6 Perilaku yang Merusak Pahala Amal, Nomor 5 Suka Panjang Angan-angan

Selasa, 13 September 2022 - 10:52 WIB
Ketiga, berkumpul dan bergaul dengan orang-orang saleh.

Keempat, memperbanyak puasa.

Kelima, memperbanyak berzikir mengingat dan menyebut-nyebut nama Allah subhanahu wata’ala.

3. Cinta dunia

Menurut Ustadz Nofriyanto, sudah selayaknya seorang muslim menjadikan dunia hanya sebagai wasilah bagi kesuksesan akhiratnya. Bukan sebaliknya, menjadikan dunia satu-satunya tujuan hidup. Orang yang orientasi hidupnya dunia, dunia dan dunia saja, akan mudah terjatuh ke dalam sikap terlalu mencintai dunia dengan berlebihan melebihi batas kewajaran.

Selain itu, ia akan lebih mudah melalaikan kehidupan akhiratnya dan kewajiban-kewajiban agamanya. Terdapat beberapa nasihat dari baginda Nabi kepada kita, umatnya, agar tidak terjerumus kepada perbuatan berlebihan mencintai dunia.

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ


“Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan, tetapi aku khawatir andai dunia ditaklukkan oleh kamu sekalian seperti ditaklukkan oleh orang-orang sebelum kamu. Akibatnya, kamu berlomba mencari dunia seperti mereka berlomba dan dunia pun menghancurkan kamu seperti menghancurkan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 2988; HR. Muslim no. 2961)

Dan hadis lainnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah cinta dunia itu menguasai hati seseorang, kecuali dia akan diuji dengan tiga hal, yakni cita-cita tak berujung, kemiskinan yang tak akan mencapai kecukupan, dan kesibukan yang tidak lepas dari kelelahan.” (HR. Ad-Dailami).

4. Tidak memiliki rasa malu

Sesungguhnya, terdapat ikatan erat antara rasa malu dengan keimanan. Keduanya tak ubahnya seperti dua sisi mata uang, tak bisa dipisahkan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ وَالْإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْآخَرُ


“Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna.” (HR. Al-Hakim no. 66. Hadis sahih)

Apabila manusia kehilangan rasa malu atau kurang rasa malunya, maka berbagai kerusakan akan terjadi di muka bumi ini. Contohnya saja dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani; penyebab utama rusaknya tatanan sosial antara lain karena hilangnya rasa malu.

Baca juga: Inilah Penyebab Pahala Amal Saleh Bisa Terhapus

Tidak malu berbuat keji, tidak malu berbuat curang dan culas, tidak malu berbuat aniaya, tidak malu berbuat keburukan. Bahkan, tidak malu mempertontonkan kenistaan dan pelbagai kefasikan. Apa penyebab semua hal tersebut? Tidak lain dan tidak bukan karena sedikit bahkan karena telah hilang dan sirnanya rasa malu dari diri pelakunya.

Padahal bagi seorang hamba, rasa malu ibarat tameng, sekaligus benteng dari melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Seseorang yang punya rasa malu, akan senantiasa berhati-hati, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Hidupnya selalu penuh dengan pertimbangan yang matang sebelum berbuat sesuatu.

Dan yang paling penting, rasa malu akan senantiasa mendatangkan kebaikan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sifat malu seluruhnya merupakan kebaikan.” (HR. Muslim no. 37)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!