Nabi Muhammad SAW Pun Tidak Mengandalkan Nasab
Selasa, 30 Agustus 2022 - 11:24 WIB
Kendati memiliki nasab mulia yang diakui para ulama dan sejarawan, tidak lantas membuat Nabi Muhammad berbangga diri dengan kemuliaan yang disandangnya. Foto/dok SINDOnews
Memiliki nasab atau garis keturunan terhormat merupakan privilege tersendiri bagi seseorang, seperti terlahir dari keluarga ningrat atau dari bapak seorang tokoh besar. Namun penting dicatat, garis keturunan tidak selalu menjami karier.
Banyak orang terlahir dari keluarga biasa-biasa tapi hidupnya sukses. Sebaliknya, tidak sedikit yang lahir dari keluarga terhormat tapi nasib hidupnya biasa-biasa saja.
Memiliki garis keturunan terhormat tetap harus diimbangi kapasitas personal yang baik, agar seseorang tidak terlalu membanggakan latar belakang keluarga, tapi mengabaikan kualitas diri. Dalam hal ini kita bisa mencontoh Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam.
Meski terlahir dari nasab mulia, bahkan dijamin kesuciannya dari Nabi Adam, tidak membuat Nabi Muhammad menjadi pribadi yang angkuh. Justru beliau membuktikan dirinya sebagai sosok yang tangguh tanpa selalu mengandalkan latar belakang keluarga.
Dalam satu Hadis, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
إِنَّ اللهَ اصْطَفَي كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَي قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَي هَاشِمًا مِنْ قُرَيْشٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
Artinya: "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, memilih Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim." (HR Imam Muslim)
Kemudian, kemuliaan nasab Nabi Muhammad juga semakin diakui ketika sejumlah sejarawan mencatat silsilahnya secara runtut dari sang ayah, Abdullah, sampai kepada Nabi Adam 'alaihissalam.
Sejarawan ternama Imam Ibnu Hiysam melaporkan nasab lengkap Rasulullah sebagai berikut:
هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: شَيْبَةَ بن هَاشِمِ وَاسْمُ هَاشِمِ: عُمَرُو بن عَبْدِ مَنَافِ وَاسْمُ عَبْدِ مَنَافِ: المغِيْرَةُ بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْرِ بن مالِكِ بن النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ واسمُ مُدْرِكَةَ: عَامِرِ بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدِّ بن عَدْنَانَ بن أُدَّ ويقالُ أُدَدَ بن مُقَوِّمِ بن نَاحُوْر بن تَيْرَح بن يَعْرُبَ بن يَشْجُبَ بن نَابَت بن إِسْمَاعِيْلَ بن إِبْرَاهِيْمَ خليلُ الرَّحمنِ بن تَارِح وهوَ آزَر بن نَاحُوْر بن سَارُوْغ بن رَاعُو بن فَالِخ بن عَيْبَر بن شَالِخ بن أَرْفَخْشَذ بن سَام بن نُوْح بن لَمَك بن مَتُّو شَلَخ بن أَخْنُوْخ وَهو إِدْرِيْسُ النَّبِي وَكانَ أَوَّلَ بَنِي آدَمَ أُعْطِي النُّبُوَّةَ وَخَطَّ بِالْقَلَمِ ابن يَرْد بن مَهْلَيِل بن قَيْنَن بن يَانِش بن شِيْث بن آدَمَ عليه السلام
Banyak orang terlahir dari keluarga biasa-biasa tapi hidupnya sukses. Sebaliknya, tidak sedikit yang lahir dari keluarga terhormat tapi nasib hidupnya biasa-biasa saja.
Memiliki garis keturunan terhormat tetap harus diimbangi kapasitas personal yang baik, agar seseorang tidak terlalu membanggakan latar belakang keluarga, tapi mengabaikan kualitas diri. Dalam hal ini kita bisa mencontoh Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam.
Meski terlahir dari nasab mulia, bahkan dijamin kesuciannya dari Nabi Adam, tidak membuat Nabi Muhammad menjadi pribadi yang angkuh. Justru beliau membuktikan dirinya sebagai sosok yang tangguh tanpa selalu mengandalkan latar belakang keluarga.
Dalam satu Hadis, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
إِنَّ اللهَ اصْطَفَي كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَي قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَي هَاشِمًا مِنْ قُرَيْشٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
Artinya: "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, memilih Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim." (HR Imam Muslim)
Kemudian, kemuliaan nasab Nabi Muhammad juga semakin diakui ketika sejumlah sejarawan mencatat silsilahnya secara runtut dari sang ayah, Abdullah, sampai kepada Nabi Adam 'alaihissalam.
Sejarawan ternama Imam Ibnu Hiysam melaporkan nasab lengkap Rasulullah sebagai berikut:
هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: شَيْبَةَ بن هَاشِمِ وَاسْمُ هَاشِمِ: عُمَرُو بن عَبْدِ مَنَافِ وَاسْمُ عَبْدِ مَنَافِ: المغِيْرَةُ بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْرِ بن مالِكِ بن النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ واسمُ مُدْرِكَةَ: عَامِرِ بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدِّ بن عَدْنَانَ بن أُدَّ ويقالُ أُدَدَ بن مُقَوِّمِ بن نَاحُوْر بن تَيْرَح بن يَعْرُبَ بن يَشْجُبَ بن نَابَت بن إِسْمَاعِيْلَ بن إِبْرَاهِيْمَ خليلُ الرَّحمنِ بن تَارِح وهوَ آزَر بن نَاحُوْر بن سَارُوْغ بن رَاعُو بن فَالِخ بن عَيْبَر بن شَالِخ بن أَرْفَخْشَذ بن سَام بن نُوْح بن لَمَك بن مَتُّو شَلَخ بن أَخْنُوْخ وَهو إِدْرِيْسُ النَّبِي وَكانَ أَوَّلَ بَنِي آدَمَ أُعْطِي النُّبُوَّةَ وَخَطَّ بِالْقَلَمِ ابن يَرْد بن مَهْلَيِل بن قَيْنَن بن يَانِش بن شِيْث بن آدَمَ عليه السلام
Lihat Juga :