Banjir Besar Era Nabi Nuh dan Misteri Piramida di Mesir
Selasa, 28 April 2020 - 03:02 WIB
Di sanalah pemiliknya bersemayam dengan membawa lembaran yang berisikan tentang nama, biografi, dan lamanya kerajaannya. Mereka mengatakan bahwa di dalam piramida ini ada sebuah tempat yang bisa tembus ke padang pasir Fayum yang berjarak dari piramida sekitar 20 hari perjalanan.
Kisah Masuk Piramida
Ada sebuah kisah dari Syihab al-Hijazi. Dia mengatakan, “Kami berangkat dari Universitas al-Azhar sebanyak 11 orang dalam rangka meneliti piramida. Kami membawa beberapa kabel yang panjang disimpan di atas keledai. Ketika sampai ke tempat piramida, kami memasuki sebuah yang besar dan terbuka.
Kami berkumpul di dekat sumur yang ada di sana. Salah seorang di antara kami yang mengaku berani mau mencoba menuruni sumur itu. Kami ikat pinggang orang itu dengan kabel yang kami bawa, kemudian kami menurunkannya ke dalam sumur. Semua kabel yang ada telah kami ulurkan, tetapi orang itu belum mencapai dasar sumur.
Akhirnya, kabel itu kami sambung dengan kain serban kami yang tipis. Tiba-tiba kain itu terputus dan orang itu pun melayang ke dasar sumur. Kami tidak mengetahui bagaimana keberadaannya, sampai akhirnya kami pulang dengan perasaan sedih atas nasib orang itu. Kami pun merasa takut. Lalu kami masuk ke Kairo dengan sembunyi-sembunyi, kami tidak memberitahu siapa pun tentang keadaan kami.
Seminggu setelah kejadian itu, kami berada di universitas, tiba-tiba kami melihat sahabat kami yang terjatuh ke dalam sumur itu.
Dia mendatangi kami dalam keadaan yang sangat lemah. Setelah memasuki pintu universitas dan mendekati kami, dia terjatuh dan pingsan di hadapan kami. Dan sesaat beberapa lama setelah dia sadar dari pingsannya, kami memintanya menceritakan apa yang terjadi setelah dia terjatuh ke dalam sumur.
Dia berkata, “Ketika jatuh, saya mendarat di atas sebuah ruangan yang memberikan saya rasa nyaman. Kemudian saya merobekkan sesuatu dengan senjata yang saya bawa; lalu saya menyalakan lilin dan saya berjalan di sumur itu.
Saya melihat banyak sekali kelelawar dan beberapa sosok orang yang sangat tinggi sedang bersandar dengan tongkat. Saya mendekati salah seorang dari mereka kemudian saya dorong, tiba-tiba sosok tersebut ambruk ke tanah menjadi debu yang berhamburan.
Saya ambil tongkat dari tangannya, kemudian saya terus berjalan. Tiba-tiba saya berada di depan pintu sebuah lorong. Saya berjalan menelusuri lorong itu dan ketika itu saya bertambah takut dan waswas. Di sana, saya menemukan tulang-belulang yang membusuk dan tengkorak kepala yang ukurannya sebesar semangka besar.
Ketika saya sedang berjalan di lorong tersebut, tiba-tiba kaki saya menginjak sesuatu. Saya tilik-tilik sesuatu itu, ternyata seekor musang. Saya ikuti musang itu hingga ia keluar melalui sebuah lubang. Dari lubang itu saya melihat cahaya dunia. Saya ingin sekali keluar dari lorong itu, tetapi saya tidak mampu.
Maka, dengan tongkat yang saya bawa, saya gali lubang itu hingga lubangnya sedikit membesar. Lalu saya keluar dari sana. Setelah saya melihat diri saya berada di permukaan bumi, saya terjatuh pingsan. Saya tidak tahu berada di negeri mana. Tiba-tiba di depan saya ada seseorang yang berkata, ‘Hai bocah, bangunlah! Kafilah ini akan berangkat dan meninggalkanmu.’
Saya bertanya kepadanya, ‘Berada di manakah saya ini?’ Orang itu menjawab, ‘Engkau berada di padang sahara Fayum.’ Kemudian saya berdiri dan ikut bersama rombongan itu. Ketika saya keluar dari lubang itu, saya mendapati tongkat yang saya bawa adalah emas yang sangat indah.
Dan ketika saya pingsan tongkat itu hilang dan tempat yang berlubang tersebut menghilang dari pandangan saya. Saya heran akan hal itu, dan tiba-tiba ada beberapa kafilah (rombongan) yang berkata, ‘Engkau jangan berharap tongkat itu bisa kembali kepadamu.’ Akhirnya, saya ikut bersama rombongan tersebut dan tibalah saya di Kairo.’”
