Kisah Tujuh Bersaudara yang Mengemban Tugas dari sang Ayah

Senin, 31 Oktober 2022 - 08:18 WIB
Dua bersaudara lainnya, melihat mereka, tidak puas kalau mereka sudah berkembang melalui pengalaman mereka, dan tidak ingin menandinginya.

Tiga bersaudara yang pergi ke tempat lain, belum kembali ke tempat yang ditentukan.

Bagi keempatnya, akan menjadi 'entah kapan', sebelum mereka benar-benar sadar satu-satunya alat kelangsungan hidup dalam pengasingan mereka --kedangkalan yang mereka anggap penting-- adalah rintangan bagi pemahaman mereka. Semuanya masih jauh dari pengetahuan.

Baca juga: Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Pelopor Tarekat

Tradisi Chisytiyah

Kisah tersebut dinukil Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Way of the Sufi". Idries Shah menyebut kisah tersebut adalah salah satu materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah .

Lalu, siapa sejatinya Chisytiyah itu? Menurut Idries Shah, Khwaja ('Guru') Abu Ishaq Chisyti, 'orang Syria', lahir di awal abad ke-10. Ia keturunan Nabi Muhammad SAW dan dinyatakan sebagai 'keturunan spritual' ajaran-ajaran batiniah Keluarga (Bani) Hasyim.

Pengikut-pengikutnya berkembang dan berasal dari "garis para guru", yang kemudian dikenal menjadi Naqsyabandiyah ('Orang-orang Bertujuan').

Komunitas Chisytiyah ini, berawal di Chisyt, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka. Kaum darwis pengelana dari tarekat ini, dikenal sebagai Chist atau Chisht.

Mereka akan memasuki sebuah kota dan meramaikan suasana dengan seruling dan genderang, untuk mengumpulkan orang-orang sebelum menceritakan dongeng atau legenda, sebuah permulaan yang penting.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!