Penyakit Hati dan Obat Penawarnya

Selasa, 07 Juli 2020 - 05:05 WIB
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS Yunus : 57)

kemudian firman Allah di surah Al-Isra ayat 82 :

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS Al-Isra : 82)

Dan Allah berfirman dalam surah Fushilat ayat 44 :

وَلَوْ جَعَلْنَٰهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا۟ لَوْلَا فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥٓ ۖ ءَا۬عْجَمِىٌّ وَعَرَبِىٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ ۖ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ

"Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur'an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al-Qur'an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (QS Fushilat : 44)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabada :

"Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka belum mengetahui, karena sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya."

Dari apa yang disebutkan Allah pada ayat-ayat di atas berupa penyakit hati dan obatnya sama kedudukannya dengan apa yang disebutkan-Nya berupa kematian, kehidupan, pendengaran, penglihatan, pemahaman, kebutaan, ketulian dan kebisuannya.

Kemudian maksud bertanya pada hadis Rasulullah di atas adalah bertanya untuk mengetahui tentang penyakit hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, bahwa penyakit tersebut ada dua macam: Pertama, rusaknya rasa. Kedua, rusaknya gerak yang bersifat alami serta yang berhubungan dengannya berupa keinginan. (Baca juga : Meninggalkan Maksiat Adalah Jalan Menuju Ma'rifatullah )

Kehilangan salah satu atau keduanya akan mengakibatkan timbulnya penyakit dan penderitaan. Apabila keduanya sehat maka akan menimbulkan kegembiraan dan kesenangan. Oleh sebab itu nikmat -secara umum- yang diterima oleh manusia merupakan pemberian dari Allah yang pada akhirmya akan dipertanyakan oleh Allah. Seperti dalam firman Allah :

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. At-Takatsur: 8).

Ayat ini, yaitu ditanya tentang apakah manusia itu bersyukur atau tidak. Maka dari itu, penyebab dari rasa gembira adalah karena adanya sesuatu yang menyenangkan, sedangkan penyebab dari penderitaan itu adalah karena merasakan sesuatu yang kontradiksi. Kegembiraan dan penderitaan bukanlah rasa atau sesuatu yang dapat dicapai tetapi keduanya merupakan hasil dan akibat serta tujuan. Kegembiraan dan penderitaan bukanlah rasa atau sesuatu yang dapat dicapai tetapi keduanya merupakan hasil dan akibat serta tujuan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!