Penjaga Piramida
Kisah Masuk Piramida
Ada sebuah kisah dari Syihab al-Hijazi. Dia mengatakan, “Kami berangkat dari Universitas al-Azhar sebanyak 11 orang dalam rangka meneliti piramida. Kami membawa beberapa kabel yang panjang disimpan di atas keledai. Ketika sampai ke tempat piramida, kami memasuki sebuah yang besar dan terbuka.
Kami berkumpul di dekat sumur yang ada di sana. Salah seorang di antara kami yang mengaku berani mau mencoba menuruni sumur itu. Kami ikat pinggang orang itu dengan kabel yang kami bawa, kemudian kami menurunkannya ke dalam sumur. Semua kabel yang ada telah kami ulurkan, tetapi orang itu belum mencapai dasar sumur.
Akhirnya, kabel itu kami sambung dengan kain serban kami yang tipis. Tiba-tiba kain itu terputus dan orang itu pun melayang ke dasar sumur. Kami tidak mengetahui bagaimana keberadaannya, sampai akhirnya kami pulang dengan perasaan sedih atas nasib orang itu. Kami pun merasa takut. Lalu kami masuk ke Kairo dengan sembunyi-sembunyi, kami tidak memberitahu siapa pun tentang keadaan kami.
Seminggu setelah kejadian itu, kami berada di universitas, tiba-tiba kami melihat sahabat kami yang terjatuh ke dalam sumur itu.
Dia mendatangi kami dalam keadaan yang sangat lemah. Setelah memasuki pintu universitas dan mendekati kami, dia terjatuh dan pingsan di hadapan kami. Dan sesaat beberapa lama setelah dia sadar dari pingsannya, kami memintanya menceritakan apa yang terjadi setelah dia terjatuh ke dalam sumur.
Dia berkata, “Ketika jatuh, saya mendarat di atas sebuah ruangan yang memberikan saya rasa nyaman. Kemudian saya merobekkan sesuatu dengan senjata yang saya bawa; lalu saya menyalakan lilin dan saya berjalan di sumur itu.
Saya melihat banyak sekali kelelawar dan beberapa sosok orang yang sangat tinggi sedang bersandar dengan tongkat. Saya mendekati salah seorang dari mereka kemudian saya dorong, tiba-tiba sosok tersebut ambruk ke tanah menjadi debu yang berhamburan.
Saya ambil tongkat dari tangannya, kemudian saya terus berjalan. Tiba-tiba saya berada di depan pintu sebuah lorong. Saya berjalan menelusuri lorong itu dan ketika itu saya bertambah takut dan waswas. Di sana, saya menemukan tulang-belulang yang membusuk dan tengkorak kepala yang ukurannya sebesar semangka besar.
Ketika saya sedang berjalan di lorong tersebut, tiba-tiba kaki saya menginjak sesuatu. Saya tilik-tilik sesuatu itu, ternyata seekor musang. Saya ikuti musang itu hingga ia keluar melalui sebuah lubang. Dari lubang itu saya melihat cahaya dunia. Saya ingin sekali keluar dari lorong itu, tetapi saya tidak mampu.
Maka, dengan tongkat yang saya bawa, saya gali lubang itu hingga lubangnya sedikit membesar. Lalu saya keluar dari sana. Setelah saya melihat diri saya berada di permukaan bumi, saya terjatuh pingsan. Saya tidak tahu berada di negeri mana. Tiba-tiba di depan saya ada seseorang yang berkata, ‘Hai bocah, bangunlah! Kafilah ini akan berangkat dan meninggalkanmu.’
Saya bertanya kepadanya, ‘Berada di manakah saya ini?’ Orang itu menjawab, ‘Engkau berada di padang sahara Fayum.’ Kemudian saya berdiri dan ikut bersama rombongan itu. Ketika saya keluar dari lubang itu, saya mendapati tongkat yang saya bawa adalah emas yang sangat indah.
Dan ketika saya pingsan tongkat itu hilang dan tempat yang berlubang tersebut menghilang dari pandangan saya. Saya heran akan hal itu, dan tiba-tiba ada beberapa kafilah (rombongan) yang berkata, ‘Engkau jangan berharap tongkat itu bisa kembali kepadamu.’ Akhirnya, saya ikut bersama rombongan tersebut dan tibalah saya di Kairo.’”
Penjaga Piramida
Lihat Juga :