Profil Keluarga dan Anak-Anak Gus Baha: Hidup Sederhana Jauh dari Kemewahan

Senin, 26 September 2022 - 16:17 WIB
Beberapa tahun di Sleman, akhirnya Gus Baha dan istri yang tadinya di Sleman harus kembali ke Pondok Pesantren LP3IA Narukan. Hal itu karena ayahanda Gus Baha, KH Nursali wafat, dan Gus Baha harus melanjutkan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren LP3IA Narukan.

Baca juga: Penjelasan Gus Baha Tentang Hukum Merokok

Sekolah Formal

Pada mulanya, Gus Baha belajar Al-Qur'an kepada ayahandanya tentang menghafal, tajwid, dan qiraah secara benar. Dalam perjalanannya, KH Nursalim menitipkan Gus Baha kepada seorang ulama kharismatik KH Maimun Zubair untuk belajar di Pondok Pesantren Al-Anwar.

Gus Baha tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah formal, ia hanya belajar dari guru ke guru para kiai di Pondok Pesantren.

Ayah Gus Baha, KH Nursalim, merupakan murid dari KH Arwani al-Hafidz Kudus dan KH Abdullah Salam al-Hafidz Kajen Pati.

KH Nursalim tercatat sebagai pelopor gerakan semaan al-Qur’an secara keliling dari satu tempat ke tempat lain. Gerakan ini dilakukan bersama Gus Miek (KH Hamim Jazuli).

Pada awalnya, gerakan tersebut diberi nama Jantiko (Jamaah Anti Koler), kemudian mengalami perubahan menjadi Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah lagi menjadi gerakan Dzikrul Ghafilin.

Dari silsilah keluarga ayah, Gus Baha merupakan generasi ke empat ulama-ulama ahli Al-Qur'an. Sedangkan dari silsilah keluarga ibu, Gus Baha menjadi bagian dari keluarga besar ulama Lasem, dari Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.

Baca juga: Gus Baha: Kalau Masih Miskin Berbahagialah!
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!