Fatima al-Fihri, Penggagas Pertama Terbentuknya Universitas
Rabu, 08 Juli 2020 - 14:12 WIB
Ketika Idris II menjadikan Fes sebagai pusat kota Maroko masa depan kesejahteraan penduduk kota sudah dapat dipastikan. Lokasi Fes, sebagaimana Qairouan, adalah lokasi yang ideal bagi perdagangan. Fes berada di dataran yang menjadi perlintasan antara daerah barat menuju Samudra Atlantik, dan daerah Utara menuju Laut Mediterania. Kota Fes dibangun di celah yang membentang melalui Pegunungan Atlas Tengah.
Ayah Fatimah—yang hanya dalam waktu 10 tahun menetap di Ibu Kota baru tersebut, telah berhasil sukses kembali, dan saat dia meninggal, Fatimah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang sangat besar.
Fatimah bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan dengan kekayaan baru ini? Ayah Fatimah telah membesarkan Fatimah—dan saudara perempuannya yang bernama Mariam—untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Fatimah dan Mariam memutuskan untuk menggunakan harta mereka untuk membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat. Kompleks ini kemudian dikenal sebagai masjid dan sekolah Qairouan karena dibangun di bagian Fes di mana sebagian besar pengungsi dari Qairouan, Tunisia, menetap.
Awalnya, Qairouan memiliki fungsi keagamaan yang sama dengan masjid dan madrasah-madrasah lainnya, yaitu pengajaran tentang ilmu-ilmu tradisional Islam yang menjadi landasan ajaran Islam di mana pun. Tiga bidang studi utama bagi siapa saja yang sedang mempelajari ajaran Islam adalah sebagai berikut ini: Studi Ilmu Tafsir Al-Quran, Studi Ilmu Hadis, dan Studi Ilmu Fiqh.
Namun, pada perkembangannya sekolah Qairouan juga menawarkan pelajaran non-Islam sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, termasuk matematika, astronomi, astrologi, fisika, puisi, dan sastra. Inovasi ini merupakan hal yang penting bagi Qairouan untuk menjadi lebih dari sekedar sekolah keagamaan. Hal itu juga yang merupakan titik balik dalam sejarah Universitas Qairouan—dan untuk masa depan pendidikan tinggi di seluruh dunia.
Pada perkembangan lebih lanjut, pendidikan di Qairouan tidak lagi mewajibkan pelajaran agama, dalam artian non-muslim pun bisa saja sekolah di situ. Mata pelajaran pendidikan tingkat tinggi sekarang secara teknis terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar. Pada akhirnya, yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Qairouan terbukti menjadi momen revolusioner bagi masyarakat manusia, berkembang melampaui zamannya, dan tidak terbatas pada penduduk Afrika Utara saja, tapi merambah ke kalangan muslim Timur Tengah yang lebih luas. Nama Qairouan pun akhirnya berganti dengan istilah Qarawiyyin dan menjadi nama universitas Fatima tersebut. (Baca juga : Rabi'ah Al-‘Adawiyah, Sang Guru Tokoh -Tokoh Sufi Dunia )
Kini, lebih dari 1.200 tahun berlalu sejak berdirinya pada tahun 859, Universitas Al-Qarawiyyin terus melanjutkan perannya untuk meluluskan mahasiswa dalam berbagai ilmu agama dan fisik hingga hari ini, dan menjadi pusat warisan Fatima Al-Fihri, dan terus merepresentasikan perjuangan wanita Muslim dalam mempelopori perkembangan pendidikan dunia.
Wallahu A'lam
Ayah Fatimah—yang hanya dalam waktu 10 tahun menetap di Ibu Kota baru tersebut, telah berhasil sukses kembali, dan saat dia meninggal, Fatimah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang sangat besar.
Fatimah bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan dengan kekayaan baru ini? Ayah Fatimah telah membesarkan Fatimah—dan saudara perempuannya yang bernama Mariam—untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Fatimah dan Mariam memutuskan untuk menggunakan harta mereka untuk membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat. Kompleks ini kemudian dikenal sebagai masjid dan sekolah Qairouan karena dibangun di bagian Fes di mana sebagian besar pengungsi dari Qairouan, Tunisia, menetap.
Awalnya, Qairouan memiliki fungsi keagamaan yang sama dengan masjid dan madrasah-madrasah lainnya, yaitu pengajaran tentang ilmu-ilmu tradisional Islam yang menjadi landasan ajaran Islam di mana pun. Tiga bidang studi utama bagi siapa saja yang sedang mempelajari ajaran Islam adalah sebagai berikut ini: Studi Ilmu Tafsir Al-Quran, Studi Ilmu Hadis, dan Studi Ilmu Fiqh.
Namun, pada perkembangannya sekolah Qairouan juga menawarkan pelajaran non-Islam sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, termasuk matematika, astronomi, astrologi, fisika, puisi, dan sastra. Inovasi ini merupakan hal yang penting bagi Qairouan untuk menjadi lebih dari sekedar sekolah keagamaan. Hal itu juga yang merupakan titik balik dalam sejarah Universitas Qairouan—dan untuk masa depan pendidikan tinggi di seluruh dunia.
Pada perkembangan lebih lanjut, pendidikan di Qairouan tidak lagi mewajibkan pelajaran agama, dalam artian non-muslim pun bisa saja sekolah di situ. Mata pelajaran pendidikan tingkat tinggi sekarang secara teknis terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar. Pada akhirnya, yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Qairouan terbukti menjadi momen revolusioner bagi masyarakat manusia, berkembang melampaui zamannya, dan tidak terbatas pada penduduk Afrika Utara saja, tapi merambah ke kalangan muslim Timur Tengah yang lebih luas. Nama Qairouan pun akhirnya berganti dengan istilah Qarawiyyin dan menjadi nama universitas Fatima tersebut. (Baca juga : Rabi'ah Al-‘Adawiyah, Sang Guru Tokoh -Tokoh Sufi Dunia )
Kini, lebih dari 1.200 tahun berlalu sejak berdirinya pada tahun 859, Universitas Al-Qarawiyyin terus melanjutkan perannya untuk meluluskan mahasiswa dalam berbagai ilmu agama dan fisik hingga hari ini, dan menjadi pusat warisan Fatima Al-Fihri, dan terus merepresentasikan perjuangan wanita Muslim dalam mempelopori perkembangan pendidikan dunia.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :