bukan Disebabkan Keyakinan?

Rabu, 17 Agustus 2022 - 05:15 WIB
Selain faktor balapan Islam dengan Kristen, menurut Azyumardi, faktor hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Dinasti Utsmaniyyah juga patut dipertimbangkan sebagai faktor-faktor yang mempercepat Islamisasi dan sekaligus pembentukan tradisi Islam di Nusantara.

Hubungan antara Kesultanan Aceh dan Dinasti Turki bermula ketika Sultan Turki membantu Aceh dalam mengusir bangsa Portugis dari pendudukan baru mereka di Pidie pada tahun 1521 dan Pasai pada tahun 1524, kemudian Sultan Aceh, Ala Al-Din Ri’ayat Syah Al-Kanhar (1537-1571), mengambil langkah formal untuk tunduk secara sukarela kepada kekuasaan Dinasti Turki Utsmani sebagai balasan atas bantuan militer yang diberikan Turki.

Hubungan antara Kesultanan Aceh dan Dinasti Turki Utsmaniyyah tampak unik karena Aceh jauh dari Turki. Namun, Islam sebagai agama rakyat telah mempersatukan perasaan mereka.

Baca juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara

Tidak Seragam

Di sisi lain, Azyumardi Azra mengatakan bahwa pengislaman seluruh kawasan Nusantara tidak seragam. Dia mencontohkan, di daerah pesisir yang umumnya memiliki budaya maritim dan cenderung terbuka terhadap kehidupan kosmopolitan, Islam masuk dengan cara yang lebih mudah dan dalam daripada di daerah pedalaman yang memiliki budaya agraris yang lebih tertutup.

Lebih jauh, berbeda dengan penduduk kota pelabuhan yang lebih mudah mengadopsi agama yang universal dan abstrak. Penduduk pedalaman lebih kukuh mengikatkan diri kepada arwah lokal dan dewa alam untuk kehidupan yang mereka yakini bergantung pada hubungan mereka dengannya.

Sementara itu, Rizem Aizid dalam bukunya berjudul "Sejarah Islam Nusantara" mencatat, bahwa Islam masuk ke Sumatera mengalami kesulitan dikarenakan di Sumatera masih ada kerajaan Buddha Sriwijaya yang berdiri.

Setelah Sriwijaya mengalami kemunduran, barulah Islam bisa masuk ke daerah-daerah Sumatera.

Kata “daerah-daerah” yang disebutkan oleh Aizid tadi lebih berorientasi kepada daerah perkotaan besar di Nusantara. Sebagai contoh, masuknya Islam ke Sumatera Utara, Aizid hanya menerangkan bahwa Islamisasi terjadi hanya di Barus, Aceh, dan Mandailing, yang notabene daerah-daerah itu merupakan daerah perkotaan, pelabuhan, dan daerah kerajaan, Islamisasi tidak merangkul kedaerah pedalaman.

Baca juga: Teori Gujarat Tentang Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Bersifat Evolusioner

Islamisasi Nusantara, menurut Azyumardi, merupakan suatu proses yang bersifat evolusioner. Manakala Islam segera memperoleh konversi banyak penguasa pribumi, Islam kemudian berkembang di tingkat rakyat bawah.

Dalam buku "Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan" Azyumardi Azra menyebut penetrasi Islam di Nusantara terbagi menjadi tiga tahap.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!