Begini Asal Mula Polemik Mukmin dan Kafir
Rabu, 26 Oktober 2022 - 05:15 WIB
Dajjal kafir: Polemik istilah mukmin dan kafir diapungkan oleh kaum Khawarij. Foto/Ilustrasi: Ist
Asal mula polemik istilah mukmin dan kafir pertama kali diapungkan oleh kaum Khawarij pasca-terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan . Polemik ini beriringan dengan memunculkan protes keras terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib , selaku Khalifah keempat, karena tidak mampu menemukan siapa pembunuh Usman bin Affan.
M. Yunan Nasution (1913-1996) dalam tulisannya berjudul "Implikasi Sosial-Keagamaan Muhammad sebagai Penutup Utusan Allah" menjelaskan polemik masalah siapa yang disebut mukmin dan siapa yang disebut kafir terjadi karena al-Qur'an dan hadis Nabi tidak memberikan kriteria-kriteria tentang mukmin dan kufur.
Berawal dari terbunuhnya khalifah ketiga, Usman bin Affan, yang kemudian memunculkan protes keras terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, selaku khalifah keempat, karena tidak mampu menemukan siapa pembunuh Usman bin Affan.
"Malah lebih ekstrem lagi, Ali bin Abi Thalib dituduh berkolaborasi dengan para pemberontak yang menggulingkan Usman bin Affan," ujar Yunan Nasution dalam tulisan yang dihimpun dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" (Ed. Budhy Munawar-Rachman) tersebut.
Baca juga: Bernarkah Khalifah Utsman bin Affan Dikorbankan Bani Umayyah?
Persengketaan itu kemudian diselesaikan dengan jalan tahkim antara Ali bin Abi Thalib dengan wakilnya Abu Musa al-Asy'ari dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan dengan wakilnya Amr bin 'Ash.
Jalan tahkim yang dipergunakan menyelesaikan persoalan tersebut ditolak oleh sebagian dari pasukan Ali yang kemudian dikenal dengan nama Khawarij.
Menurut mereka, tahkim itu adalah tradisi jahiliyah, bukan penyelesaian dengan jalan berpedoman kapada apa yang diturunkan oleh Allah, yakni al-Qur'an.
Maka dengan membawa ayat 44 surat al-Maidah , "Siapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, mereka adalah orang kafir."
Menurut Yunan Nasution, dengan dasar pandangan itu Khawarij kemudian memutuskan bahwa Ali, Mu'awiyah, Amr dan Abu Musa sudah kafir.
M. Yunan Nasution (1913-1996) dalam tulisannya berjudul "Implikasi Sosial-Keagamaan Muhammad sebagai Penutup Utusan Allah" menjelaskan polemik masalah siapa yang disebut mukmin dan siapa yang disebut kafir terjadi karena al-Qur'an dan hadis Nabi tidak memberikan kriteria-kriteria tentang mukmin dan kufur.
Berawal dari terbunuhnya khalifah ketiga, Usman bin Affan, yang kemudian memunculkan protes keras terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, selaku khalifah keempat, karena tidak mampu menemukan siapa pembunuh Usman bin Affan.
"Malah lebih ekstrem lagi, Ali bin Abi Thalib dituduh berkolaborasi dengan para pemberontak yang menggulingkan Usman bin Affan," ujar Yunan Nasution dalam tulisan yang dihimpun dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" (Ed. Budhy Munawar-Rachman) tersebut.
Baca juga: Bernarkah Khalifah Utsman bin Affan Dikorbankan Bani Umayyah?
Persengketaan itu kemudian diselesaikan dengan jalan tahkim antara Ali bin Abi Thalib dengan wakilnya Abu Musa al-Asy'ari dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan dengan wakilnya Amr bin 'Ash.
Jalan tahkim yang dipergunakan menyelesaikan persoalan tersebut ditolak oleh sebagian dari pasukan Ali yang kemudian dikenal dengan nama Khawarij.
Menurut mereka, tahkim itu adalah tradisi jahiliyah, bukan penyelesaian dengan jalan berpedoman kapada apa yang diturunkan oleh Allah, yakni al-Qur'an.
Maka dengan membawa ayat 44 surat al-Maidah , "Siapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, mereka adalah orang kafir."
Menurut Yunan Nasution, dengan dasar pandangan itu Khawarij kemudian memutuskan bahwa Ali, Mu'awiyah, Amr dan Abu Musa sudah kafir.
Lihat Juga :